Halaman Muka | Kontak Kami | Tentang Kami | Iklan  | Arsip  Edisi Sabtu, 21 Januari 2017  
Politik dan Keamanan
Ekonomi dan Keuangan
Metropolitan
Opini
Agama dan Pendidikan
Nusantara
Olah Raga
Luar Negeri
Assalamu'alaikum
Derap TNI-POLRI
Hallo Bogor
 
   
 
Login
 
      
 
Password
 
 
 
   
Dunia Tasawuf
Forum Berbangsa dan Bernegara
Swadaya Mandiri
Forum Mahasiswa
Lingkaran Hidup
Pemahaman Keagamaan
Otonomi Daerah
Lemb Anak Indonesia
Parlementaria
Budaya
Kesehatan
Pariwisata
Hiburan
Pelita Hati
..
..
NILAI TUKAR RUPIAH
Source : www.klikbca.com
 JualBeli
USD 9200.00  9100.00  
SGD 6325.65  6236.65  
HKD 1187.90  1173.10  
CHF 7874.45  7769.45  
GBP 18868.05  18609.05  
AUD 8331.10  8203.10  
JPY 80.82  79.36  
SEK 1437.75  1407.65  
DKK 1776.20  1737.00  
CAD 9530.55  9376.55  
EUR 13145.74  12975.74  
SAR 2466.00  2426.00  
25-Okt-2007 / 15:41 WIB
 
 
 
GUBERNUR AHOK BIKIN KEJUTAN
Laporan: Prof Dr Haryono Suyono

[Swadaya Mandiri]

Pada hari Sabtu yang cerah di akhir bulan Mei 2016, sehari sebelum hari Lanjut Usia Nasional tanggal 29 Mei 2016, Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama, terkenal dengan sebutan simpatik Gubernur Ahok, memastikan kepada Pengurus Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial (DNIKS), khususnya Panitia Gerakan Aksesibilitas Umum Nasional (GAUN), kesediaan beliau meresmikan Portal S, suatu penghalang jalan ke trotoar di pinggir jalan yang biasanya ditutup dengan pancangan besi agar sepeda motor tidak masuk ke dalamnya, dengan Portal baru berbentuk huruf S dimana sepeda motor tidak dapat masuk, tetapi kursi roda penyandang disabilitas dan penduduk lansia yang diantar keluarganya, dapat masuk dan menikmati trotoar di pinggir jalan yang aman. Beiau hadir dengan wajah cerah, santai dan selama mengikuti acara santai di pinggir jalan di depan RSCM tidak kelihatan canggung biarpun “upacara resmi” itu digelar sangat sederhana dengan sekedar dipasang tenda kecil di pinggir jalan dan kursi sederhana secukupnya tanpa “kursi khusus” untuk Gubernur, Walikota atau pejabat Dinas lain yang menyertai rombongan Gubernur pagi itu. Upacara resmi yang jauh dari standar serimonial yang memakan anggaran besar dengan hiasan bunga yang bertaburan itu berjalan lancar, meriah dan mengesankan dengan liputan media yang membesarkan hati.

Gerakan yang awalnya di ilhami oleh kesediaan pemerintah sejak tahun 2000 untuk memberikan fasilitas yang makin baik untuk penduduk disabilitas itu, untuk waktu lama tinggal janji hampir tidak ada wujudnya. Di negara tetangga, tanda-tanda jalur kuning di trotoar sebagai petunjuk bagi penyandang disabilitas jalur aman telah lama dipasang di hampir setiap jalan umum, tetapi tidak ada satupun yang diterapkan di Indonesia. Pada awal tahun ini DNIKS membentuk Panitia Khusus yang diketuai oleh Ibu Dra. Ariani, seorang penyandang disabilitas tetapi memiliki otak dan energi cemerlang yang segera setelah diberi kepercayaan, langsung menyusun strategi dan bergerak cepat. Pada tingkat awal, bersamaan dengan upaya DNIKS memperjuangkan UU Penyandang Disabiltas, gerakan ini yang dinamakan gerakan yang mendorong fasilitas umum secara nasional dengan titik awal di DKI Jakarta, segera menyusun langkah-langkah strategis. Setelah segala sesuatunya matang, para aktifis dimintakan waktu menghadap Gubernur DKI Jakarta yang oleh banyak orang diberi label sebagai Gebernur yang galak. Tetapi berhadapan dengan Pengurus DNIKS yang disertai puluhan penyandang disabilitas, Gubernur yang diberi “label galak” itu ternyata berhati mulia.

Permintaan untuk memberikan fasilitas bagi disabilitas bukan hanya disetujui, tetapi DNIKS ditantang untuk memberikan design dan bekerja sama dengan Dinas Pekerjaan Umum Daerah memilih lokasi dimana Portal yang diusulkan akan dipasang sebagai contoh agar segera diperbanyak oleh Dinas Provinsi DKI Jakarta. Tidak tinggal diam, DNIKS mencari sponsor guna membuat model dan bekerja keras menghubungi beberapa menteri guna mendapatkan dukungan politik yang lebih meyakinkan. Beberapa pejabat tinggi negara antara lain Menko Maritim, Menteri PUPR dan Menteri Sosial diminta dukungan politiknya untuk mengembangkan model yang kelihatannya sepele tetapi bagi penyandang disabilitas dan penduduk lanjut usia merupakan kebutuhan yang sangat vital. Model Portal itu harus menggantikan besi-besi galak yang menghalangi jalan trotoar karena takut diserbu sepeda motor yang menjamur dewasa ini dengan portal baru yang bisa mencegah sepeda motor untuk memonopoli jalur jalan penduduk yang aman, tetapi tidak menghalangai lewatnya kursi roda atau pejalan kaki yang berjalan lamban karena lanjut usia.

Tokoh-tokoh peduli seperti Bapak Hotbonar, Sri Utami, Bapak Ridwan, Ibu Yanti, Bapak Siswadi, Rohadi Hariyanto, Tantyo Sudharmano, Niken Dhamayanti, Heru, Endang, Canti, Tiwi dan banyak lagi yang tidak terhitung jumlahnya menyertai Ibu Ariyani yang penuh semangat mematangkan gagasan yang didukung Gubernur DKI tersebut. Banyak kegiatan dilakukan termasuk yang “agak mewah” menumpang Saudara-saudara yang bertanding golf dengan memberi kesempatan pemenangnya menyumbangkan hadiahnya untuk gerakan GAUN yang memperjuangkan fasilitas yang makin inklusif untuk semua anak bangsa. Gerakan gotong royong memperjuangkan fasilitas itu mendapat dukungan dari Kementerian dan Dinas Provinsi, tetapi harus diakui relatif lamban karena bersaing dengan prioritas lain yang kelihatan lebih mendesak.

Gerakan PBB sebagai kelanjutan dari MDGs, yaitu Sustainable Development memberi pesan yang sangat jelas bahwa dunia harus makin memperlihatkan pendekatan yang inklusif untuk semua warganya, memaksa setiap negara memperbaiki infrastrukturnya agar makin nyaman dan sejuk bagi semua warga negaranya. Perintah PBB itu mengharuskan setiap Kepala Negara secara moral memberikan penghormatan yang tinggi kepada setiap warganya termasuk warga penyandang disabilitas dari segala jenis. Merespon pesan itu, dalam kesempatan yang indah, Gubernur DKI Jakarta Ahok menjanjikan untuk secara bertahap memperbaiki fasilitas jalan pedestrian agar makin ramah penyandang disabilitas dengan memperluas jalan trotoar agar makin nyaman buat berjalan dan menikmati keindahan taman di sekiranya. Jalan-jalan itu akan tetap dicegah untuk tidak menjadi ajang balapan sepeda motor dengan memperbanyak contoh Portal S yang pada minggu lalu diresmikan di depan RSCM. Gubernur bahkan menghimbau agar para pemborong bangunan memberikan “kontribusinya” dengan membangun jalur jalan pedestrian yang nyaman di depan bangunan yang dikerjakannya.

Di pihak lain dijanjikannya juga bahwa di tempat-tempat umum akan dibangun toilet yang cukup “mewah” agar setiap penduduk merasa nyaman dan tidak harus menahan sakit karena keperluannya terhalang. Fasilitas itu dibuat ramah bagi penyandang disabilitas dan penduduk lanjut usia agar Jakarta tidak lagi dikenal sebagai kota yang tidak ramah. Untuk itu mulai akhir tahun ini, telah dipesan 250 bus umum akan beroperasi yang bisa menampung penduduk yang memakai kursi roda untuk bisa memasuki bus karena busnya memiliki pintu yang rata dengan jalan raya yang dilewati penyandang disabilitas berkursi roda tersebut. Suatu perubahan drastis yang dimulai dari depan RSCM menjadikan Jakarta makin inklusif untuk semua anak bangsa yang cinta sesamanya. (Prof. Dr. Haryono Suyono, Ketua Umum DNIKS).

 
Baca Komentar Beri Komentar
Kirimkan Artikel Cetak Artikel
 
 
PWRI MEMBUAT GEBRAKAN DI DESA
MEMANTAPKAN PERAN PENDIDIKAN
PERHATIAN KEPADA DESENTRALISASI IKON TRILOGI
MEMBANGUN PERGURUAN TINGGI AKRAB MASYARAKAT
MENGUSUNG SEMANGAT PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN