Halaman Muka | Kontak Kami | Tentang Kami | Iklan  | Arsip  Edisi Selasa, 24 Januari 2017  
Politik dan Keamanan
Ekonomi dan Keuangan
Metropolitan
Opini
Agama dan Pendidikan
Nusantara
Olah Raga
Luar Negeri
Assalamu'alaikum
Derap TNI-POLRI
Hallo Bogor
 
   
 
Login
 
      
 
Password
 
 
 
   
Dunia Tasawuf
Forum Berbangsa dan Bernegara
Swadaya Mandiri
Forum Mahasiswa
Lingkaran Hidup
Pemahaman Keagamaan
Otonomi Daerah
Lemb Anak Indonesia
Parlementaria
Budaya
Kesehatan
Pariwisata
Hiburan
Pelita Hati
..
..
NILAI TUKAR RUPIAH
Source : www.klikbca.com
 JualBeli
USD 9200.00  9100.00  
SGD 6325.65  6236.65  
HKD 1187.90  1173.10  
CHF 7874.45  7769.45  
GBP 18868.05  18609.05  
AUD 8331.10  8203.10  
JPY 80.82  79.36  
SEK 1437.75  1407.65  
DKK 1776.20  1737.00  
CAD 9530.55  9376.55  
EUR 13145.74  12975.74  
SAR 2466.00  2426.00  
25-Okt-2007 / 15:41 WIB
 
 
 
MEMANTAPKAN PERAN PENDIDIKAN
Laporan: Prof Dr Haryono Suyono

[Swadaya Mandiri]

Hari ini tanggal 2 Mei adalah Hari Pendidikan Nasional. Sebuah hari yang membesarkan hati bagi para guru, dosen dan guru besar yang setiap harinya bergulat memberikan amal baktinya kepada anak didik dan mahasiswa yang menjadi asuhannya. Mereka merasa bangga bahwa hidupnya penuh tantangan mulia memberikan yang terbaik untuk generasi muda calon pemimpin masa depan bangsa. Hari Pendidikan Nasional juga merupakan kebanggaan bagi para tenaga pendukung yang bekerja di belakang layar melayani para guru, dosen dan ratusan ribu muid dan mahasiswa yang belajar giat. Hari Pendidikan juga merupakan hari bahagia bagi ibu-ibu penjaja warung makan di sekolah yang biasa diakali oleh para pelajar dan mahasiswa yang cenderung makan dalam jumlah yang lebih kecil dari makanan yang lebih banyak di santapnya. Hari-hari seperti ini biasanya para lulusan kembali ke sekolah mampir ke tempat ibu penjual makanan guna membayar “sisa hutang” yang dulu semasa masih siswa selalu diambil tanpa ijin.

Ki Hajar Dewantara, pahlawan pendidikan yang sangat tersohor memaknai Hari Pendidikan Nasional sebagai suatu wujud nyata bahwa pendidikan dan pengajaran diberikan kepada sebanyak-banyak rakyat agar perjuangan melalui pendidikan bisa mengalahkan diri sendiri serta mempunyai kekuatan maha dahsyat untuk merebut kemerdekaan bangsa secara menyeluruh dan abadi. Melalui pendidikan kita merdeka secara penuh karena secara fisik dan mental kemerdekaan itu akan diserap dan dinikmati setiap orang yang berhasil meraih tingkat pendidikan yang setinggi-tingginya.

Namun masih disayangkan bahwa pada sebagian orang pendidikan masih ditawarkan secara makro sehingga istilah pendidikan untuk sebanyak-banyaknya rakyat masih terbatas pada sebanyak-banyaknya mereka yang mampu dan bisa mengenyam pendidikan setinggi-tingginya. Mereka yang miskin atau prasejahtera masih harus berjuang meraih kesempatan pendidikan yang memadai. Johni Andela, sahabat lama, minggu lalu datang ke Universtias Trilogi, dan sekarang aktif “menjual kelestarian kekayaan alam, Oksigen dan harta bendanya yang luar biasa” melalui upaya perlindungan hutan di Kalimantan. Dalam upaya yang luhur itu, Johny yang baik hati merasakan dan melihat Saudara kita di tengah hutan tersebut masih belum menikmati sarana dan fasilitas pendidikan yang dinganggap memadai seperti di Jawa. Fasilitaas yang ada belum memadai, begitu juga fasilitas kesehatan yang menjadi syarat utama guna mendapat pendidikan tanpa ada interupsi.

Karena itu digagasnya suatu pelayanan kesehatan dan pendidikan mobil dengan perahu-perahu klotok kecil berkeliling dari satu kampung ke kampung lain melayani anak-anak pedalaman dengan kesehatan preventif sekaligus sarana pendidikan yang bergerak dari satu tempat ke tempat lainnya. Suatu gagasan aneh pada jaman ini, tetapi masih relevan karena nun jauh disana masih merupakan barang langka yang perlu dipikirkan secara matang agar tumbuh rasa keadilan dan kesempatan menikmati masa depan yang lebih sejahtera melalui kesempatan upaya preventif kesehatan dan pendidikan yang makin merata.

Jangan kita hanya berfikir jauh di tengah hutan belantara Kalimantan. Saudara kita di tengah kota yang mendapat kesempatan sarana pendidikan yang lumayan, biasanya masih harus bergelut dengan sesama rekannya karena kesempatan itu masih langka. Sekolah-sekolah bermutu di kota biasaya diminati oleh orang tua dan murid dari berbagai wilayah, sehingga keluarga kurang mampu yang tinggal di dekat fasilitas itu sulit memasuki sekolah favorit yang berada di dekat wilayah tetangganya. Karena nilai prestasinya kurang memadai, mereka terpaksa sekolah jauh dari rumah tinggalnya sehingga biayanya menjadi mahal untuk memasuki sekolah yang dianggap baik guna persiapan masa depannya.

Pada bagian lain, gagasan untuk menerima siswa sebagai bagian sebanyak-banyaknya dari rakyat tidak selalu sejalan dengan kebijaksanaan pimpinan yang menghendaki adanya sekolah dengan kualitas prima dan berstandar internasional. Sekolah seperti ini membatasi penerimaan siswa hanya bagi calon siswa unggulan dengan batasan nilai prestasi minimal yang tinggi agar proses belajar mengajar di dalam ruangan kelas menjadi lebih mudah dan hasilnya dijamin sebagai hasil andalan yang bermutu. Tidak ada yang berdebat bahwa setiap masukan yang baik akan menghasilkan keluaran yang baik juga. Namun akan banyak anak bangsa yang tertinggal karena tidak dapat memenuhi standar yang ditentukan tersebut. Akibatnya anak usia sekolah yang dropout akan lebih tinggi karena seorang anak sudah diangggap dropout bahkan sebelum anak teersebut masuk sekolah.

Peristiwa drop out itu juga sangat mengganggu karena sistem penilaian yang berlebihan bagi anak-anak didik. Anak kita dididik menjadi “superman”, bukan dikembangkan menjadi bagian dari “supertim” yang sejak saat dini diajak membangun tim yang kuat, saling mengisi dan membagi tugas sesuai dengan kelebihan dan kemampuan pribadi masing-masing. Mereka tidak dijadikan anggota suatu kelompok maraton yang siap bekerja dengan kerjasama yang erat dan saling mendukung, atau suatu kelompok penyanyi paduan suara yang setisp individu boleh berbeda tetapi siap membangun hormonisasi yang indah, bukan setiap individu menyanyikan keunggulan yang belum tentu secara bersama menghasilkan irama nyanyian yang indah dan harmonis karena tidak saling mengisi.

Pada anak-anak dari Jepang pendidikan diutamakan pada upaya mengembangkan hidup mandiri dengan motivasi yang tinggi. Demikian tingginya sehingga setiap orang akan memiliki etos kerja yang tidak ada tandingannya untuk bertahan hidup. Kalau tidak sanggup konon seorang anak muda Jepang lebih baik tidak hidup saja. Lebih dari itu, untuk hidup memadai seseorang harus secara berani mengembangkan daya kreasi yang tinggi, daya cipta dan daya inovasi yang luar biasa sehingga mampu bertahan dalam waktu yang lama. Pendidikan bukan sekedar membaca dan berhitung, tetapi belajar untuk hidup mandiri dengan kemampuan inovatif yang cemerlang dan berkelanjutan.

Pada tingkat awal para ahli pendidikan mengajarkan setiap anak untuk mengembangkan kepercayaan pada diri sendiri dengan baik agar setiap anak saling berlomba dengan kecepatan tinggi menguasai ilmu pengetahuan dan tehnologi dengan cepat, melaju ke tingkat pendidikan tinggi yang mampu mengantarnya ke jenjang penciptaan inovasi atau menemukan sesuatu yang memiliki nilai tambah tinggi. Suatu usaha yang tidak saja mengandalkan kemampuan mencipta tetapi mencipta sesuatu yang digunakan oleh khalayak ramai dan menghasilkan uang banyak. Akhirnya Hari Pendidikan Nasional harus menghasilkan anak-anak yang sangat akrab sesamanya tetapi juga akrab dengan masyarakatya serta siap membantu yang tertinggal melepaskan diri dari ketertinggalannya. (Prof. Dr. Haryono Suyono, Sosiolog mantan Menko Kesra dan Taskin).

 
Baca Komentar Beri Komentar
Kirimkan Artikel Cetak Artikel
 
 
PERHATIAN KEPADA DESENTRALISASI IKON TRILOGI
MEMBANGUN PERGURUAN TINGGI AKRAB MASYARAKAT
MENGUSUNG SEMANGAT PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN
BERTEKAD BULAT KEMBANGKAN MASYARAKAT
MEMBANGUN DENGAN HATI