Halaman Muka | Kontak Kami | Tentang Kami | Iklan  | Arsip  Edisi Minggu, 19 Februari 2017  
Politik dan Keamanan
Ekonomi dan Keuangan
Metropolitan
Opini
Agama dan Pendidikan
Nusantara
Olah Raga
Luar Negeri
Assalamu'alaikum
Derap TNI-POLRI
Hallo Bogor
 
   
 
Login
 
      
 
Password
 
 
 
   
Dunia Tasawuf
Forum Berbangsa dan Bernegara
Swadaya Mandiri
Forum Mahasiswa
Lingkaran Hidup
Pemahaman Keagamaan
Otonomi Daerah
Lemb Anak Indonesia
Parlementaria
Budaya
Kesehatan
Pariwisata
Hiburan
Pelita Hati
..
..
NILAI TUKAR RUPIAH
Source : www.klikbca.com
 JualBeli
USD 9200.00  9100.00  
SGD 6325.65  6236.65  
HKD 1187.90  1173.10  
CHF 7874.45  7769.45  
GBP 18868.05  18609.05  
AUD 8331.10  8203.10  
JPY 80.82  79.36  
SEK 1437.75  1407.65  
DKK 1776.20  1737.00  
CAD 9530.55  9376.55  
EUR 13145.74  12975.74  
SAR 2466.00  2426.00  
25-Okt-2007 / 15:41 WIB
 
 
 
IKIP PGRI MADIUN MENJADI PENGGERAK PEMBERDAYAAN
Laporan: Prof Dr Haryono Suyono

[Swadaya Mandiri]

Haryono Suyono
IKIP yang sebagian besar telah berubah menjadi Universitas di berbagai daerah, seperti UNESA di Jawa Timur, UNNES di Jawa Tengah, UNY di Yogyakarta, UPI di Jawa Barat, UNJ di Jakarta, dan UNG di Gorontalo atau di daerah lainnya, biasanya menghasilkan lulusan yang sebagian besar menjadi guru pada tingkat SMP dan SMA. Guru yang dihasilkannya makin bervariasi tergantung latar belakang ilmu yang diambilnya. Para mahasiswa mengambil kuliah bidang ilmu keguruan dan mengikuti berbagai mata kuliah lainnya seperti mahasiswa pada perguruan tinggi yang terbuka dengan kemungkinan melanjutkan kuliah sebagai sarjana paripurna dengan gelar doktor atau ilmu falsafah.
Disamping kegiatan kuliah yang secara langsung menyerap ilmu dari para guru besar dan bacaan ilmiah yang ditulis oleh para pakar dari dalam dan luar negeri, menulis skripsi, thesis dan disertasi, para mahasiswa dilatih khusus praktek mengajar atau langsung berbagi ilmu dengan masyarakat luas melalui berbagai kegiatan. Kegiatan utama biasanya dirangkum dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi yang diterjemahkan dalam bahasa awam sebagai mengajar dan berbagi ilmu, mengerjakan penelitian untuk mengetahui keadaan masyarakat dan keluarga di sekitarnya, serta pengabdian kepada masyarakat untuk belajar berbagi kepada keluarga prasejahtera di desa sekitar kampus, atau di desa yang tantangan dan masalah yang dihadapi rakyat bisa dibantu diselesaikan oleh para mahasiswa semester ke tujuh atau ke delapan yang akan dilepas sebagai sarjana paripurna.
Dalam kenyataan di lapangan, pada umumnya mahasiswa dilepas kepada masyarakat setelah semester ke tujuh dan ke delapan. Para mahasiswa diharapkan membawa ilmu yang telah diserapnya, dan atau dianggap cukup matang bisa bergaul dengan masyarakat atau berbagi dengan masyarakat luas dan bermakna. Para mahasiswa umumnya didampingi dosen pembimbing lapangan. Bersama dosen pembimbing lapangan biasanya para mahasiswa dapat mengadakan “diagnosa” masalah hangat di masyarakat. Setelah itu mahasiswa mengenal para tokoh yang bisa diajak bekerja sama untuk membangun suatu kelompok yang disebut sebagai Pos Pemberdayaan Keluarga (Posdaya).
Beberapa hari yang lalu, IKIP PGRI Madiun yang dipimpin oleh Rektornya, Dr. Parji, MPd, mengadakan pertemuan dengan beberapa wakil perguruan tinggi di daerah Madiun dan sekitarnya serta para Kepala SMK dari wilayah yang sama. Pada pertemuan itu digelar dialog dengan para peserta guna membahas kemungkinan perpaduan antara gerakan mahasiswa semester ke tujuh dan ke delapan dari berbagai perguruan tinggi dengan praktek siswa SMK di pedesaan. Para mahasiswa diharapkan tinggal di desa selama sekitar satu setengah bulan dan dalam kegiatan berdialog dan bekerja dengan komunitas di pedesaan menggandeng para guru dan siswa SMK terdekat.
Para mahasiswa dan masyarakat bekerja sama mengembangkan suatu pendidikan terbuka dengan keluarga prasejahtera yang didampingi rekan keluarga lainnya. Dalam suasana sejuk penuh keakraban itu guru SMK mengajak anak didiknya mengembangkan praktek pembuatan alat produksi untuk industri di desa. Rakyat desa ikut belajar membuat alat industri itu. Dengan berjalannya waktu maka keluarga desa juga akan sama mahirnya dengan anak didik siswa SMK yang sedang berlatih. Para mahasiswa dapat ikut membantu guru SMK melatih rakyat desa dan sekaligus memberi contoh-contoh konkrit belajar menurut sistem yang teratur.
Ajakan Rektor itu diperjelas dengan uraian panjang lebar tentang masalah yang dihadapi masyarakat desa di Indonesia. Sekaligus diberikan secara rinci upaya membentuk dan mengembangkan Posdaya secara mandiri sehingga rakyat dan keluarga yang bersatu dan terpadu membangun di desa dapat mengadakan berbagai kegiatan secara mandiri. Secara bersama-sama keluarga desa bisa mengadakan pemetaan keluarga dan memilah keluarga mampu dan keluarga prasejahtera. Dalam pertemuan keluarga yang diadakan sekali atau lebih setiap bulan, semua keluarga desa memperbincangkan keadaaan dalam lingkungan Posdaya. Secara bertahap melalui system gotong royong dapat diselesaikan masalah yang mereka hadapi secara sistematis. Keluarga kaya dapat bersama-sama mengumpulkan bantuan untuk rekan-rekannya yang masih memerlukan dorongan untuk maju.
Kesepakatan dengan para Kepala SMK itu akan menghasilkan sinergi yang sangat menarik. Para mahasiswa yang mengadakan KKN ke desa setelah mengembangkan peta keluarga, biasanya mengetahui keadaan keluarga yang belum beruntung, atau biasa disebut sebagai keluarga prasejahtera. Melalui kerukunan diantara para keluarga lainnya, keluarga prasejathera diberikan dukungan pemberdayaan. Dalam proses pemberdayaan itu keluarga prasejahtera mendapatkan pelatihan ketrampilan. Untuk pelatihan ketrampilan itu maka para guru dan siswa SMK diberi kesempatan ikut memberi pelatihan kepada rakyat di desa. Keluarga prasejahtera diberi kesempatan bergabung dengan siswa SMK yang sedang berlatih praktek di desa. Kalau pelajar SMK berlatih dengan kecepatan tinggi, maka mahasiswa ikut membantu rakyat biasa yang mungkin kalah cepat dibanding pelajar SMK yang masih muda. Keluarga desa akan mendapat dukungan dari mahasiswa mengadakan pelatihan ulang atau mengulang pelatihan yang diikutinya.
Rektor IKIP PGRI Madiun dan Ketua LPPM yang telah menjalin kerjasama dengan Yayasan Damandiri berkeyakinan bahwa keterpaduan KKN mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di daerah Kabupaten Madiun, Magetan dan Ngawi serta Kota Madiun itu, melalui dukungan pemerintah kabupaten dan kota serta aparatnya, akan memperoleh kemudahan untuk mingkatkan nilai IPM di masing-masing daerahnya. Sekaligus akan mampu mempertahankan nilai Ecological Footprint atau kelestarian lingkungan yang dalam strategi pembanguan global dewasa ini harus dipertahankan untuk tetap saling mendukung dalam keadaan makin baik dan lestari.
Sementara itu para Bupati yang dalam pertemuan itu diwakili oleh para Asistennya berkeyakinan bahwa pemerintah daerah masing-masing yang sebagian telah membentuk Posdaya di daerahnya akan memberikan dukungan program dan kegiatan yang sangat berguna untuk mendorong kemajuan melalui berbagai upaya pengentasan kemiskinan dan dorongan pengembangan kesehatan, pendidikan dan pelatihan ketrampilan yang mendorong kemajuan pencari kerja dan wirausaha bagi keluarga prasejahtera. (Prof. Dr. Haryono Suyono, Ketua Yayasan Damandiri)

 
Baca Komentar Beri Komentar
Kirimkan Artikel Cetak Artikel
 
 
MENYAMBUT KELAHIRAN SUSTAINABLE DEVELOPMENT GOALS
KONSISTEN MEMBANGUN BUDAYA GOTONG ROYONG
MENYEBAR SEMANGAT DAN BERANI MEMULAI
BERKURBAN KARENA ALLAH
AJARAN HIDUP YANG PENUH MAKNA