Halaman Muka | Kontak Kami | Tentang Kami | Iklan  | Arsip  Edisi Minggu, 19 Februari 2017  
Politik dan Keamanan
Ekonomi dan Keuangan
Metropolitan
Opini
Agama dan Pendidikan
Nusantara
Olah Raga
Luar Negeri
Assalamu'alaikum
Derap TNI-POLRI
Hallo Bogor
 
   
 
Login
 
      
 
Password
 
 
 
   
Dunia Tasawuf
Forum Berbangsa dan Bernegara
Swadaya Mandiri
Forum Mahasiswa
Lingkaran Hidup
Pemahaman Keagamaan
Otonomi Daerah
Lemb Anak Indonesia
Parlementaria
Budaya
Kesehatan
Pariwisata
Hiburan
Pelita Hati
..
..
NILAI TUKAR RUPIAH
Source : www.klikbca.com
 JualBeli
USD 9200.00  9100.00  
SGD 6325.65  6236.65  
HKD 1187.90  1173.10  
CHF 7874.45  7769.45  
GBP 18868.05  18609.05  
AUD 8331.10  8203.10  
JPY 80.82  79.36  
SEK 1437.75  1407.65  
DKK 1776.20  1737.00  
CAD 9530.55  9376.55  
EUR 13145.74  12975.74  
SAR 2466.00  2426.00  
25-Okt-2007 / 15:41 WIB
 
 
 
KONSISTEN MEMBANGUN BUDAYA GOTONG ROYONG
Laporan: Prof Dr Haryono Suyono

[Swadaya Mandiri]

Sejak menjabat sebagai Gubernur Sumatra Barat, Prof. Dr. Irwan Prayitno, langsung menyegarkan masyarakat Sumatra Barat untuk hidup dalam budaya gotong royong. Keluarga mampu digerakkan membangun ekonomi kerakyatan dan mengajak keluarga yang belum mampu untuk bersama-sama bergerak bahu membahu mengembangkan kebersamaan dalam mengolah sumber daya alam yang melimpah di tanah Minang yang subur. Tidak itu saja, begitu muncul gerakan pemberdayaan melalui Pos Pemberdayaan Keluarga (Posdaya) di Nagari dan jorong-jorong, maka Gubernur menyambut gagasan Lembaga Koordinasi Kesejahteraan Sosial (LKKS) Provinsi Sumatra Barat mendukung dikembangkannya Posdaya di seluruh Sumatra Barat. Gerakan itu marak sehingga Munas DNIKS tahun ini diundang untuk menyaksikan gerakan yang berhasil itu di Padang dan kabupaten/kota lainnya. Gerakan pemberdaan keluarga menjadi contoh nasional dan sedang ditiru di berbagai daerah.

Para peserta Munas DNIKS 2015 merasa kagum bahwa Gubernur Sumbar, Dr. Irwan Prayitno, tidak saja memberi dukungan kepada Ketua LKKS Sumbar, Ibu Novi Irwan Prayitno, tetapi secara pribadi menguasai seluk beluk kegiatan Posdaya. Sehingga dalam diskusi yang digelar melalui TVRI Padang, Gubernur dengan lancar membahas lima pilar pengembangan keluarga melalui Posdaya. Dikatakannya bahwa sebuah keluarga agar maju dan mandiri harus menguasai setidaknya lima pokok fungsi keluarga, yaitu fungsi keagamaan berupa keimanan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, fungsi kesehatan dan KB, fungsi pendidikan dan ketrampilan, fungsi kewirausahaan disertai kemampuan untuk bekerja tekun dan memilih usaha yang mendatangkan keuntungan serta fungsi cinta terhadap lingkungan yang membawa manfaat kepada keluarga dan masyarakat sekelilingnya.

Sejak pertemuan Munas DNIKS di Padang banyak kegiatan LKKS di daerah diarahkan pada upaya pelatihan untuk ikut membuat atau mengisi Posdaya yang ada di daerah-daerah dan di desa-desa di seluruh Indonesia. Povinsi Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Kalimantan Selatan dan lainnya, mengirim tenaga untuk dilatih dan meninjau berbagai kegiatan pengabdian masyarakat yang dilaksanakan oleh ribuan mahasiswa di desa-desa. Tidak jarang para anggota lembaga sosial di daerah yang biasanya hanya melayani kasus-kasus di Panti-panti, dewasa ini mengirim tenaga profesionalnya ke desa dan membantu kelompok Posdaya dengan kegiatan sosial seakan menjemput bola ke rumah penduduk penyandang masalah sosial atau disabilitas.

Sementara itu dengan gigih Gubernur didampingi oleh Ketua LKKS terus bergerak memajukan kemampuan Posdaya dari Nagari ke Nagari, dari Jorong ke Jorong, melalui kerjasama yang makin erat dengan berbagai Perguruan Tinggi di Sumatra Barat. Berbagai Perguruan Tinggi menggelar kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) tematik Posdaya dan memperbantukan ribuan mahasiswa ke desa-desa. Para mahasiswa mengadakan pelatihan ketrampilan agar keluarga desa makin pandai memanfaatkan melimpahnya sumber bahan baku untuk diolah menjadi produk laku jual dan menguntungkan.

Melalui kegigihan dan dukungannya di dua daerah di Sumatra Barat dewasa ini disediakan fasilitas untuk menampung tabungan dan mengambil kredit tanpa agunan yang dinamakan Skim Tabur Puja. Keluarga prasejahtera yang ingin maju bisa menabung menurut kemampuan pada penyelenggara Skim Tabur Puja di Padang dan di Solok. Kepada keluarga prasejahtera itu, dengan sistem tanggung renteng dengan keluarga yang lebih mampu, boleh mengambil kredit tidak lebih dari Rp. 2 juta tanpa agunan. Dengan bermodalkan kredit itu bisa memulai usaha mikro yang menguntungkan. Bahkan, bekerja sama dengan keluarga lain, sebuah keluarga bisa membuat usaha yang relatif lebih besar dengan kemungkinan keuntungan yang lebih banyak. Melalui usaha pribadi atau usaha bersama itu keluarga prasejahtera dengan kerajinan yang tinggi dan secara konsisten memilih usaha yang menguntungkan, akan berubah menjadi keluarga mandiri yang sejahtera.

Untuk melayani usaha yang dirintis oleh keluarga prasejahtera itu di Padang, dalam komplek Masjid Raya, didirikan Sentral Kulakan Posdaya (Senkudaya) yang ditugasi membantu keluarga prasejahtera yang sedang memulai usaha itu dengan pasokan bahan baku atau keperluan lainnya. Dengan cara itu para pengusaha pemula bisa memperoleh bahan baku dengan harga relatif ringan dan kalau perlu dengan sistem pinjaman yang dibayar pada saat dagangan yang diproduksinya laku jual. Sistem yang saling mendukung itu merupakan usaha jaringan yang sehari-hari dibantu oleh para mahasiswa KKN yang dengan rajin terjun ke desa memberikan penyuluhan dan cara usaha yang membawa manfaat. Gubernur Irwan Prayitno tidak saja berteori membangun budaya gotong royong, tetapi dengan pikiran besar dan langkah nyata membantu rakyat banyak bergerak maju menuju posisi baru yang mandiri dan sejahtera. (Prof. Dr. Haryono Suyono, Mantan Menko Kesra dan Taskin, www.haryono.com).

 
Baca Komentar Beri Komentar
Kirimkan Artikel Cetak Artikel
 
 
MENYEBAR SEMANGAT DAN BERANI MEMULAI
BERKURBAN KARENA ALLAH
AJARAN HIDUP YANG PENUH MAKNA
UNSOED MENGABDI DAN PEDULI
LANSIA MENJADI KEKUATAN PEMBANGUNAN