Halaman Muka | Kontak Kami | Tentang Kami | Iklan  | Arsip  Edisi Minggu, 19 Februari 2017  
Politik dan Keamanan
Ekonomi dan Keuangan
Metropolitan
Opini
Agama dan Pendidikan
Nusantara
Olah Raga
Luar Negeri
Assalamu'alaikum
Derap TNI-POLRI
Hallo Bogor
 
   
 
Login
 
      
 
Password
 
 
 
   
Dunia Tasawuf
Forum Berbangsa dan Bernegara
Swadaya Mandiri
Forum Mahasiswa
Lingkaran Hidup
Pemahaman Keagamaan
Otonomi Daerah
Lemb Anak Indonesia
Parlementaria
Budaya
Kesehatan
Pariwisata
Hiburan
Pelita Hati
..
..
NILAI TUKAR RUPIAH
Source : www.klikbca.com
 JualBeli
USD 9200.00  9100.00  
SGD 6325.65  6236.65  
HKD 1187.90  1173.10  
CHF 7874.45  7769.45  
GBP 18868.05  18609.05  
AUD 8331.10  8203.10  
JPY 80.82  79.36  
SEK 1437.75  1407.65  
DKK 1776.20  1737.00  
CAD 9530.55  9376.55  
EUR 13145.74  12975.74  
SAR 2466.00  2426.00  
25-Okt-2007 / 15:41 WIB
 
 
 
MENYEBAR SEMANGAT DAN BERANI MEMULAI
Laporan: Prof Dr Haryono Suyono

[Swadaya Mandiri]

Akhir akhir ini kegiatan KKN tematik Posdaya oleh berbagai perguruan tinggi bergeser dari kegiatan pembentukan mengarah kepada pembinaan Posdaya. Proses pembinaan bervariasi, dari kegiatan menata manajemen yang biasanya kurang teratur, tidak ada yang mencatat kegiatan serta hasilnya, sampai kepada melakukan catatan siapa yang menjadi pengurus Posdayanya. Dinamika yang ada biasanya menghasilkan anggota pengurus menjadi kurang dinamis manakala pada pembentukannya hanya diserahkan kepada siapa yang dianggap senior di suatu desa. Padahal tenaga senior tidak selalu memiliki minat atau sudah sangat sibuk dengan berbagai kegiatan lainnya. Atau tenaga senior tidak berani menolak tetapi tidak bisa aktif karena berbagai kesibukan atau karena alasan lainnya.

Salah satu pelajaran yang muncul dari percontohan yang tidak mendidik itu muncul dari berbagai program yang justru biasanya disodorkan oleh berbagai Instansi resmi. Pada umumnya program-program yang diunduh oleh pemerintah atau Instansi resmi itu program peningkatan mutu melalui berbagai upaya sertifikasi. Sertifikasi adalah usaha untuk meningkatkan standar atas dasar kemampuan minimal yang harus dicapai. Tujuannya baik tetapi kadang berlebihan dan melupakan pengembangan pekerja baru. Kegiatan itu sasarannya adalah agar seseorang atau seorang pekerja dianggap memenuhi persyarakatan tertentu untuk bisa bekerja dimana saja dengan hasil yang memadahi dan memenuhi syarat tertentu. Caranya adalah bahwa seorang pekerja yang dipersiapkan untuk sertifikasi itu adalah perorangan atau pekerja yang itu-itu saja, artinya mereka yang terlebih dulu telah bekerja dalam suatu kegiatan. Padahal, bagi bangsa Indonesia yang sudah merdeka selama 70 tahun, dewasa ini menghadapi era bonus demografi. Artinya jumlah tenaga muda berlipat hampir tiga kali dibandingkan dengan keadaannya pada tahun 1970-an. Ada dua bagian besar yang merupakan tenaga kerja baru yang apabila tidak segera ditolong, akan berakhir menjadi “bukan angkatan kerja” dan tidak bisa menjadi andalan yang mendukung kegiatan ekonomi keluarganya.

Karena ledakan penduduk usia produktif itu, paradikma pendidikan dan pelatihan ketrampilan perlu disesuaikan dengan memasukkan upaya mengajak penduduk usia produktif baru berlatih ketrampilan softskill secara dini. Program pelatihan dan persiapan bagi pekerja perlu menjemput bola, yaitu mengembangkan pelatihan bagi pekerja baru. Setiap penduduk usia kerja perlu diberi pelatihan dan bagi yang sudah mengantongi ketrampilan harus segera bekerja dan memapaki kehidupan yang makin mapan. Pengalaman di suatu pekerjaan menjadi pelatihan yang menempatkan seseorang semakin mantab dan mengetahui ketrampilan utamanya yang membawa kebahagiaan. Bekerja tanpa merasa nyaman akan menyiksa seseorang pada pekerjaan yang membawa kinerja yang tidak memadai.

Pelatihan masa depan perlu diisi penguatan karakter yang mengembangkan hati nurani luhur penuh kasih sayang memberi perhatian kepada keluarga prasejahtera dan segera berbagi sesama anak bangsa. Pengembangan karakter itu harus disertai keinginan yang tinggi untuk saling menggalang persatuan dan kesatuan sehingga muncul garapan bersama yang sinergis agar menghasilkan dukungan komprehensif yang berlipat dibanding kekuatan aslinya. Upaya sinergy itu menjadi ciri karakter persatuan dan kesatuan bangsa yang harus mengawali pengembangan kekuatan bangsa membangun secara gotong royong dan berkesinambungan. Tanpa awalan persatuan dan kesatuan dalam gotong royong kebersamaan itu mustahil negara besar yang kita cintai ini akan maju.

Melalui modal awal karakter tangguh yang memberi perhatian dan dukungan kepada keluarga prasejahtera itu perlu segera didukung dengan kegiatan pendidikan dan pelatihan agar mampu melakukan pemberdayaan yang segera diikuti praktek usaha dengan sungguh-sungguh. Para pendamping mahasiswa atau para petugas pemerintah perlu siap dengan “resep-resep” nasehat yang memberi semangat untuk maju. Dalam mengutarakan nasehat itu para pendamping tidak boleh bersikap menyalahkan usahawan pemula yang gagal. Para “penasehat” harus sanggup menjadi pendorong yang bijaksana untuk mengembangkan kekuatan yang positif yang pantang mundur. Para pendamping perlu melihara semangat keluarga yang belum maju itu dengan arahan agar berani bertahan dan menerima semua kesulitan sebagai pemacu untuk maju. Dorongan semangat itu harus mampu mengantar setiap keluarga prasejahtera yang didorong melalui pemberdayaan menjadi keluarga yang dinamis dan sanggup melanjutkan kerja cerdas dan keras dalam usaha ekonomi yang dapat dilaksanakan secara mandiri dan menguntungkan.

Dorongan semangat untuk segera memulai usaha itu perlu menjadi pedoman agar upaya memperluas jangkauan dalam pembangunan ekonomi pada tingkat akar rumput segera terwujud. Menurut istilah Ir. Sutarto Alimoeso, mantan Dirut Bulog, upaya itu harus mampu menciptakan pengembangan jaringan semut yang luas di akar rumput. Jaringan itu, biarpun dari setiap keluarga lemah, tetapi karena terdiri dari jumlah keluarga yang banyak dan bersatu, akan menjadi kekuatan ekonomi kerakyatan yang kokoh. Jaringan semut itu menjadi sangat kuat dengan dukungan komitmen yang kuat dari pimpinan tertinggi di suatau daerah. Komitmen itu menjamin agar kekuatan rakyat yang sedang tumbuh tidak ditimpa dan diberhentikan dengan aturan atau ijin pengembangan usaha bagi pemodal kuat. Kalau pimpinan tertinggi memberikan ijin kepada usaha besar, dengan serta merta akan mematikan usaha rakyat yang sedang tumbuh. Kekuatan modal dan tehnologi canggih sebenarnya bisa menjadi kekuatan yang ramah usaha rakyat dan bersinergy dengan kekuatan rakyat apabila sasaran yang dituju dibedakan. Sasaran yang dikerjakan usaha rakyat tidak perlu diambil alih oleh usaha korporasi dengan tehnologi canggih. Usaha besar pasti tidak bisa dikerjakan oleh usaha rakyat yang memiliki tenaga dan modal terbatas. Kemauan saling membangun usaha awal itu pada akhirnya menghasilkan kerjasama bagi pembinaan bangsa besar yang mendapat dorongan bonus demografi yang luar biasa dewasa ini. (Prof. Dr. Haryono Suyono, Mantan Menko Kesra dan Taskin, www.haryono.com).

 
Baca Komentar Beri Komentar
Kirimkan Artikel Cetak Artikel
 
 
BERKURBAN KARENA ALLAH
AJARAN HIDUP YANG PENUH MAKNA
UNSOED MENGABDI DAN PEDULI
LANSIA MENJADI KEKUATAN PEMBANGUNAN
KELUARGA PRASEJAHTERA MEMBANGUN BISNIS