Halaman Muka | Kontak Kami | Tentang Kami | Iklan  | Arsip  Edisi Minggu, 19 Februari 2017  
Politik dan Keamanan
Ekonomi dan Keuangan
Metropolitan
Opini
Agama dan Pendidikan
Nusantara
Olah Raga
Luar Negeri
Assalamu'alaikum
Derap TNI-POLRI
Hallo Bogor
 
   
 
Login
 
      
 
Password
 
 
 
   
Dunia Tasawuf
Forum Berbangsa dan Bernegara
Swadaya Mandiri
Forum Mahasiswa
Lingkaran Hidup
Pemahaman Keagamaan
Otonomi Daerah
Lemb Anak Indonesia
Parlementaria
Budaya
Kesehatan
Pariwisata
Hiburan
Pelita Hati
..
..
NILAI TUKAR RUPIAH
Source : www.klikbca.com
 JualBeli
USD 9200.00  9100.00  
SGD 6325.65  6236.65  
HKD 1187.90  1173.10  
CHF 7874.45  7769.45  
GBP 18868.05  18609.05  
AUD 8331.10  8203.10  
JPY 80.82  79.36  
SEK 1437.75  1407.65  
DKK 1776.20  1737.00  
CAD 9530.55  9376.55  
EUR 13145.74  12975.74  
SAR 2466.00  2426.00  
25-Okt-2007 / 15:41 WIB
 
 
 
AJARAN HIDUP YANG PENUH MAKNA
Laporan: Prof Dr Haryono Suyono

[Swadaya Mandiri]

Dalam suasana hiruk pikuk saling mengundurkan diri sebagai pemimpin daerah, Gubernur, Bupati atau Walikota menjelang pemilihan pemimpin yang baru, ada baiknya kita renung apa arti hidup ini untuk iman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, diri sendiri dan keluarga, atau berjuang demi masa depan bangsa yang sejahtera. Dalam pemanfaatan media sosial, disamping ada beberapa yang menyalah gunakan forum untuk keperluan pribadi atau menyebar luaskan adegan yang bertentangan dengan kepribadian bangsa, banyak manfaat yang diposting orang-orang bijak guna menyebar luaskan pengetahuan yang tidak diajarkan di bangku sekolah, atau bahkan di bangku kuliah. Petunjuk bijak yang disebar luaskan itu banyak dikutib dari ajaran atau pengalaman banyak tokoh masa lalu yang sangat bijak disertai segala implikasinya.

Salah satu posting yang menarik dan beredar dikalangan pemakai media sosial adalah petunjuk yang referensinya tidak jelas. Posting petunjuk itu misalnya tentang hubungan kita dengan kesempatan. Disebutkan agar kita tidak boleh putus asa karena tidak bisa mendapatkan kembali kesempatan yang sudah lewat. Tetapi dengan perhatian dan usaha yang sungguh-sungguh bisa diciptakan peluang baru yang bisa membuka kesempatan yang baru. Selanjutnya dinasehatkan adanya tiga hal yang tidak boleh hilang, yaitu kehormatan, kejujuran dan harapan. Seseorang boleh tidak memiliki uang, tetapi tetap harus mampu memelihara kehormatan, agar bisa tetap bersyukur karena bermodal kehormatan hidup kita pasti akan lebih nyaman. Apabila kita kehilangan kehormatan, dianjurkan agar berusaha meraih kembali kehormatan yang hilang dengan mengutamakan kejujuran karena melalui upaya yang dilandasi kejujuran yang konsisten akhirnya akan dipulihkan kembali kehormatan yang hilang. Selanjutnya dianjurkan agar tetap konsisten hidup dalam kejujuran karena melalui hidup dengan kejujuran terbawa harapan yang lebih baik untuk masa depan yang panjang dan penuh tantangan.

Petunjuk lain yang banyak diulang dan beredar dalam media sosial adalah “Pitutur Jowo” yang bagi pengikut yang berasal atau mengerti bahasa Jawa cukup menyegarkan. Petunjuk itu disebut Pitutur Jowo karena berisi nasehat. Pitutur yang disajikan dalam Bahasa Jawa itu ditulis secara puitis dan enak dibaca. Puisi pitutur itu sukar diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia secara puitis. Namun, karena artinya sangat dalam dan perlu direnungkan sebagai salah satu referesni, dan isinya berupa pedoman hidup bermasyarakat untuk saling menghormati, saling menyayangi dan mencintai, ada baiknya terjemahannya secara kasar disimak juga. Pitutur Jowo itu kurang lebih menyatakan bahwa kalau kita menerima keadaan apa adanya, hidup kita akan panjang; kalau kita sabar, rejekinya akan luas; kalau kita mengalah rejekinya akan barokah; kalau kita bertindak jujur, hidupnya akan makmur; kalau kita ingkar janji, hidupnya sengsara; dan siapa saja yang bertindak sombong, hidupnya akan menemui banyak kesulitan; siapa saja yang rajin hidupnya bakal menuai kenikmatan dikemudian hari. Lebih lanjut di “tuturkan” bahwa siapa yang mengeluh hidupnya akan cepat tua; kalau ada yang sudah pergi (meninggal dunia), hendaknya diikhlaskan; kalau ada yang belum datang, hendaknya ditunggu; bagi yang sudah ada, hendaknya disyukuri. Sungguh menarik, seperti diutarakan di depan, ada yang beranggapan petunjuk pitutur itu pasti ada yang menafsirkan bahwa pitutur itu semata adalah upaya mengajak atau bahkan memberi “perintah halus” agar orang Jawa tidak “memberontak” atau tidak bersifat dinamik, tetapi lebih baik “nrimo” atau menerima apa adanya. Dengan pendapat seperti itu, pitutur itu diartikan negatif karena tidak merangsang manusia “wong Jowo” berikhtiar atau berusaha dengan tekun tetapi “nrimo” atau puas menerima apa adanya. Dipihak lain petunjuk pitutur Jawa itu sesungguhnya bisa diartikan sebagai ajakan agar manusia tidak perlu menunjukkan ambisi yang berlebihan untuk mengembangkan diri tetapi tetap berusaha atau ihtiar seraya memberi perhatian kepada orang lain dan memberi penghormatan sesamanya. Petunjuk pitutur itu mengajak “wong Jowo” untuk “telaten”, artinya rajin berihtiar dengan sabar, karena dengan cara “damai”, akhirnya akan menunai hasil karya dengan baik tidak ada yang terluka atau tersinggung. Menurut pitutur itu, “kesabaran” dalam hidup akan menghasilkan rejeki yang “jembar”, artinya membuka berkembangnya kesempatan yang terbuka lebar sehingga akhirnya membawa rejeki yang banyak karena datang dari berbagai penjuru.

Ada lagi serentetan perumpamaan yang muncul dalam posting media sosial. Sebatang pohon konon dapat membuat jutaan korek api. Tetapi satu batang korek api dengan mudah dapat membakar jutaan pohon. Implikasinya sederhana, satu pikiran negatif dapat membakar semua pikiran posisif. Maka berhati-hatilah mengutarakan pikiran, karena kalau kita berpikiran negatif secara langsung bisa membuat mereka yang berpikiran positif berubah menjadi berpikiran negatif dan bisa merangsang pertikaian yang tidak banyak gunanya.

Dalam hubungan ini dikatakan, korek api mempunyai kepala, tetapi tidak mempunyai otak dan kasih sayang. Karena itu dengan gesekan sedikit saja, sebuah korek api langsung terbakar. Kita juga mempunyai kepala, bedanya manusia mempunyai otak dan kasih sayang. Karena itu wajar bahwa sebagai manusia tidak perlu mudah terbakar yang merusak segalanya.

Selanjutnya Mother Teresa yang sangat terkenal itu secara singkat menyatakan beberapa arti hidup sebagai sesuatu yang mengharuskan kita melaksanakannya dengan tekun. Menurut kata-katanya, hidup adalah kesempatan, gunakan kesempatan itu. Hidup adalah keindahan, kagumi keindahan itu. Hidup adalah mimpi, wujudkan mimpi itu. Hidup adalah tantangan, hadapilah tantangan itu. Hidup adalah mewajiban, maka penuhilah kewajiban itu. Hidup adalah mahal, karena itu jagalah hidup kita. Hidup adalah kekayaan, maka hematlah dengan kekayaan itu. Hidup adalah janji, maka penuhilah janjimu itu. Hidup adalah kesusahan, maka kita harus mengatasi kesusahan itu. Hidup adalah nyanyian, maka marilah kita bergembira. Hidup adalah perjuangan, maka kita harus bekerja keras dan berjuang. Hidup adalah tragedi, maka berfikirlah positif dan tidak menyerah. Hidup adalah petualangan, maka kita harus bertualang dan penuh peduli terhadap sesama. Hidup adalah keberuntungan, maka berbagilah sesama. Hidup adalah terlalu berharga, jangan rusakkan itu. Hidup adalah perjuangan, kalau kita tidak dapat melakukan hal besar, hanya hal-hal kecil, lakukan itu dengan cinta kasih yang besar. Demikian menurut Mother Teresa. (Prof. Dr. Haryono Suyono, Ketua Yayasan Damandiri, www.haryono.com).

 
Baca Komentar Beri Komentar
Kirimkan Artikel Cetak Artikel
 
 
UNSOED MENGABDI DAN PEDULI
LANSIA MENJADI KEKUATAN PEMBANGUNAN
KELUARGA PRASEJAHTERA MEMBANGUN BISNIS
MEMAKMURKAN MASJID MENSEJAHTERAKAN RAKYAT
MEMPERSIAPKAN TENAGA PROFESIONAL