Halaman Muka | Kontak Kami | Tentang Kami | Iklan  | Arsip  Edisi Selasa, 24 Januari 2017  
Politik dan Keamanan
Ekonomi dan Keuangan
Metropolitan
Opini
Agama dan Pendidikan
Nusantara
Olah Raga
Luar Negeri
Assalamu'alaikum
Derap TNI-POLRI
Hallo Bogor
 
   
 
Login
 
      
 
Password
 
 
 
   
Dunia Tasawuf
Forum Berbangsa dan Bernegara
Swadaya Mandiri
Forum Mahasiswa
Lingkaran Hidup
Pemahaman Keagamaan
Otonomi Daerah
Lemb Anak Indonesia
Parlementaria
Budaya
Kesehatan
Pariwisata
Hiburan
Pelita Hati
..
..
NILAI TUKAR RUPIAH
Source : www.klikbca.com
 JualBeli
USD 9200.00  9100.00  
SGD 6325.65  6236.65  
HKD 1187.90  1173.10  
CHF 7874.45  7769.45  
GBP 18868.05  18609.05  
AUD 8331.10  8203.10  
JPY 80.82  79.36  
SEK 1437.75  1407.65  
DKK 1776.20  1737.00  
CAD 9530.55  9376.55  
EUR 13145.74  12975.74  
SAR 2466.00  2426.00  
25-Okt-2007 / 15:41 WIB
 
 
 
UNSOED MENGABDI DAN PEDULI
Laporan: Prof Dr Haryono Suyono

[Swadaya Mandiri]

Selama satu setengah bulan, tidak kurang dari 2.542 mahasiswa semester tujuh Universitas Jendral Soedirman (UNSOED) di Purwokerto, terjun menyatu bersama rakyat di ribuan desa di beberapa kabupaten di Jawa Tengah. Dengan ijin Bupati, Camat dan Kepala Desa masing-masing, para mahasiswa bergaul setiap hari bersama rakyat desa. Sebagai mahasiswa yang biasa mendengarkan kuliah dari guru besar dan dosennya, para mahasiswa memberi “kuliah” kepada rakyat desa. Dalam setiap sesi “kuliah” itu, para mahasiswa tidak bisa serta merta berdebat dengan rakyat yang mengajukan pertanyaan kepada para mahasiswa. Pertanyaan mereka sering diluar mata kuliah yang diberikan, bahkan diluar topik mata kuliah yang diperoleh mahasiswa di bangku Unsoed yang sangat terkenal itu. Rakyat biasa tidak ada wewenang menentukan kurikulum bagi mahasiswa KKN tematik Posdaya, tetapi sepanjang bergaul dengan para mahasiswa, rakyat mengajukan pertanyaan pemberdayaan yang isinya sering menyimpang “kurikulum mahasiswa”. Bahkan sering diluar mata kuliah yang diterima oleh mahasiswa selama enam semester terakhir. Pertanyaan biasanya sederhana, tetapi jawabnya tidak mudah dan sering memerlukan pikiran jernih, tidak emosi dan harus bijak.

Seorang kepala keluarga dianjurkan oleh seorang mahasiswa untuk menjaga kesehatan seluruh anggotanya dengan baik. Dianjurkan agar keluarga itu mengambil keanggotaan BPJS agar bila ada anggota keluarga yang sakit bisa berobat dengan gratis. Secara spontan keluarga itu menyatakan bahwa ada tetangganya yang memiliki kartu BJS tetapi ditolak berobat ke RS karena belum pergi terlebih dulu ke Puskesmas. Keluarga itu kemudian mondar mandir pergi pulang ke Puskesmas untuk memenuhi prosedur yang diminta. Oleh Puskesmas keluarga yang bersangkutan akhirnya dikirim lagi ke RS untuk mendapat penanganan lebih lanjut karena penyakit sudah terlalu parah tidak cukup ditangani di Puskesmas. Keluarga itu ke RS lagi dengan pengantar Puskesmas. Tetapi di RS tidak bisa dirawat karena kamar gratisnya sudah habis. Sukar bagi keluarga miskin itu untuk mengerti kenapa petugas saling melempar dan tidak menolong anggota keluarga yang nyata-nyata sakit tetapi lebih mementingkan prosedur. Kerikil-kerikil kecil seperti itu biarpun selalu dianggap jarang terjadi, tetapi sekecil apapun cepat menjalar dan merusak citra dan niat baik pemerintah memperingan beban keluarga miskin di desa. Akibatnya rancangan indah menjadi sesuatu yang mengantar sinisme terhadap maksud baik pemerintah yang luhur.

Para mahasiswa ahli lingkungan Unsoed tidak kalah cerdas. Kesehatan, katanya, bukan semata mencari “orang sakit” dan membawa si sakit ke Puskesmas atau ke RS, tetapi berusaha agar lingkungan sekitar tempat tinggal keluarga bersih dan sehat. Halamannya hijau segar karena ditanami sayur, cabai dan ada kolam untuk memelihara ikan. Hasilnya setiap hari siap untuk santapan sehat sehingga tidak saja segar sekelilingnya, tetapi Kebun Bergizi itu membawa makanan yang penuh gizi dan menjamin hidup yang sehat. Akhirnya semua anggota keluarga menetap dalam rumah yang memiliki lingkungan yang bersih dan sehat, semua anggota keluarga tidak perlu harus sakit.

Disamping itu, para mahasiswa selama lebih satu bulan sibuk mengadakan pendataan keluarga dan membuat Peta Keluarga yang akan ditinggal di Posdaya yang dibentuknya. Mereka minta pengurus Posdaya mempergunakan peta itu untuk membangun “roadmap” atau petunjuk bagi setiap keluarga untuk maju dengan saling bantu membantu. Keluarga kaya peduli terhadap keluarga prasejahtera dan membantu pemberdayaannya. Keluarga prasejahtera tidak malas tetapi rajin berlatih ketrampilan agar suami isteri bisa bekerja cerdas dan keras merubah keadaannya. Tidak ada sikap, tingkah laku dan sikap malas tidak mau bekerja. Semua harus bekerja cerdas dan keras demi kemajuan masa depan.

Banyak kelompok mahasiswa yang setelah usai membentuk Posdaya segera menggelar pelatihan ketrampilan bagi anggota keluarga yang kian hari kian akrab dengan mahasiswa di kampungnya. Dengan meminjam rumah penduduk yang relatif longgar, mahasiswa semester ke tujuh yang ahli bikin kue, dengan peralatan seadanya mengajar membuat kue serderhana tetapi rasanya enak. Dengan antusiasme yang tinggi penduduk desa yang biasanya hanya melihat kue dijajakan di toko di kota, sangat ingin mendengar ada mahasiswa mau mengajar membuat kue. Keinginan itu merangsang penduduk dengan akrab merubung mahasiswa yang “terus terang” baru kali itu menjadi “instruktur pembuat kue”. Dalam hati mereka cekikikan tetapi dengan percaya diri dan sungguh-sungguh berusaha agar kue buatannya betul-betul jadi kue yang enak.

Setelah beberapa hari pelatihan, penduduk desa tidak saja ahli kue, tetapi pembuatan makanan kecil lain siap disajikan dengan cara modern. Kripik yang biasa disajikan dalam piring-piring terbuka dan kripiknya cepet layu, sekarang tampil dalam bungkus modern tertutup sehingga kripik tetap renyah lebih lama, laku jual dan menguntungkan. Sajian komoditas makin mentereng dan mengundang selera. Masyarakat melihat bahan baku lokal bisa tampil beda, menarik dan menguntungkan.

Pada akhir masa KKN, khususnya di Indramayu, para mahasiswa terkejut karena Rektor Unsoed, Dr. Ahmad Iqbal, menyempatkan diri terjun meninjau kegiatan para mahasiswa di desa. Tidak itu saja, para mahasiswa mendapat undangan Bupati Indramayu, Hj. Anna Sophanah, untuk silaturahmi sekaligus diajak dialog bersama Posdaya yang mereka bentuk serta hasil-hasil ajaran mereka. Kegembiraan menyertai para mahasiswa karena karyanya mendapat penghargaan yang wajar. Mahasiswa kagum karena di daerah lain juga sudah dikembangkan Posdaya dengan hasil karya yang bisa dibandingkan untuk menambah kebanggaan pengabdian kepada masyarakat luas. Mahasiwa Unsoed mengabdi kepada rakyat sebelum menjadi sarjana. (Prof. Dr. Haryono Suyono, Mantan Menko Kesra dan Taskin, www.haryono.com).

 
Baca Komentar Beri Komentar
Kirimkan Artikel Cetak Artikel
 
 
LANSIA MENJADI KEKUATAN PEMBANGUNAN
KELUARGA PRASEJAHTERA MEMBANGUN BISNIS
MEMAKMURKAN MASJID MENSEJAHTERAKAN RAKYAT
MEMPERSIAPKAN TENAGA PROFESIONAL
GERAKAN KELUARGA BERJAMBAN