Halaman Muka | Kontak Kami | Tentang Kami | Iklan  | Arsip  Edisi Rabu, 29 Maret 2017  
Politik dan Keamanan
Ekonomi dan Keuangan
Metropolitan
Opini
Agama dan Pendidikan
Nusantara
Olah Raga
Luar Negeri
Assalamu'alaikum
Derap TNI-POLRI
Hallo Bogor
 
   
 
Login
 
      
 
Password
 
 
 
   
Dunia Tasawuf
Forum Berbangsa dan Bernegara
Swadaya Mandiri
Forum Mahasiswa
Lingkaran Hidup
Pemahaman Keagamaan
Otonomi Daerah
Lemb Anak Indonesia
Parlementaria
Budaya
Kesehatan
Pariwisata
Hiburan
Pelita Hati
..
..
NILAI TUKAR RUPIAH
Source : www.klikbca.com
 JualBeli
USD 9200.00  9100.00  
SGD 6325.65  6236.65  
HKD 1187.90  1173.10  
CHF 7874.45  7769.45  
GBP 18868.05  18609.05  
AUD 8331.10  8203.10  
JPY 80.82  79.36  
SEK 1437.75  1407.65  
DKK 1776.20  1737.00  
CAD 9530.55  9376.55  
EUR 13145.74  12975.74  
SAR 2466.00  2426.00  
25-Okt-2007 / 15:41 WIB
 
 
 
LANSIA MENJADI KEKUATAN PEMBANGUNAN
Laporan: Prof Dr Haryono Suyono

[Swadaya Mandiri]

Pertengahan minggu ini, 1 Oktober 2015, penduduk lanjut usia dari seluruh dunia bersama keluarganya akan merayakan Hari Lanjut Usia (Lansia) Internasional 2015. Penduduk lansia, yang menurut definisi WHO adalah penduduk yang berusia di atas 60 tahun, telah menjadi kekuatan pembangunan baru yang maha dahsyat. Berkat kemajuan dalam bidang kesehatan dan pendidikan, jumlah dan kualitas penduduk lansia, dilihat dari keadaan kesehatan, pendidikan, ketrampilan dan pengalamannya dalam hidup bermasyarakat, makin bertambah baik. Keadaan itu antara lain disebabkan perbaikan tingkat kesehatan selama masih muda. Akibatnya, lamanya seseorang hidup sebagai lansia menjadi lebih panjang. Sejalan hidup yang panjang itu, yang di masa lalu hanya terjadi di negara maju, penduduk lansia yang berusia lebih dari 90 atau 100 tahun, dewasa ini sudah banyak yang berasal dari, atau yang tinggal di negara berkembang. Penduduk lansia dari berbagai penjuru dunia itu juga suka menghibur diri dengan melakukan kunjungan turis ke berbagai negara. Karena itu di pusat-pusat turisme dunia yang biasanya hanya didatangi lansia bule saja, dewasa ini biasa didatangi lansia dari negara berkembang.

Salah satu yang menarik di Indonesia terjadi dua tahun lalu, rombongan turis lansia yang terdiri dari pensiunan PWRI dari Jakarta dan dari daerah lain, berbondong berkunjung ke Raja Ampat menikmati keindahan pulau dan laut yang masih perawan. Mereka tidak saja menikmati keindahan pulau dan pantainya yang sangat bersahabat, tetapi membawa misi luhur mengenal penduduk dan keluarga yang ramah di pulau-pulau Raja Ampat itu. Sejak saat itu kawasan Raja Ampat yang semula jarang dikunjungi turis, mendadak menjadi tujuan yang makin terkenal. Penduduk lanjut usia berhasil memperkenalkan pulau itu bukan sebagai destinasi yang sulit ditempuh. Kaum lansia yang sudah pensiun saja dengan mudah bisa berkunjung dan menikmati keindahan alam yang sangat mempesona.

Karena keadaan dan pelayanan kesehatan yang membaik, usia penduduk lansia yang bertambah panjang, akibatnya jumlah lansia di seluruh dunia membengkak dengan kecepatan jauh lebih tinggi dari pertumbuhan penduduk alamiah. Dari sekitar satu milyar pada akhir tahun ini, pada tahun 2025 jumlah penduduk lansia diperkirakan menjadi dua kali lipat dan pada tahun 2050 bisa mencapai sekitar 2 milyar. Penduduk lansia di negara berkembang mengikuti pola struktur dan kegiatan yang mirip dengan kegiatan rekannya di negara maju. Di Indonesia, yang pada tahun 2011, dihadapan Wakil Presiden RI, Bapak Prof. Dr. Boediono, lansia dari berbagai paguyuban dan perkumpulan di Indonesia, mendeklarasikan perhatian dan kepedulian terhadap tiga generasi. Deklarasi itu diwujudkan berupa kegiatan kemasyarakatan yang makin nyata. Para anggota PWRI di Jawa Tengah berhasil membina Pos Pemberdayaan Keluarga (Posdaya) di tingkat desa dan pedukuhan yang jumlahnya melebihi seribu buah. Banyak Posdaya binaan lansia diisi kegiatan ekonomi dengan memperoleh modal pinjaman dari Bank dan bahkan ada sebagian yang memperoleh simpati dan dukungan dana CSR dari perusahaan di daerahnya.

Di Jawa Timur PWRI juga bergerak dinamis. Dalam waktu singkat segera setelah Hari Raya Idul Fitri 1436 H., para lansia mengadakan Gebyar Posdaya dengan mengundang seluruh cabangnya menunjukkan kegiatan dalam pembinaan Posdaya di kabupaten dan di desa-desa binaannya. Keadaan sama ditunjukkan oleh PWRI Jawa Barat yang di berbagai cabang di daerahnya diajak langsung menolong keluarga prasejahtera menanam pisang Cavendish dengan mengajak keluarga lain di desanya. Setelah pisang beranak, keluarga prasejahtera beramai-ramai menyumbang kepada keluarga prasejahtera lainnya, suatu penyegaran hidup gotong royong yang dilakukan nyata yaitu memberi perhatian, peduli dan berbuat baik secara langsung.

Karena kualitas dan kesehatan penduduk bertambah baik, dengan sendirinya kualitas penduduk lanjut usia berkembang menjadi kekuatan yang sangat luar biasa dalam pembangunan. Penduduk lanjut usia yang makin baik itu, dengan pengalaman dan kearifannya memberikan kontribusi yang sangat tinggi pada peningkatan kemampuan anak bangsanya. Sekarang saja, di negara-negara Afrika, yang akhir-akhir ini terserang penyakit HIV/AIDS, tidak kurang dari 14 juta anak-anak dan penduduk di bawah usia 15 tahun, yang ditinggal mati orang tuanya yang terkena penyakit HIV/AIDS yang mematikan itu, dipelihara oleh kakek dan neneknya yang penduduk lanjut usia.

Di Indonesia, jutaan anak-anak yang ditinggalkan orang tuanya yang miskin dan mencari sesuap nasi meninggalkan desanya bekerja sebagai Nakerwan, di dalam dan di luar negeri, di kampungnya diasuh oleh kakek dan neneknya, penduduk lanjut usia. Penduduk lanjut usia yang di-“tugasi” di kampung memelihara cucu-cucunya, biarpun tingkat pendidikannya tidak memadai, merupakan pejuang pembangunan mengantar cucu-cucunya meneruskan pendidikan untuk masa depannya yang lebih sejahtera.

Phenomena menarik yang dipelopori oleh lansia anggota PWRI itu perlu disebar luaskan kepada keluarga lansia lainnya. Lansia bukan seseorang yang tangguh, tetapi tetap anggota keluarga yang perlu cinta kasih. Lansia merupakan bagian dari keluarga yang pengalamannya membawa berkah kepada anggota keluarga lainnya. Pengalamannya mengurangi kekurangan yang disebabkan karena tingkat pendidikan yang rendah atau karena harta yang terbatas. Seorang lansia dari keluarga miskin telah sanggup hidup lama sekali dalam keadaan miskin, sehingga tatkala menjadi lansia, biarpun sederhana, bisa memberi petunjuk kepada anak cucunya yang miskin untuk bertahan hidup. Lansia seperti itu dapat memacu anak cucu yang dimilikinya untuk bekerja cerdas dan keras agar tidak selamanya berada dalam keadaan miskin. Karena itulah Hari Lansia sedunia tahun ini harus dijadikan momentum untuk memberi bekal kepada penduduk lanjut usia, dalam setiap kategorinya, agar mampu menjadi penggerak pembangunan bagi tiga generasi dalam lingkungannya. Lansia bekerja cerdas, keras tetapi santai dan ceria ikut membangun anak bangsanya. (Prof. Dr. Haryono Suyono, Mantan Menko Kesra dan Taskin, www.haryono.com).

 
Baca Komentar Beri Komentar
Kirimkan Artikel Cetak Artikel
 
 
KELUARGA PRASEJAHTERA MEMBANGUN BISNIS
MEMAKMURKAN MASJID MENSEJAHTERAKAN RAKYAT
MEMPERSIAPKAN TENAGA PROFESIONAL
GERAKAN KELUARGA BERJAMBAN
MEMBANGUN BUDAYA BEROLAHRAGA