Halaman Muka | Kontak Kami | Tentang Kami | Iklan  | Arsip  Edisi Sabtu, 21 Januari 2017  
Politik dan Keamanan
Ekonomi dan Keuangan
Metropolitan
Opini
Agama dan Pendidikan
Nusantara
Olah Raga
Luar Negeri
Assalamu'alaikum
Derap TNI-POLRI
Hallo Bogor
 
   
 
Login
 
      
 
Password
 
 
 
   
Dunia Tasawuf
Forum Berbangsa dan Bernegara
Swadaya Mandiri
Forum Mahasiswa
Lingkaran Hidup
Pemahaman Keagamaan
Otonomi Daerah
Lemb Anak Indonesia
Parlementaria
Budaya
Kesehatan
Pariwisata
Hiburan
Pelita Hati
..
..
NILAI TUKAR RUPIAH
Source : www.klikbca.com
 JualBeli
USD 9200.00  9100.00  
SGD 6325.65  6236.65  
HKD 1187.90  1173.10  
CHF 7874.45  7769.45  
GBP 18868.05  18609.05  
AUD 8331.10  8203.10  
JPY 80.82  79.36  
SEK 1437.75  1407.65  
DKK 1776.20  1737.00  
CAD 9530.55  9376.55  
EUR 13145.74  12975.74  
SAR 2466.00  2426.00  
25-Okt-2007 / 15:41 WIB
 
 
 
Anak dan Disiplin Tubuh dalam Pendidikan
[Opini]

Anak dan Disiplin Tubuh dalam Pendidikan

Oleh Richa Miskiyya

ANAK sebagai aset diupayakan berkembang oleh orang tuanya. Tradisi keluarga kita, anak adalah generasi nepotis dari orang tua. Jika orang tuanya berprofesi sebagai dokter, arsitek, guru, pengusaha, pelukis, musikus dan profesi lain yang bisa digeluti hingga akhir hayat, maka pendidikan anak diarahkan secara politis dan nepotis agar bisa menggantikan jejak, atau paling tidak meniru langkah profesional orang tua.
Sekian les privat, kursus dan latihan-latihan keterampilan lain yang mengarahkan kepada kehendak orang tua dibuka seluas-luasnya oleh orang tua kita. Anak sejak dini diindroktrinasi secara mental dan psikologis agar besok anak menjadi seperti keinginan orang tua.
Anak pengacara dididik secara khusus di lembaga pendidikan hukum, bahkan sejak usia SD. Begitu juga anak sang kyai, sejak awal dimasukkan ke pesantren agar menjadi generasi penerus orang tua.
Memintarkan dan mendidik anak memang hak bagi setiap orang tua yang menginginkan kebaikan dan pencerahan masa depan. Namun bila dilihat secara psikologis, ada yang kurang tepat dalam indoktrinasi dini anak dari orang tua. Anak, dalam hal ini, dipaksa secara moral agar pendidikannnya bersesuaian dengan profesi yang digeluti orang tua.
Kalau kebetulan si anak cocok dengan keinginan orang tua, tak jadi masalah. Tapi bila tidak, hal yang demikian itu justru menjadi beban psikologis yang bisa memberatkan tumbuh-kembang anak. Orang tua yang tidak sukses menjadikan anak mengikuti jejaknya menganggap diri gagal.
Tubuh yang Patuh
Tubuh anak dipaksa untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan. Orang tua mendisiplinkan anak dengan menguasai tubuhnya. Dalam ruang peradaban, tubuh selalu dijadikan objek kuasa. Pada kasus indoktrinasi pendidikan anak, tubuh dikondisikan agar patuh terhadap titah kuasa orang tua.
Tubuh anak diatur, dikontrol dan dikoreksi agar tetap pada jalan benar yang digariskan orang tua. Waktu, energi, dan semua kesempatan personal anak diarahkan untuk meningkatkan kemampuan tubuh. Karena tubuh, dalam pemahaman Michel Foucault adalah yang harus patuh dan disiplin kepada kuasa.
Dalam Natural Symbols (1970) Mary Douglas membagi tubuh menjadi dua jenis: pertama, the self (individual body). Bentuk tubuh yang pertama adalah tubuh fisik yang dimiliki setiap orang. Tubuh fisik ini bisa mengalami kerusakan secara bilogis dan psikologis berupa sakit dan gangguan kejiwaan. Secara medis dan psikoanlisis, gangguan tubuh fisik bisa disembukan dalam jangka waktu yang relatif singkat.
Namun, perlu diingat bahwa gangguan bentuk tubuh pertama ini tidak bisa dilepaskan dari intervensi jenis tubuh kedua, yaitu, tubuh politis (the society, atau the body politics). Selanjutnya, pengalaman ketubuhan fisik selalu dipengaruhi oleh katagori-kategori sosial dan pengetahuan intelektual yang beredar di sekelilingnya.
Pandangan the self body, akan mengikuti the politic body sebagai lingkungan primer atau sekundernya. Apa yang pantas dan perlu diketahui dan dilakukan, yang mentransmisikan semua adalah tubuh politik tersebut.
Cara pandang orang tua bisa diketegorikan dalam tubuh politik yang memiliki kuasa mendisiplinkan tubuh anak. Anak dijadikan komoditas primordial yang seakan harus patuh terhadap keinginan dan kuasa orang tua. Pilihan masa depan anak harus selaras dengan keinginan orang tua.
Sekolah dan lembaga kursus pun dipilihkan sesuai selera ortu, meskipun tak sealur dengan potensi bakat dan minat anak. Banyak terjadi di lingkungan kita, seorang ortu tidak menyekolahkan anak di tempat pilihan orang tua.
Akibatnya, anak dipaksa mendapatkan prestasi yang tidak dia minati. Bila anak mendapatkan prestasi, orang tua menganggap telah berhasil dan sukses mendidik dan mencerdaskan generasi penerusnya.
Ironisnya, kecerdasan dalam pandangan orang tua kita selama ini identik dengan pencapaian nilai akademik seperti juara kelas, pintar cas-cis-cus menggunakan bahasa asing dan menyelesaikan soal matematika.
Kecerdasan
Manusia sebagai homo sapiens (berpikir) sebetulnya lebih kompleks daripada yang dibayangkan. Minat bawaan dan pandangan primordial alamiah masing-masing individu sangat beragam, sehingga potensi kecerdasannya juga bermacam-macam. Kecerdasan dalam bidang akademis hanyalah satu varian dari ragam kecerdasan yang dimiliki.
Gardner membagi kecerdesan dengan macam-macamnya. Gabungan kecerdasan itu disebut dengan multiple intelligence (kecerdasan majemuk). Macam kecerdasan itu adalah kecerdasan linguistik (kepekaan terhadap bunyi, struktur, makna kata dan fungsi bahasa), logis-matematis (kepekaan memahami pola-pola logis dan angka-angka numeris).
Spasial (kepekaan menangkap imajinasi gambar dan ruang secara akurat), musikal (kepekaan mencipta, mengapresiasi dan mengekapresikan emosi musikal), kinestetik (kepekaan mengontrol objek, respon dan reflek gerak tubuh), interpersonal (kepekaan merespon suasana hati dan keinginan orang lain), intrapersonal (kepekaan oraganisasional) serta kecerdasan natural (kepekaan mengenali spesies makhluk yang ada di alam).
Setiap kecerdasan memiliki risiko dan konsekuensi profesionalitas masa depan. Terutama dalam dunia kerja. Kita tidak mungkin menafikan bakat dan minat seseorang sejak kecil. Pendisiplinan tubuh anak hanya untuk memenuhi capaian prestasi akademis tak ubahnya mengebiri perkembangannya.
Bahwa kecerdasan tidak hanya berkaitan dengan intelektualitas semata, tetapi pula dalam segi emosional dan spiritual. Justru kecerdasan spiritual inilah yang kiranya penting dikembangkan untuk menunjang kecerdasan intelektual dan emosional agar tetap berada dalam batas etika kemanusiaan, tradisi dan agama.
Namun, akan jauh panggang dari api bila pendisiplinan tubuh dari kuasa orang tua dalam pendidikan anak belum melepas bebas. Sekian. (Penulis adalah penulis cerpen anak dan mahasiswi Fakultas Dakwah IAIN Walisongo Semarang).

 
Baca Komentar Beri Komentar
Kirimkan Artikel Cetak Artikel
 
 
Pesantren dan Pendidikan Moral Bangsa
Anak Balita, Gizi, dan Solusi
Perempuan dan Problem Gizi Buruk
Idham Chalid dan Ijtihad Politik Islam
Penertiban PT KAI yang Tidak Tertib