Halaman Muka | Kontak Kami | Tentang Kami | Iklan  | Arsip  Edisi Selasa, 28 Maret 2017  
Politik dan Keamanan
Ekonomi dan Keuangan
Metropolitan
Opini
Agama dan Pendidikan
Nusantara
Olah Raga
Luar Negeri
Assalamu'alaikum
Derap TNI-POLRI
Hallo Bogor
 
   
 
Login
 
      
 
Password
 
 
 
   
Dunia Tasawuf
Forum Berbangsa dan Bernegara
Swadaya Mandiri
Forum Mahasiswa
Lingkaran Hidup
Pemahaman Keagamaan
Otonomi Daerah
Lemb Anak Indonesia
Parlementaria
Budaya
Kesehatan
Pariwisata
Hiburan
Pelita Hati
..
..
NILAI TUKAR RUPIAH
Source : www.klikbca.com
 JualBeli
USD 9200.00  9100.00  
SGD 6325.65  6236.65  
HKD 1187.90  1173.10  
CHF 7874.45  7769.45  
GBP 18868.05  18609.05  
AUD 8331.10  8203.10  
JPY 80.82  79.36  
SEK 1437.75  1407.65  
DKK 1776.20  1737.00  
CAD 9530.55  9376.55  
EUR 13145.74  12975.74  
SAR 2466.00  2426.00  
25-Okt-2007 / 15:41 WIB
 
 
 
Karpet Merah India untuk Junta Militer
[Luar Negeri]

Karpet Merah India untuk Junta Militer

New Delhi, Pelita
Penguasa junta militer Myanmar, Than Shwe, menerima sambutan kehormatan penuh dengan digelarnya karpet merah di New Delhi di tengah sejumlah kritik dari kelompok sayap kanan, Selasa (27/7).

Jenderal Shwe mendapat upacara penyambutan penuh di istana kepresidenan, meskipun tradisi kawal kehormatan ditiadakan karena hujan memaksa upacara di dalam ruangan.

Than Shwe (77 tahun) bertemu dengan Menteri Luar Negeri India, S.M. Krishna setelah upacara penyambutan, dan dijadwalkan akan melakukan pembicaraan dengan Perdana Menteri (PM) Manmohan Singh pada Selasa malam.

Pemimpin junta Myanmar, yang mengawasi penindasan tanpa henti terhadap protes-protes pro-demokrasi yang dipimpin para biksu di Myanmar pada 2007, kemudian meletakkan karangan bunga di musoleum bagi pahlaman kemerdekaan India dan ikon anti-kekerasan Mahatma Gandhi.

Kelompok-kelompok hak asasi manusia (HAM) mengecam keputusan India untuk memberikan legitimasi kunjungan kenegaraan penuh Than Shwe, yang dipandang pariah oleh negara-negara Barat yang menargetkan rezimnya dengan sanksi-sanksi.

Setelah mendukung setia ikon demokrasi Myanmar, Aung San Suu Kyi, India mulai mendekati junta pada pertengahn tahun 1990-an pada saat prioritas keamanan, energi dan strateginya mulai mengesampingkan kekhawatiran demokrasi dan HAM.

Selain memerlukan bantuan rezim militer untuk menghadapi separatis etnis yang beroperasi di sepanjang perbatasan bersama mereka, India melirik ladang minyak dan gas di Myanmar, yang dulunya Burma, dan takut ketinggalan dengan China dalam persaingan pengaruh strategi di Asia.

China adalah sekutu penting junta dan mitra perdagangan, serta investor yang menggebu di negara itu terutama di sektor sumberdaya alam.

Pada November produser minyak terkemukanya mulai melakukan pembangunan saluran pipa menyeberangi Myanmar.

India menggadaikan suaranya mengenai masalah politik dan HAM di Burma, kata Elaine Pearson, direktur Asia pengamat HAM internasional, Human Rights Watch (HRW) yang bermarkas di New York.

Singh harus membuat titik untuk suara publik yang pada prinsipnya mengritiki kecurangan undang-undang pemilu Burma dan pembatasan pada kebebasan dasar di Myanmar, kata Pearson.

Kunjungan Than Shwe memicu aksi-aksi protes dari kalangan pro-demokrasi Myanmar di New Delhi, Senin, yang meneriakkan slogan dan membawa poster yang bertuliskan pemimpin pembunuh rakyat tidak bersalah dan diktator militer.(afp/ant/rid)

 
Baca Komentar Beri Komentar
Kirimkan Artikel Cetak Artikel
 
 
Blair: Keberadaan Hamas Justru Membantu
Intelijen Pakistan Dituding Dukung Taliban
Duch Hanya Diganjar 19 Tahun Setelah Siksa 16.000 Orang
Banjir Besar di China 52 Tewas dan 20 Hilang
Velezuela Bekukan Hubungan Diplomatik dengan Kolumbia