Halaman Muka | Kontak Kami | Tentang Kami | Iklan  | Arsip  Edisi Senin, 27 Februari 2017  
Politik dan Keamanan
Ekonomi dan Keuangan
Metropolitan
Opini
Agama dan Pendidikan
Nusantara
Olah Raga
Luar Negeri
Assalamu'alaikum
Derap TNI-POLRI
Hallo Bogor
 
   
 
Login
 
      
 
Password
 
 
 
   
Dunia Tasawuf
Forum Berbangsa dan Bernegara
Swadaya Mandiri
Forum Mahasiswa
Lingkaran Hidup
Pemahaman Keagamaan
Otonomi Daerah
Lemb Anak Indonesia
Parlementaria
Budaya
Kesehatan
Pariwisata
Hiburan
Pelita Hati
..
..
NILAI TUKAR RUPIAH
Source : www.klikbca.com
 JualBeli
USD 9200.00  9100.00  
SGD 6325.65  6236.65  
HKD 1187.90  1173.10  
CHF 7874.45  7769.45  
GBP 18868.05  18609.05  
AUD 8331.10  8203.10  
JPY 80.82  79.36  
SEK 1437.75  1407.65  
DKK 1776.20  1737.00  
CAD 9530.55  9376.55  
EUR 13145.74  12975.74  
SAR 2466.00  2426.00  
25-Okt-2007 / 15:41 WIB
 
 
 
KKP Kurangi Impor Produk Perikanan
[Ekonomi dan Keuangan]

KKP Kurangi Impor Produk Perikanan

Jakarta, Pelita
Pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) akan mengurangi impor dengan memperketat masuknya produk perikanan melalui peraturan menteri tentang mutu dan keamanan hasil perikanan.
Hal ini serupa dengan yang dilakukan oleh negara-negara maju seperti Uni Eropa sebagai negara tujuan ekspor produk perikanan Indonesia.
Tekadnya untuk mengurangi impor, apalagi impor yang dilakukan selama ini tidak hanya impor ikan besar. Tetapi juga ada impor ikan asin dari India, agar-agar, termasuk makanan udang (artemia). Hal ini terjadi karena Indonesia belum punya teknologi pengolahan yang memadai.
Meskipun impor terhitung cukup besar, namun ekspor kita masih surplus pada 2009 mencapai 2,2 juta dolar AS. Pada semester I/2010 surplus 756 juta dolar AS.
Sehingga pakhir 2010 diperkirakan surplus 2,3 juta dolar AS, tapi itu belum memenuhi target sebesar 2,9 juta dolar AS, kata Setditjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan (P2HP) Victor PH Nikijuluw, di Jakarta, Selasa (27/7).
Dia mengatakan, pemberitaan pada akhir bulan ini berkembang seolah impor perikanan sangat besar sekitar 32 persen, sementara peningkatan ekspor kwartal I/2010 sekitar delapan persen. Hal ini merupakan isu yang menarik termasuk anggota DPR ikut menanyakannya.
Impor yang meningkat tinggi sulit dihindari karena komposisinya. Sementara, data KKP menyatakan impor produk perikanan pada 2010 sebesar 100,8 juta ton dengan nilai 103,5 juta dolar AS atau sebesar 32 persen, terdiri dari ikan segar beku sebesar 43 juta ton dengan nilai 37 juta dolar AS untuk jenis ikan salmon.
Impor dalam bentuk tepung udang dan tepung ikan sebesar 26,7 persen terdiri dari tepung udang sebesar 14,7 persen dan tepung ikan sebesar 12 persen, sedangkan jenis impor lainnya yaitu lemak dan minyak ikan delapan persen.
Victor menilai, impor ikan segar beku itu yang menyebabkan impor menjadi besar. Ikan segar beku ini adalah jenis ikan yang berasal dari perairan sub tropis seperti ikan salmon.
Kita tidak bisa menghindari impor ikan jenis ini karena jumlah orang asing yang tinggal di Indonesia cukup banyak dan jenis ikan ini banyak dikonsumsi oleh mereka, ujarnya.
Begitupun jenis ikan Norwegian salmon dari Norwegia dan Tazmanian salmon dari Tazmania. Kedua jenis ikan ini tidak ada di pasaran, sehingga Indonesia harus impor untuk memenuhi kebutuhan konsumsi orang asing yang tinggal di Indonesia, harganya juga sangat mahal.
Sedangkan impor jenis tepung udang dan ikan untuk sektor peternakan, seperti pakan untuk ayam broiler serta sektor budidaya perikanan. (cr-1)

 
Baca Komentar Beri Komentar
Kirimkan Artikel Cetak Artikel
 
 
Kompor Gas Hanya Dapat Dipakai Dua Tahun
IHSG Bertahan di Level Psikologis
Tiket KA Lebaran Bisa Dipesan di ATM
Bank DKI Undi Mobil dan 25 Motor untuk Nasabah
Presiden: 19 Juta Rumah Tangga Belum Nikmati Listrik