Halaman Muka | Kontak Kami | Tentang Kami | Iklan  | Arsip  Edisi Selasa, 28 Maret 2017  
Politik dan Keamanan
Ekonomi dan Keuangan
Metropolitan
Opini
Agama dan Pendidikan
Nusantara
Olah Raga
Luar Negeri
Assalamu'alaikum
Derap TNI-POLRI
Hallo Bogor
 
   
 
Login
 
      
 
Password
 
 
 
   
Dunia Tasawuf
Forum Berbangsa dan Bernegara
Swadaya Mandiri
Forum Mahasiswa
Lingkaran Hidup
Pemahaman Keagamaan
Otonomi Daerah
Lemb Anak Indonesia
Parlementaria
Budaya
Kesehatan
Pariwisata
Hiburan
Pelita Hati
..
..
NILAI TUKAR RUPIAH
Source : www.klikbca.com
 JualBeli
USD 9200.00  9100.00  
SGD 6325.65  6236.65  
HKD 1187.90  1173.10  
CHF 7874.45  7769.45  
GBP 18868.05  18609.05  
AUD 8331.10  8203.10  
JPY 80.82  79.36  
SEK 1437.75  1407.65  
DKK 1776.20  1737.00  
CAD 9530.55  9376.55  
EUR 13145.74  12975.74  
SAR 2466.00  2426.00  
25-Okt-2007 / 15:41 WIB
 
 
 
Mewaspadai Cuaca
[Assalamu'alaikum]

Mewaspadai Cuaca

CUACA di Indonesia akhir-akhir ini semakin terasa berubah-ubah. Panas terik matahari bisa saja tiba-tiba berganti dengan hujan, baik rintik-rintik, sedang maupun hujan lebat sekali yang bisa menyebabkan terjadinya banjir. Cuaca yang tiada menentu tersebut membuat masyarakat sulit melakukan suatu prediksi.
Di laut demikian pula keadaannya. Arus air laut juga bisa berubah menjadi gelombang yang tiba-tiba saja menjulang tinggi yang mampu menenggelamkan kapal-kapal kecil. Karena itu, banyak nelayan yang terkadang tak lagi berani melaut.
Selain hujan di daratan, angin juga terkadang mengamuk. Akibatnya banyak rumah, bangunan, dan pepohonan yang rusak dibuatnya. Apalagi jika yang muncul angin puting beliung, hampir bisa dipastikan kerusakan yang diakibatkan juga lebih parah lagi.
Kenapa cuaca berubah-ubah? Tidak seperti masa lalu, antara musim panas dan musim hujan hampir bisa dipastikan waktunya. Sehingga memudahkan para petani untuk menentukan musim tanam padi. Masa panennya juga bisa dihitung dengan mudah. Tapi dewasa ini, sulit melakukan hal itu. Penyebabnya adalah cuaca yang tiada menentu.
Mudah-mudahan cuaca tersebut sudah menjadi bahan pemikiran pemerintah, terutama kaitannya dengan produksi dan persediaan pangan, khususnya untuk memenuhi kebutuhan di dalam negeri.
Beberapa hari lalu, Kementerian Pertanian mengungkapkan selama bulan Januari hingga Juni 2010, bencana banjir di Indonesia telah menggenangi areal persawahan padi seluas 142.455 hektar. Bencana banjir tersebut mengakibatkan 38.314 hektar sawah gagal panen atau puso. Banjir terluas pada tahun ini, terjadi di Provinsi Jawa Timur, Lampung, Sulawesi Selatan, dan Jawa Tengah.
Menurut Kementerian Pertanian, luas sawah yang terkena banjir pada semester satu tahun ini lebih rendah jika dibandingkan periode yang sama pada 2009. Pada bulan Januari hingga Juni 2009, luas pertanaman padi yang terkena banjir mencapai 174.261 hektar yang menyebabkan kegagalan panen seluas 55.872 hektar.
Selain banjir, kekeringan juga melanda persawahan di Indonesia. Menurut data Kementerian Pertanian, areal persawahan yang mengalami kekeringan selama enam bulan pertama tahun 2010, mencapai 91.885 hektar dengan puso 20.060 hektar. Persawahan yang terkena kekeringan tahun ini meningkat dibandingkan bulan Januari hingga Juni 2009 yang hanya seluas 48.098 hektar serta puso 2.818 hektar.
Kerentanan pangan di Indonesia juga dipicu oleh ketergantungan terhadap beras sebagai bahan pangan pokok masyarakat, karena suplai komoditas tersebut terbatas. Seperti dikatakan oleh Menteri Pertanian Suswono, saat ini konsumsi beras di Indonesia sangat tinggi yakni mencapai 139 Kg/kapita/tahun, padahal negara-negara lain umumnya di bawah 100/Kg/kapita/tahun.
Hal itu tentu menjadi masalah yang serius bagi negara kita. Apalagi jumlah penduduk Indonesia terus bertambah yang semuanya memerlukan pangan. Jika hal itu tidak diantisipasi dengan sebaik-baiknya, kami khawatir di Indonesia terjadi kerawanan pangan. Apalagi dengan cuaca yang tiada menentu.
Jika Presiden Soeharto pernah menggagas untuk mewujudkan keberagaman pangan untuk rakyat Indonesia, kenapa tidak kita hidupkan kembali ide mulia itu?

 
Baca Komentar Beri Komentar
Kirimkan Artikel Cetak Artikel
 
 
Risiko Kebijakan
BPIH Tahun 2010
Gangguan Listrik
Sensitifitas Kerakyatan
Menegakkan Disiplin