Halaman Muka | Kontak Kami | Tentang Kami | Iklan  | Arsip  Edisi Jum'at, 24 Februari 2017  
Politik dan Keamanan
Ekonomi dan Keuangan
Metropolitan
Opini
Agama dan Pendidikan
Nusantara
Olah Raga
Luar Negeri
Assalamu'alaikum
Derap TNI-POLRI
Hallo Bogor
 
   
 
Login
 
      
 
Password
 
 
 
   
Dunia Tasawuf
Forum Berbangsa dan Bernegara
Swadaya Mandiri
Forum Mahasiswa
Lingkaran Hidup
Pemahaman Keagamaan
Otonomi Daerah
Lemb Anak Indonesia
Parlementaria
Budaya
Kesehatan
Pariwisata
Hiburan
Pelita Hati
..
..
NILAI TUKAR RUPIAH
Source : www.klikbca.com
 JualBeli
USD 9200.00  9100.00  
SGD 6325.65  6236.65  
HKD 1187.90  1173.10  
CHF 7874.45  7769.45  
GBP 18868.05  18609.05  
AUD 8331.10  8203.10  
JPY 80.82  79.36  
SEK 1437.75  1407.65  
DKK 1776.20  1737.00  
CAD 9530.55  9376.55  
EUR 13145.74  12975.74  
SAR 2466.00  2426.00  
25-Okt-2007 / 15:41 WIB
 
 
 
HARAPAN BARU SETELAH HARI KELUARGA
Laporan: Prof Dr Haryono Suyono

[Swadaya Mandiri]

Dalam rangkaian peringatan Hari Keluarga Nasional yang diresmikan di Palu, Sulawesi Tengah, oleh Wakil Presiden RI, Prof. Dr. Boediono, akhir bulan lalu, Ketua Yayasan Damandiri, Prof. Dr. Haryono Suyono, sempat mengadakan pertemuan dengan Rektor Universitas Tadulako, Drs. Sahabuddin Mustafa, Msi. Disamping itu diadakan pula pertemuan khusus dengan Pembantu Rektor, para dosen dan pengurus organisasi mahasiswa dari berbagai fakultas dan program studi yang hadir pada Seminar Nasional tentang Pembangunan berbasis Penduduk dan Kearifan lokal tentang kemungkinan kegiatan bersama untuk membangun keluarga.
Dalam berbagai pertemuan itu dijelaskan tentang tantangan pembangunan yang dihadapi bangsa dewasa ini serta posisi Indonesia dalam kancah dunia, khususnya posisinya dalam urutan Index Pembangunan Manusia (IPM), atau yang terkenal di seluruh dunia dalam urutan Human Development Index (HDI). Dalam urutan ini Indonesia berada pada posisi ke 111 dari sekitar 182 negara. Dengan kondisi penduduk yang diperkirakan bertambah jumlahnya di luar perkiraan semula menimbulkan tanda tanya besar bahwa tingkat kemiskinan yang diperkirakan makin menurun bisa meningkat lagi. Bisa juga terjadi pencapaian berbagai sasaran pembangunan Abad Millennium tergoncang karena perkiraan penduduk yang meleset tersebut.
Dalam pertemuan dengan Rektor Tadulako dibahas secara rinci langkah-langkah apa yang dapat dilakukan oleh perguruan tinggi dengan jumlah mahasiswa lebih dari 22.000 dengan reputasi yang unggul tersebut. Kegiatan Tri Dharma Perguruan Tinggi dalam bidang pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang antara lain diwujudkan melalui Kuliah Kerja Nyata dapat menjadi sarana yang sangat ampuh untuk mendampingi dan membantu masyarakat luas, utamanya di pedesaan, dalam menterjemahkan ilmu untuk merangsang kehidupan yang lebih sejahtera. Prof. Dr. Haryono Suyono sebagai Ketua Yayasan Damandiri atau Ketua Umum DNIKS yang akhir-akhir ini menggalakkan Safari Gempita Mutiara Bangsa mengajak Rektor untuk bergabung dengan berbagai perguruan tinggi lain ikut gerakan nasional yang memberi kesempatan kepada setiap mahasiswa untuk ikut membangun Pos Pemberdayaan Keluarga di pedesaan sebagai forum silaturahmi dan sekaligus koordinator untuk memadukan berbagai program dalam sinergi yang positip meningkatkan IPM dan mencapai sasaran MDGs.
Dalam pertemuan itu disepakati untuk menggelar Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Posdaya dalam rangkaian Safari Gempita Mutiara Bangsa yang akan menghasilkan pembentukan Posdaya di seluruh desa di Sulawesi Tengah dengan menerjunkan 1500 sampai 2000 mahasiswa yang akan dibekali dengan pengertian yang mendalam tentang MDGs dan program serta kegiatan yang dapat merangsang pencapaian delapan sasaran maupun target-target yang harus dituntaskan pada tahun 2015 yang akan datang.

Disepakati dengan Rektor dan pembantu Rektor yang mendampingi pertemuan itu untuk meninjau kegiatan KKN Tematik Posdaya di Yogyakarta yang terlebih dulu telah melaksanakan pembentukan Posdaya di berbagai kabupaten/kota di Provinsi tersebut. Team dari Universitas Tadolako serta jajaran Pemerintah Provinsi Sulteng akan diberangkatkan segera dengan tujuan langsung meninjau kegiatan pembentukan dan pengisian Posdaya di Bantul, Kulon Progo, Sleman atau Kota Yogyakarta. Team ini akan didampingi pimpinan dan staf dari berbagai dinas yang diharapkan akan membangun sinergi berbagai masukan pembangunan yang ditujukan untuk peningkatan kesejahteraan rakyat banyak.
Segera setelah dilakukan peninjauan yang efektip di Yogyakarta diharapkan jajaran Universitas bersama Pemda dapat mempersiapkan pemetaaan desa-desa yang akan dijadikan ajang kegiatan KKN oleh ribuan mahasiswa yang umumnya akan tinggal bersama masyarakat selama satu atau dua bulan. Oleh karena itu langkah pertama yang diharapkan akan segera dilakukan di Palu adalah mengadakan pertemuan dengan jajaran pemerintah daerah di seluruh Sulawesi Tengah dengan kalangan perguruan tinggi untuk merancang pemetaan dan persiapan lapangan di seluruh provinsi. Persiapan ini termasuk membangun komitmen pembangunan yang lebih terbuka dimana partisipasi masyarakat sangat diperhitungkan dan disinkronkan melalui fasilitasi yang tinggi dari masing-masing pemerintah tingkat kabupaten dan kota.
Dengan adanya persiapan persiapan itu diharapkan setelah Hari Raya Idul Futri bisa segera dilakukan pelatihan para mahasiswa dan dosen pembimbing untuk menerjunkan 2000 mahasiswa ke seluruh desa di Sulawesi Tengah. Pelatihan mahasiswa diharapkan dapat dibantu tenaga dosen dari Universitas Gajah Mada, Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa dari Yogyakarta yang selama ini secara bersama telah berhasil membangun dan mengisi Posdaya di beberapa kabupaten atau kota di seluruh Yogyakarta. Kegiatan awal di Sulawesi Tengah itu diharapkan bisa juga dibantu oleh tenaga dosen dan Kepala BKKBN dari Gorontalo yang telah berhasil membangun ratusan Posdaya di beberapa kabupaten/kota di Gorontalo.
Apabila ratusan Posdaya di Sulawesi Tengah itu bisa dibangun dan diisi kegiatannya untuk merampungkan sasaran dan target-target MDGs, diharapkan posisi Indonesia pada tahun 2015 dapat tertolong dan tidak mengecewakan. Posisi yang dirasa sangat berat dewasa ini adalah upaya pengentasan kemiskinan karena kualitas sumber daya manusia yang relatip rendah, tingkat kematian ibu dan anak yang relatip tinggi serta kondisi lingkungan yang perlu ditingkatkan agar tumbuh suasana yang merangsang pengembangan budaya kerja keras dan memberi penghasilan yang memadai untuk kehidupan yang bahagia dan sejahtera. (Prof. Dr. Haryono Suyono, Ketua Yayasan Damandiri).

 
Baca Komentar Beri Komentar
Kirimkan Artikel Cetak Artikel
 
 
REBRANDING PROGRAM KB DI INDONESIA
MEMBANGUN KEMBALI GERAKAN KB DI INDONESIA
GEBRAKAN KOPERASI DALAM SAFARI GEMPITA MUTIARA BANGSA
ANAK BANGSA ADALAH PEMIMPIN MASA DEPAN
MERAJUT BUDAYA NASIONAL DARI BUDAYA LOKAL