Halaman Muka | Kontak Kami | Tentang Kami | Iklan  | Arsip  Edisi Senin, 27 Februari 2017  
Politik dan Keamanan
Ekonomi dan Keuangan
Metropolitan
Opini
Agama dan Pendidikan
Nusantara
Olah Raga
Luar Negeri
Assalamu'alaikum
Derap TNI-POLRI
Hallo Bogor
 
   
 
Login
 
      
 
Password
 
 
 
   
Dunia Tasawuf
Forum Berbangsa dan Bernegara
Swadaya Mandiri
Forum Mahasiswa
Lingkaran Hidup
Pemahaman Keagamaan
Otonomi Daerah
Lemb Anak Indonesia
Parlementaria
Budaya
Kesehatan
Pariwisata
Hiburan
Pelita Hati
..
..
NILAI TUKAR RUPIAH
Source : www.klikbca.com
 JualBeli
USD 9200.00  9100.00  
SGD 6325.65  6236.65  
HKD 1187.90  1173.10  
CHF 7874.45  7769.45  
GBP 18868.05  18609.05  
AUD 8331.10  8203.10  
JPY 80.82  79.36  
SEK 1437.75  1407.65  
DKK 1776.20  1737.00  
CAD 9530.55  9376.55  
EUR 13145.74  12975.74  
SAR 2466.00  2426.00  
25-Okt-2007 / 15:41 WIB
 
 
 
Anak Balita, Gizi, dan Solusi
[Opini]

Anak Balita, Gizi, dan Solusi

Oleh Hendrizal SIP

DALAM momen Hari Anak Nasional 23 Juli 2010 ini, ada baiknya direnungkan masalah peningkatan jumlah anak bayi penderita gizi buruk di Indonesia. Beberapa waktu lalu disinyalir, saat ini 1,7 juta dari 19 juta anak balita di berbagai pelosok Indonesia terancam gizi buruk.
Kondisi itu cukup merisaukan mengingat gizi terkait erat tingginya angka kesakitan dan kematian anak balita serta penurunan kualitas sumber daya manusia pada masa mendatang.
Di Kota Depok, Jabar, tak jauh dari pusat pemerintahan RI, jumlah penderita gizi buruk malah tergolong banyak, 1.133 anak. Umumnya, orangtua mereka bekerja sebagai pemulung, pengemis, kuli bangunan, serabutan.
Ironisnya, gizi buruk terjadi pula di Makassar, Sulsel. Pada daerah lumbung pangan nasional ini, sedikitnya 20 balita menderita gizi buruk. Walikota Makassar menyayangkan masih ada warganya yang menderita gizi buruk. Padahal pemerintah kota telah menyiapkan berbagai fasilitas kesehatan bagi penduduk tak mampu.
Merebaknya kasus gizi buruk dan busung lapar di Tanah Air belakangan ini, tak lepas dari laporan yang terlambat. Departemen Sosial sebagai instansi yang bertugas mengatasi bencana termasuk kelaparan, misalnya, sering terlambat memberikan bantuan karena lambannya informasi dari daerah.
Di samping itu, ada pula gejala kurangnya koordinasi antarinstansi pemerintah. Data tentang penderita gizi buruk dan busung lapar di berbagai daerah, sebenarnya, sudah dimiliki Departemen Kesehatan.
Berdasarkan data itu, Jabar memiliki penderita gizi buruk terbanyak, lebih 18 ribu kasus. Posisi kedua Nusa Tenggara Timur, disusul Jateng 13 ribu kasus.
Posisi keempat, provinsi yang dekat ibu kota RI, Banten. Kemudian Jatim, Nanggroe Aceh Darussalam dan Nusa Tenggara Barat dengan jumlah kasus 3 ribu orang. Menyusul Papua, Gorontalo dan Sulawesi Tenggara dengan jumlah kasus 1.000 orang.
Dengan demikian, masalah gizi buruk akan tetap menjadi ancaman bila instansi-instansi terkait tak segera membenahi diri, mulai perencanaan aksi, pelaporan kasus, hingga koordinasi antarinstansi.
Itu penting dicatat. Bila mengacu laporan terbaru UNICEF, bahkan diketahui, jumlah anak balita yang menderita gizi buruk di Indonesia, tak hanya 1,7 juta orang. Gizi buruk pada balita sudah menjadi 2,3 juta jiwa. Ini berarti naik 500.000 jiwa dibandingkan tahun 2004/2005 sejumlah 1,8 juta jiwa.
Dokter Tb Rachmat Sentika SpA MARS dari Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), menyatakan, peningkatan jumlah anak balita gizi buruk itu sangat mengkhawatirkan, karena itu dapat menyebabkan hilangnya satu generasi (lost generation). Menurutnya, 2,3 juta anak balita gizi buruk ini dikhawatirkan mengalami kerusakan otak yang tak mungkin lagi diperbaiki. Akibat kerusakan otak itu, anak akan bodoh permanen.
Tapi apakah penyebab kasus gizi buruk pada balita itu? Kemiskinankah? Memang selama ini banyak pihak berasumsi, penyebab gizi buruk pada balita adalah kemiskinan. Namun, perlu dicatat, anggapan bahwa gizi buruk yang banyak diderita anak balita di negeri ini hanya menimpa rumah tangga miskin, tak sepenuhnya benar.
Dalam Rapat Koordinasi Dewan Ketahanan Pangan Kabupaten Tegal beberapa waktu lalu, terungkap, anak juragan warung tegal yang amat berkecukupan, menderita gizi buruk. Sesudah diselidiki intensif oleh petugas Puskesmas, diketahui pola asuh anak menjadi penyebab gizi buruk pada anak itu.
Mengingat keterbatasan pengetahuan tentang gizi, setiap hari anak itu diberi makan mie instan. Kasus ini sesuai hasil riset Prof Soekirman, ahli gizi IPB. Katanya, pola asuh anak berpengaruh signifikan terhadap kasus gizi buruk. Anak yang diasuh dengan kasih sayang, sang ibu mengerti tentang pentingnya air susu ibu (ASI), posyandu dan kebersihan, walau mereka sama-sama miskin, anaknya tetap sehat.
Jadi, kemiskinan bukan satu-satunya penyebab gizi buruk, masih banyak faktor lain semisal pendidikan rendah, kurangnya kesempatan kerja, dan budaya. Di sinilah pentingnya pemberian pengetahuan tentang kesehatan, perubahan budaya dan pemberdayaan masyarakat.
Juga, penting mendukung program dan upaya pemerintah mendorong agar semua desa di Indonesia menjadi Desa Siaga, di mana ia termasuk langkah yang tepat dalam memantau dan melaksanakan usaha-usaha di bidang kesehatan.
Desa Siaga ialah desa yang warganya selalu siaga dalam menghadapi bencana dan keadaan darurat. Masyarakatnya juga mampu melaksanakan program-program seperti keluarga berencana, imunisasi dan perbaikan gizi.
Di sini pulalah penting mendukung program pemerintah yang mencanangkan program Keluarga Sadar Gizi. Berbagai langkah mencapai tujuan itu antara lain dengan memantau berat badan anak secara rutin tiap bulan di posyandu.
Perlu diketahui, gizi buruk melalui proses panjang dan dapat diantisipasi sejak dini. Melalui kegiatan penimbangan berat badan balita setiap bulan di posyandu, serta melalui pola asuh anak yang baik dan benar, akan diketahui tingkat perkembangan anak dari Kartu Menuju Sehat.
Juga perlu dilakukan kampanye berkelanjutan tentang arti penting memberikan ASI eksklusif pada bayi sejak lahir sampai usia 6 bulan. Sumber zat gizi terbaik bagi bayi ialah ASI. Cairan yang pertama keluar dari ASI, kolostrum, mengandung bahan anti penyakit. Anak-anak penting pula diberi beraneka ragam makanan, suplemen gizi sesuai anjuran, dan konsumsi garam beryodium.
Soal budaya, selama ini masih banyak kultur di masyarakat yang kurang mendukung kesadaran pentingnya gizi anak. Misalnya, menurut ukuran ekonomi suatu rumah tangga termasuk katagori kekurangan, tapi pengeluaran untuk konsumsi rokok cukup tinggi. Riset mengungkapkan, pengeluaran konsumsi rokok di daerah urban mencapai 11,1-14,2 persen dibanding pengeluaran konsumsi makanan. Sementara untuk daerah rural, konsumsi rokok mencapai 11,2-16,6 persen.
Dari data itu, ternyata, banyak rumah tangga lebih memprioritaskan rokok ketimbang membeli makanan bergizi untuk anaknya. Kultur ini sudah waktunya dihilangkan kalau kita tak mau lost generation betul-betul terjadi di masa depan di negara ini. Camkan itu! (Hendrizal SIP adalah Dosen PGSD FKIP Universitas Bung Hatta (UBH) Padang).

 
Baca Komentar Beri Komentar
Kirimkan Artikel Cetak Artikel
 
 
Perempuan dan Problem Gizi Buruk
Idham Chalid dan Ijtihad Politik Islam
Penertiban PT KAI yang Tidak Tertib
Ruang Sempit Fantasi dan Tabularasa Anak
Sampai Lebaran Kuda Prestasi PSSI Tidak Bakal Berubah