Halaman Muka | Kontak Kami | Tentang Kami | Iklan  | Arsip  Edisi Sabtu, 21 Januari 2017  
Politik dan Keamanan
Ekonomi dan Keuangan
Metropolitan
Opini
Agama dan Pendidikan
Nusantara
Olah Raga
Luar Negeri
Assalamu'alaikum
Derap TNI-POLRI
Hallo Bogor
 
   
 
Login
 
      
 
Password
 
 
 
   
Dunia Tasawuf
Forum Berbangsa dan Bernegara
Swadaya Mandiri
Forum Mahasiswa
Lingkaran Hidup
Pemahaman Keagamaan
Otonomi Daerah
Lemb Anak Indonesia
Parlementaria
Budaya
Kesehatan
Pariwisata
Hiburan
Pelita Hati
..
..
NILAI TUKAR RUPIAH
Source : www.klikbca.com
 JualBeli
USD 9200.00  9100.00  
SGD 6325.65  6236.65  
HKD 1187.90  1173.10  
CHF 7874.45  7769.45  
GBP 18868.05  18609.05  
AUD 8331.10  8203.10  
JPY 80.82  79.36  
SEK 1437.75  1407.65  
DKK 1776.20  1737.00  
CAD 9530.55  9376.55  
EUR 13145.74  12975.74  
SAR 2466.00  2426.00  
25-Okt-2007 / 15:41 WIB
 
 
 
Perempuan dan Problem Gizi Buruk
[Opini]

Perempuan dan Problem Gizi Buruk

Oleh Siti Fathimatuz Zahroh, AMG

MENCERMATI data yang dirilis Balitbang Departemen Kesehatan (Depkes) setahun lalu, kita pasti miris. Pasalnya, lebih dari 37 persen anak bawah lima tahun (balita) di negeri ini kekurangan gizi; yang ditandai dengan bentuk fisik stunted, atau tinggi badan tidak sesuai dengan umur. Depkes juga menyebutkan jika saat ini, angka gizi buruk meningkat tajam, dan menyerang lebih dari 48 persen balita merata di 23 propinsi.
Fenomena gizi buruk tentu saja menjadi preseden buruk, ketika pemerintah mengaku sukses menggulirkan pembangunan. Artinya, ada satu aspek pembangunan yang terlupakan atau sengaja dilupakan oleh pemerintah.
Padahal aspek itu sangat berperan dalam kesuksesan pembangunan sumberdaya manusia (SDM). Jika pemerintah dan seluruh masyarakat tidak segera bertindak, dikhawatirkan akan hilang satu generasi mendatang: baik aspek jasmani maupun intelektualitasnya.
Minim Kesadaran
Jika dikaji dengan cermat, problem gizi buruk sejatinya tidak hanya menyerang golongan ekonomi menengah ke bawah, tetapi juga golongan atas. Penyebabnya bisa bermacam, seperti asupan makanan, pola makan, kesadaran gizi, dan pola asuh yang buruk.
Bagi masyarakat miskin, ketidaktersediaan bahan makanan menjadi faktor utama. Jangankan membeli makanan yang bergizi, buat bertahan hidup sehari-hari saja sudah sulit.
Meskipun sebenarnya bahan makanan bergizi tersedia seperti telur ayam, daging, buah-buahan, sayur-mayur dan hasil kebun lain, tetapi mereka lebih memilih menjualnya demi mendapat bahan-bahan yang lebih urgen.
Bagi golongan mampu, bahan makanan bergizi tidak menjadi masalah. Tetapi faktor utamanya lebih pada pola makan, kesadaran gizi, dan tanggungjawab ibu ramah tangga yang kurang bijak. Ketika kaum ibu, demi sebuah status sosial dan alasan ekonomi ikut mencari nafkah, pola makan keluarga, khususnya putra-putri mereka terabaikan.
Karena kesibukan itu pula, para wanita karier kurang sabar menyuapi putra-putrinya, dan menyajikan menu yang bergizi bagi keluarga. Mereka lebih memilih susu formula atau makanan cepat saji, ketimbang memberi air susu ibu (ASI) atau makanan bergizi yang menyita waktu karena harus dimasak terlebih dahulu. Padahal, tidak semua susu formula bagus dan memiliki kandungan gizi yang sebanding dengan kebutuhan anak di masa pertumbuhan. Begitu pula dengan makanan cepat saji, hanya menyumbang karbohidrat berlebih, lemak dan sedikit protein; yang justru menyuburkan berbagai penyakit.
Apalagi, ketika para wanita karier itu mempercayakan pengasuhan putra-putrinya pada pembantu atau babysister. Memang tidak semua pembantu atau babysister awam tentang gizi, tetapi pada umunya mereka miskin pengetahuan tentang hal itu.
Akibatnya anak-anak diperlakukan sekenanya; yang penting tidak rewel, tidak menangis, dan tidak menyita kesibukan ibu-ibunya. Maka jangan ditanya lagi asupan gizi yang diperoleh.
Akibat buruk, tulis Rachmat Sentika (2010), anak akan mengalami berbagai penyakit yang sangat membahayakan; seperti tumbuh kembang otak yang kurang optimal dan sebagainya. Jika status gizi tidak diperbaiki, sel-sel otak tidak bisa berkembang dan sulit dipulihkan.
Perkembangan jaringan otak dengan stimulasi mencapai 80 persen pada usia 0-3 tahun. Pada usia 10 tahun perkembangan jaringan otak yang sehat disertai stimulasi akan mencapai 90 persen. Tanpa stimulasi perkembangan jaringan otak akan jauh di bawah persentase tersebut.
Kekurangan gizi pada balita lebih mengerikan lagi. Tubuh balita akan mengalami keseimbangan negatif, di mana berat badan akan kurang dari berat badan ideal. Dampak gizi buruk terparah pada balita adalah marasmus.
Keadaaan ini ditandai dengan kulit kering, tipis, tidak lentur, serta mudah berkerut. Rambut tipis, jarang, kering, tanpa kilap normal, dan mudah dicabut tanpa menyisakan rasa sakit. Penderita kelihatan apatis, meskipun biasanya masih sadar, dan menampakkan gurat kecemasan. Tanda-tanda itu, disokong dengan lekukan pada pipi dan cekungan di mata,menjelaskan gambaran wajah seperti orang tua.
Sementara kekurangan gizi pada masa remaja dan usia sekolah, mengakibatkan gangguan pertumbuhan, produktivitas menurun, dan tingkat kecerdasan yang rendah. Itu artinya, anak menjadi bodoh, lamban gerak, dan sangat sulit meraih prestasi.
Generasi muda demikian, jelas akan menghambat sekaligus menjadi beban pembangunan. Jika dibiarkan, 20 tahun ke depan akan muncul satu rantai generasi yang hilang.
Tugas Perempuan
Sebelum kita kehilangan satu generasi, problem gizi buruk harus segera diatasi. Segenap pihak; baik pemerintah, masyarakat, stakeholder, maupun orangtua, harus bekerja sama, bahu-membahu mengenyahkan musuh bersama bangsa ini.
Kaum perempuan, terutama para ibu-ibu, harus menyadari posisinya. Ketika para suami sudah mencari nafkah, maka tugas mereka memenej keluarga dan mengasuh putra-putri mereka. Kaum perempuan harus bertindak sebagai ahli gizi atau penata gizi bagi keluarganya. Mereka harus cerdas mengatur pola gizi dan menyajikan hidangan yang bervariasi bagi keluarga tercinta.
Kemana kaum perempuan memperoleh segala sesuatu tentang penataan gizi? Tampaknya tidak sulit. Kaum perempuan bisa membaca buku-buku, surfing di internet, mengikuti program di televisi, dan sumber-sumber lain yang berkaitan dengan penataan pola gizi keluarga.
Kaum perempuan juga bisa menjadi kader keluarga kadar gizi (kadarzi), yang saat ini tengah menjadi program andalan Depkes. Dengan menjadi kader Kadarzi, kaum perempuan bisa membantu sekaligus dibimbing para petugas gizi yang tersedia di semua pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) terdekat.
Jika saja semua perempuan, khususnya para ibu rumah tangga sudah menjadi kader Kadarzi, pemulihan gizi buruk bisa dipercepat. Sebagaimana pendapat Andriyanto (2010), bahwa strategi cepat pemulihan gizi buruk harus dilakukan secara serentak dengan penyuluhan tentang gizi kepada orang tua, dan menjadikannya Kadarzi.
Adapun langkah strategis yang harus dilakukan pemerintah, dalam hal ini Dinkes, adalah mengoptimalkan peran ahli gizi. Selama ini, mereka hanya diperlakukan sebagai tenaga pendaftaran atau administrasi, tanpa diberikan kepercayaan yang lebih guna mengatasi problem gizi buruk.
Akhirnya, kerja sama yang harmonis, holistik, terarah dan terencana, antara pemerintah, stakeholders, tenaga kesehatan dan para oragtua, menjadi penting demi membebaskan generasi mendatang dari gizi buruk. Semoga.(Penulis adalah pemerhati gizi tinggal di Jakarta).

 
Baca Komentar Beri Komentar
Kirimkan Artikel Cetak Artikel
 
 
Idham Chalid dan Ijtihad Politik Islam
Penertiban PT KAI yang Tidak Tertib
Ruang Sempit Fantasi dan Tabularasa Anak
Sampai Lebaran Kuda Prestasi PSSI Tidak Bakal Berubah
Maaf