Halaman Muka | Kontak Kami | Tentang Kami | Iklan  | Arsip  Edisi Selasa, 24 Januari 2017  
Politik dan Keamanan
Ekonomi dan Keuangan
Metropolitan
Opini
Agama dan Pendidikan
Nusantara
Olah Raga
Luar Negeri
Assalamu'alaikum
Derap TNI-POLRI
Hallo Bogor
 
   
 
Login
 
      
 
Password
 
 
 
   
Dunia Tasawuf
Forum Berbangsa dan Bernegara
Swadaya Mandiri
Forum Mahasiswa
Lingkaran Hidup
Pemahaman Keagamaan
Otonomi Daerah
Lemb Anak Indonesia
Parlementaria
Budaya
Kesehatan
Pariwisata
Hiburan
Pelita Hati
..
..
NILAI TUKAR RUPIAH
Source : www.klikbca.com
 JualBeli
USD 9200.00  9100.00  
SGD 6325.65  6236.65  
HKD 1187.90  1173.10  
CHF 7874.45  7769.45  
GBP 18868.05  18609.05  
AUD 8331.10  8203.10  
JPY 80.82  79.36  
SEK 1437.75  1407.65  
DKK 1776.20  1737.00  
CAD 9530.55  9376.55  
EUR 13145.74  12975.74  
SAR 2466.00  2426.00  
25-Okt-2007 / 15:41 WIB
 
 
 
Kepolisian: Kematian Wartawan Kompas Akibat Hipertensi
[Politik dan Keamanan]

Kepolisian: Kematian Wartawan Kompas Akibat Hipertensi

Samarinda, Pelita
Kematian Kepala Biro Kalimantan Harian Kompas, M Syaifullah, 43; mengundang kecurigaan berbagai pihak, namun pihak Kepolisian meminta semua pihak untuk tidak menduga-duga penyebab kematiannya.
Berdasarkan hasil otopsi yang dilakukan Kepolisian, kemarin, wartawan itu meninggal karena hipertensi.
Dari fungsi organ dalam, ditemukan pecah pembuluh darah otak atau di kepala bagian belakang disebabkan tekanan darah tinggi atau hipertensi, kata Kapolres Balikpapan AKBP Aji Rafik.
Polisi juga tidak menemukan tanda-tanda aneh yang mencurigakan di tubuh korban. Tidak ada tanda-tanda kekerasan benda tumpul, imbuhnya.
Namun untuk memastikan penyebab kematian lebih lanjut, polisi juga telah melakukan pemeriksaan atas fungsi jantung almarhum.
Dilakukan pemeriksaan lebih lanjut di laboratorium forensik di Surabaya, dan untuk menyelidiki adanya hubungan penyakit bawaan jantung dan diabetes, tuturnya.
Jenazah Syaifullah ditemukan tergeletak di ruang tamu rumah dinasnya, Komplek Perumahan Balikpapan Baru, Blok S2 No 07, Balikpapan, Kaltim sekitar pukul 09.00 Wita. Sebelumnya, istri almarhum kesulitan menghubungi korban.
Akhirnya dia meminta bantuan sahabat almarhum di Balikpapan untuk mengecek ke rumah dinas. Diduga Syaifullah meninggal tak wajar.
Kabidpenum Mabes Polri Kombes Pol Marwoto Soeto kepada wartawan di Jakarta, Senin (26/7) meminta semua pihak untuk menunggu hasil otopsi.
Marwoto menjelaskan, jasad Syaifullah masih dalam proses otopsi. Polisi juga masih melakukan penyelidikan terkait kasus ini. Meninggal itu bisa apa saja kemungkinannya. Kita tunggu saja, jelasnya.
Menurut Marwoto, semua spekulasi terkait kematian Syaifullah bisa saja benar. Namun, polisi belum bisa membuat kesimpulan sejauh ini.
Orang ini kan belum tentu dipukul terus mati. Bisa saja sebelum dipukul dia sakit dulu. Sama dengan kecelakaan lalu lintas, belum tentu mati karena ditabrak, kata Marwoto.
Tidak ada tamu
Kapolres Balikpapan AKBP Aji Rafik menjelaskan, berdasarkan informasi sementara, tidak ada tamu mencurigakan yang bertandang ke rumah dinas korban.
Menurut Rafik, hasil identifikasi awal terhadap jenazah, tidak ditemukan bercak darah. Selain itu, di rumah kontrakan tersebut juga tidak ditemukan tanda-tanda pembongkaran.
Sementara, tidak ada indikasi pembunuhan. Barang-barang korban di rumah itu juga masih tertata rapi, ujar Rafik.
Saat ditemukan, jenazah pria tersebut tampak membiru dan mulut mengeluarkan busa.
Polisi menduga Syaifullah meninggal akibat serangan jantung, hipertensi, dan diabetes. Namun sejumlah rekan korban menyangsikan hal itu. Menurut mereka, selama ini Syaifullah sehat dan tidak pernah mengeluh sakit apa pun.
Belakangan beredar kabar, korban diduga dibunuh oleh pihak-pihak tertentu terkait aktivitas jurnalistiknya. Berita-berita yang ditulis Syaiful memang kerap mengkritik kebijakan terkait perizinan tambang dan kerusakan lingkungan yang terjadi. Misalnya saja pada Januari 2010, mengenai penambangan yang memprihatinkan.
Syaiful ikut sebagai penyumbang dalam tulisan yang menyindir praktik penambangan, yang membabat kawasan lahan konservasi. Hingga kemudian karena berita itu, Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan mengirim surat teguran kepada gubernur, para penambang, dan bupati.
Sebelum dan sesudah Januari pun demikian, kasus tambang dan lingkungan kerap ditulisnya.
Sebagai Kepala Biro Kompas Kalimantan, tentu Syaiful memiliki perhatian mengenai praktik tambang dan lingkungan. Seperti halnya berita pada 10 Juni 2010 yang dimuat Kompas.
Dalam berita berjudul Izin Pertambangan Ancam Orang Utan Syaiful menuliskan bahwa sekitar 13 perusahaan pertambangan batubara mengavling sekitar 1.300 hektar lahan milik Inhutani yang berdekatan dengan hutan lindung.
Disinyalir banyak pihak gusar karena tulisannya. Akibatnya banyak yang mengkaitkan kematiannya dengan berita dan tulisan soal pertambangan. Disebut-sebut Syaiful pernah mendapat ancaman.
Pihak Kompas memastikan Syaifullah, saat beberapa hari lalu sebelumnya ke Jakarta. Dia tampak sehat dan tidak mengeluhkan apa pun.
Kami sangat terkejut. Belum lama ini dia ke Jakarta. Dia tampak sehat dan tidak mengeluhkan apa-apa. Kami sangat kehilangan dia, kata Pemimpin Redaksi (Pemred) Kompas Rikard Bagun.
Di mata Rikard, Syaifullah merupakan salah satu wartawan yang sangat aktif dan kritis. Banyak tulisan mengenai kerisauannya terhadap alam Kalimantan yang terus dikeruk dan punya komitmen untuk penegakan pemerintahan yang bersih, ujar Rikard.
Seperti dikutip dari Kompas, Syaifullah bergabung ke Kompas tahun 1999. Dia meninggalkan satu istri dan dua anak. Syaifullah atau FUL dikenal sebagai wartawan yang bersemangat, rajin, dan peduli pada lingkungan. Banyak tulisannya yang berisi keprihatinan tentang kerusakan alam di Kalimantan.
Selama menjadi wartawan Kompas, Syaifullah banyak bertugas di wilayah Kalimantan, mulai dari Samarinda, kemudian ke Pontianak, Banjarmasin, lalu menjadi Kepala Biro wilayah Kalimantan dan tinggal di Balikpapan. Syaifullah yang lahir di Hulu Sungai Selatan, Kalsel, itu merupakan lulusan Universitas Sebelas Maret (UNS).
Keamanan wartawan
Menkominfo Tifatul Sembiring menyatakan prihatin dan berbela sungkawa atas meninggalnya M Syaifullah. Dia berharap polisi mengusut tuntas kasus ini.
Saya sangat prihatin dengan kejadian ini. Saya harap kasus ini diusut tuntas. Saya turut belangsungkawa, atas kematian wartawan Kompas, kata Tifatul.
Dia menjelaskan, bagaimanapun kejadian ini harus membuka mata kita semua, agar keamanan wartawan dalam meliput dan menjalankan profesi jurnalistik harus ditingkatkan.
Polisi agar segera mengusut dan memberikan penjelasan, apakah yang bersangkutan memang korban pembunuhan? terangnya.
Tifatul menyampaikan simpati dan mengimbau para pekerja di bidang pers dan industri pers agar lebih meningkatkan kewaspadaan. Terhadap hal-hal yang dapat mencelakai tugas-tugas di lapangan, tutupnya. (jon)

 
Baca Komentar Beri Komentar
Kirimkan Artikel Cetak Artikel
 
 
Demokrat Minta KPK dan Kejagung Tutup Kasus Century
Masyarakat Peduli Energi Desak Regulasi Energi Terbarukan
Menpora Lepas Peserta Lintas Nusantara Bahari
Anggota Paskibraka Model Ideal Bagi Pemuda
JAM Was Belum Temukan Pelanggaran dari JAM Pidsus