Halaman Muka | Kontak Kami | Tentang Kami | Iklan  | Arsip  Edisi Sabtu, 21 Januari 2017  
Politik dan Keamanan
Ekonomi dan Keuangan
Metropolitan
Opini
Agama dan Pendidikan
Nusantara
Olah Raga
Luar Negeri
Assalamu'alaikum
Derap TNI-POLRI
Hallo Bogor
 
   
 
Login
 
      
 
Password
 
 
 
   
Dunia Tasawuf
Forum Berbangsa dan Bernegara
Swadaya Mandiri
Forum Mahasiswa
Lingkaran Hidup
Pemahaman Keagamaan
Otonomi Daerah
Lemb Anak Indonesia
Parlementaria
Budaya
Kesehatan
Pariwisata
Hiburan
Pelita Hati
..
..
NILAI TUKAR RUPIAH
Source : www.klikbca.com
 JualBeli
USD 9200.00  9100.00  
SGD 6325.65  6236.65  
HKD 1187.90  1173.10  
CHF 7874.45  7769.45  
GBP 18868.05  18609.05  
AUD 8331.10  8203.10  
JPY 80.82  79.36  
SEK 1437.75  1407.65  
DKK 1776.20  1737.00  
CAD 9530.55  9376.55  
EUR 13145.74  12975.74  
SAR 2466.00  2426.00  
25-Okt-2007 / 15:41 WIB
 
 
 
Di Depan Presiden, Lomba Seni Berlangsung Kacau
[Nusantara]

Di Depan Presiden, Lomba Seni Berlangsung Kacau

GIANYAR-Pengumuman pemenang Lomba Cipta Seni Pelajar Tingkat Nasional di Istana Tampak Siring, Gianyar, Bali, berlangsung kacau. Seorang siswi bernamaAgustina Eka menangis di podium karena kemenangannya dibatalkan oleh panitia.
Pemenang lomba puisi, lukis, cipta lagu, dan desain batik dibacakan oleh salah seorang juri, Putu Wijaya. Pembacaan pemenang dilakukan di depan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, menteri dan ratusan peserta, Senin (26/7).
Kesalahan terjadi, saat Wijaya membacakan pemenang kedua lomba cipta lagu. Wijaya menyebut nama Agustina sebagai juara kedua namun dengan asal sekolah yang berbeda, yaitu SMP 37 Jakarta.
Agustina sontak gembira sambil bergegas ke podium. Namun, tak berselang lama, juri lainnya, Purwacaraka, meralat pemenang. Disebutkan pemenangnya bukan Agustina, melainkan Richard Herlambang.
Pembatalan pemenang tersebut membuat Agustina bersedih. Ia pun berurai air mata, lalu kembali ke kursi peserta.
Melihat Agustina bersedih, Agustina dipanggil kembali ke podium. Ia pun diberi peluk cium oleh Presiden SBY dan diberi penghargaan khusus oleh Ibu Ani Yudhoyono.
Kesalahan tidak saja terjadi pada Agustina. Putu Wijaya berulangkali meralat dan kebingungan membacakan pemenang lomba. Tak jarang peserta dan wali siswa berteriak kecewa. Huuuuuu...., sorak peserta.
Melihat kekacauan itu, SBY tampak muram dan tegang. Ia berulangkali menggelengkan kepala melihat kekacauan tersebut.
Dari layar televisi di sisi kanan tenda, tampak SBY beberapa kali geleng-geleng kepala dan memegang kening saat kekacauan terjadi. Bahkan, SBY terdiam beberapa saat sebelum memberikan pidato penutupan.
Dalam pidatonya, SBY berjanji akan memberikan sertifikat penghargaan kepada 231 siswa SD dan SMP peserta lomba setelah terjadi kekacauan tersebut.
Kemarin saya menandatangi 45 sertifikat (untuk juara). Nanti saya akan menandatangani sertifikat untuk semua peserta, kata SBY.
SBY mengakui bahwa juri kesulitan memberikan penilain karena kualitas semua karya siswa yang sangat bagus.
Semua memiliki karya yang luar biasa. Saya sadari kesulitan dewan juri karena perbedaan nilai antara juara tipis. Jadi semua karya patut kita berikan penghargaan, kata SBY.
Sementara itu, Menbudpar Jero Wacik mengatakan sertifikat yang ditandatangi oleh SBY akan diberikan untuk mengobati kesedihan siswa. Presiden akan tanda tangani sertifikat dengan tanda tangan basah, supaya anak-anak tidak bersedih. Beliau mau berkorban supaya anak-anak sembuh, ujar Wacik.
Sementara Putu Wijaya berdalih, kesalahan pengumuman pemenang karena sempitnya waktu penilaian hasil karya siswa.
Tadi terjadi kesalahan, karena waktu antara pengumuman dan penjurian sangat sempit, katanya.
Putu Wijaya menjelaskan dalam penilaian hasil karya siswa, yaitu lukis, desain batik, cipta lagu, dan puisi, tim juri tidak melihat identitas peserta.
Juri tidak melihat nama dan sekolah. Setelah selesai penilaian, barulah nama pemenang itu dan sekolahnya dicocokkan oleh panitia, sehingga terjadi kesalahan antara nama peserta dan sekolah, kata dia.
Kesalahan serupa juga terjadi pada lomba tahun sebelumnya. Hal ini diakui oleh Putu Wijaya. Namanya manusia, terjadi kesalahan. Ini bukan yang pertama. Dulu juga terjadi kesalahan, dalihnya.
Ia pun berjanji akan memperbaiki seluruh kesalahan yang terjadi pada lomba yang telah membuat siswi bersedih dan berurai air mata. Tapi sudah diperbaiki saat itu juga. Kita juga akan perbaiki semua kesalahan yang ada, janjinya. (jon)

 
Baca Komentar Beri Komentar
Kirimkan Artikel Cetak Artikel
 
 
Murung Raya Kembangkan Perkebunan Karet Rakyat
Disdik Kabupaten Cirebon Dinilai Tak Mampu Kelola Bantuan Gubernur
Paduan Suara Anak Vocalista Angels
Dibalik Berbagai Isu yang Silih Berganti
Bansos Bermasalah, KONI Sumut Mendapat Rp16 M