Halaman Muka | Kontak Kami | Tentang Kami | Iklan  | Arsip  Edisi Selasa, 24 Januari 2017  
Politik dan Keamanan
Ekonomi dan Keuangan
Metropolitan
Opini
Agama dan Pendidikan
Nusantara
Olah Raga
Luar Negeri
Assalamu'alaikum
Derap TNI-POLRI
Hallo Bogor
 
   
 
Login
 
      
 
Password
 
 
 
   
Dunia Tasawuf
Forum Berbangsa dan Bernegara
Swadaya Mandiri
Forum Mahasiswa
Lingkaran Hidup
Pemahaman Keagamaan
Otonomi Daerah
Lemb Anak Indonesia
Parlementaria
Budaya
Kesehatan
Pariwisata
Hiburan
Pelita Hati
..
..
NILAI TUKAR RUPIAH
Source : www.klikbca.com
 JualBeli
USD 9200.00  9100.00  
SGD 6325.65  6236.65  
HKD 1187.90  1173.10  
CHF 7874.45  7769.45  
GBP 18868.05  18609.05  
AUD 8331.10  8203.10  
JPY 80.82  79.36  
SEK 1437.75  1407.65  
DKK 1776.20  1737.00  
CAD 9530.55  9376.55  
EUR 13145.74  12975.74  
SAR 2466.00  2426.00  
25-Okt-2007 / 15:41 WIB
 
 
 
Bank Belum Lirik Potensi Sektor Kelautan dan Perikanan
[Ekonomi dan Keuangan]

Bank Belum Lirik Potensi Sektor Kelautan dan Perikanan

Jakarta, Pelita
Dirjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan (P2HP) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Martani Husaeni mengatakan, kurangnya pengetahuan bank terhadap sektor industri kelautan dan perikanan menjadi penyebab minimnya kucuran dana pinjaman modal.
Dengan demikian, kalangan perbankan tidak mampu melihat prospek sektor kelautan dan perikanan sesungguhnya.
Kalangan perbankan dalam memberikan kredit kepada sektor ini terutama usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM), kerap beralasan soal ketedaktersedian jaminan/agunan. UMKM tidak memiliki pengetahuan dan pengalaman memadai, memiliki biaya tinggi dan keuntungan yang rendah.
Hal ini terungkap dalam acara sosialisasi lending model (pola pembiayaan) usaha sektor kelautan dan perikanan yang diselengarakan Kementrian Kelautan dan Perikanan bersama Bank Indonesia di Surabaya, Jawa Timur, Jumat (23/7).
Harus diakui, ada gap berupa komunikasi antara pelaku usaha di sektor kelautan dan perikanan terutama UMKM dengan perbankan. Perbankan kurang familiar dengan sektor ini. Di sisi lain pelaku usaha seperti UMKM tak mengerti akses dan persyaratan perbankan, kata Martani.
Untuk UMKM, lanjutnya, aspek pembiayaan menjadi sangat penting guna meningkatkan skala usahanya. Bahkan, berdasarkan catatan, UMKM yang mendapat fasilitas pendanan pendapatannya meningkat rata-rata 87,34 persen per bulan.
Namun, di lapangan sebanyak 92 persen UMKM belum mampu mengakses permodalan. Sementara, bank hanya menjangkau sekitar 4 juta dari 48 juta unit bisnis UMKM.
Soekowardojo, Analis Madya Senior Kantor Bank Indonesia Surabaya mengakui, ada asimetris informasi antara UMKM sektor tersebut dengan perbankan. Bank jika mendapatkan proposal kredit yang belum pernah dilihat, kecenderungannya menolak, ujarnya.
Hal senada juga diungkapkan Kasubdit investasi dan permodalan P2HP KKP Ateng Supriatna. Minimnya informasi yang didapat perbankan, membuat alokasi Kredit Usaha Rakyat (KUR) ke sektor usaha bahari ini juga terlihat sangat minim. Hanya 0,15 persen dari realiasai KUR yang saat ini tercatat Rp5 triliun.
Kami maunya bisa sampai 20 persen dari alokasi KUR 2010 sebesar Rp18 triliun. Ada komitemen dari BI untuk menambahkan alokasi pembiayaan UMKM dari Rp500 miliar menjadi sampai Rp1 miliar, tapi belum ada realisasinya, tuturnya.
Jika melihat aspek pembiayaan usaha, dari sudut analisis perbankan, bank masih menilai kredibiltas UMKM rendah. Kalaupun bisa, prosedur pengajuan pinjaman sangat rumit. Bank pun masih kerap meminta jaminan tambahan (agunan) yang menyulitkan.
Terkait agunan, khusus sektor kelautan dan perikanan diakui agak sulit untuk memenuhinya. Pasalnya, aset berharga pengusaha perikanan hanya berupa kapal yang belum bisa diterima sebagai agunan.(cr-1)

 
Baca Komentar Beri Komentar
Kirimkan Artikel Cetak Artikel
 
 
TDL Baru Naik, Listrik Jakarta Padam
Presiden Perintahkan Kurangi Utang Laur Negeri
PT Jamsostek Santuni Korban KecelakaanKerja Mesin Giling Kayu
Ubud, Jadi Percontohan Penataan Ruang Kota
Puspa AgroSumber Pemasok Komoditi