Halaman Muka | Kontak Kami | Tentang Kami | Iklan  | Arsip  Edisi Sabtu, 25 Februari 2017  
Politik dan Keamanan
Ekonomi dan Keuangan
Metropolitan
Opini
Agama dan Pendidikan
Nusantara
Olah Raga
Luar Negeri
Assalamu'alaikum
Derap TNI-POLRI
Hallo Bogor
 
   
 
Login
 
      
 
Password
 
 
 
   
Dunia Tasawuf
Forum Berbangsa dan Bernegara
Swadaya Mandiri
Forum Mahasiswa
Lingkaran Hidup
Pemahaman Keagamaan
Otonomi Daerah
Lemb Anak Indonesia
Parlementaria
Budaya
Kesehatan
Pariwisata
Hiburan
Pelita Hati
..
..
NILAI TUKAR RUPIAH
Source : www.klikbca.com
 JualBeli
USD 9200.00  9100.00  
SGD 6325.65  6236.65  
HKD 1187.90  1173.10  
CHF 7874.45  7769.45  
GBP 18868.05  18609.05  
AUD 8331.10  8203.10  
JPY 80.82  79.36  
SEK 1437.75  1407.65  
DKK 1776.20  1737.00  
CAD 9530.55  9376.55  
EUR 13145.74  12975.74  
SAR 2466.00  2426.00  
25-Okt-2007 / 15:41 WIB
 
 
 
Dibalik Berbagai Isu yang Silih Berganti
[Nusantara]

Dibalik Berbagai Isu yang Silih Berganti

MENCERMATI pemberitaan berbagai media, niscaya kita sepakat, bahwa berbagai isu muncul silih berganti. Isu yang lama belum ada penyelesaian, isu yang baru, telah muncul. Sayang, berbagai isu-isu itu ada nuansa negatifnya. Sejak isu Bank Century, Bibit-Chandra, Susno, Luna Maya-Ariel sampai ke kasus Sisminbakum-nya Yusril Ihza Mahendra. Semuanya membenarkan dalil dalam dunia jurnalistik, bahwa bad news is good news.
Padahal, banyak masalah yang mestinya memerlukan perhatian kita bersama. Bagaimana mengatasi ratusan Peraturan Daerah (Perda) yang dibatalkan, yang mestinya memerlukan pemikiran mendasar terkait otonomi daerah. Bagaimana dunia pendidikan kita, yang dikritik kurang memperhatikan pendidikan karakter? Bagaimana memecahkan Program Jamkesmas, yang ternyata masih menghambat orang yang tidak mampu memperoleh pelayanan kesehatan. Dan bagaimana mengatasi masalah kemiskinan dan pengangguran. Menjelang puasa dan Idul Fitri, bagaimana kita bisa mencegah kenaikan harga kebutuhan pokok? Belum lagi persoalan kepartaian kita, yang belum mampu menunjang lahirnya stabilitas politik.
Semua itu, kalau kita mau jujur, menunjukkan masih adanya keruwetan didalam kehidupan kita. Cita-cita reformasi birokrasi, good governance, masih harus menghadapi kendala yang besar. Mengesankan, adanya pragmatisme yang sangat dominan, sehingga mengabaikan perbaikan sistem. Ketika kita melanggar sistem, timbullah masalah, terkait dalil-dalil yang mestinya mendasari kehidupan berbangsa dan bernegara kita secara benar. Dari kasus Bank Century sampai Sisminbakum, orang berdebat, apakah negara dirugikan? Adakah uang negara di sana? Belum lagi isu sampingan terkait dengan berita-berita seperti itu. Semuanya hanya akan mengurangi citra baik kita sebagai bangsa.
Kita tidak tahu, apakah semua itu kita biarkan meluncur sebagaimana adanya secara alamiah. The show must go on kata orang. Kalau seluruh keruwetan sudah terungkap, maka akan ada titik balik yang bisa memberi harapan untuk optimis. Kapan kita sampai ke sana? Tidak berlebih, yang diperlukan sekarang adalah ketahanan kita sebagai bangsa. Dan disinilah kita percaya, bahwa daya tahan bangsa ini luar biasa. Apapun masalah yang kita hadapi, insya-Allah kita akan menemukan jalan keluar dari keruwetan secara alamiah juga. Dalam hal ini, sejarah telah membuktikan, sejak awal Kemerdekaan.
Namun, yang sesungguhnya sangat penting adalah, bahwa kita sebenarnya tidak boleh mengalami peristiwa sejarah yang buruk untuk kedua kalinya. Kalau hal ini terjadi, kita akan tertinggal dengan bangsa-bangsa lainnya. Disinilah sangat relevannya apa yang dikatakan Bung Karno, belajarlah dari sejarah. Setelah lebih 60 tahun Merdeka, mestinya kita sudah sampai (setidaknya) pada sistem berbangsa dan bernegara yang mantap. Tidak terus-menerus melakukan percobaan, yang hanya menunjukkan belum mantapnya sistem berbangsa dan bernegara kita, meskipun kita semua selalu merujuk ke Pancasila/UUD 1945.n

 
Baca Komentar Beri Komentar
Kirimkan Artikel Cetak Artikel
 
 
Bansos Bermasalah, KONI Sumut Mendapat Rp16 M
Provinsi Banten dan Kabupaten Agar Koordinasi
Harga TBS Petani Turun Rp43,40/kg Indek K Naik
Tender di Kemendagri Sangat Buruk
Zaman Gini, Rekayasa Tender Masih Marak?