Halaman Muka | Kontak Kami | Tentang Kami | Iklan  | Arsip  Edisi Sabtu, 25 Februari 2017  
Politik dan Keamanan
Ekonomi dan Keuangan
Metropolitan
Opini
Agama dan Pendidikan
Nusantara
Olah Raga
Luar Negeri
Assalamu'alaikum
Derap TNI-POLRI
Hallo Bogor
 
   
 
Login
 
      
 
Password
 
 
 
   
Dunia Tasawuf
Forum Berbangsa dan Bernegara
Swadaya Mandiri
Forum Mahasiswa
Lingkaran Hidup
Pemahaman Keagamaan
Otonomi Daerah
Lemb Anak Indonesia
Parlementaria
Budaya
Kesehatan
Pariwisata
Hiburan
Pelita Hati
..
..
NILAI TUKAR RUPIAH
Source : www.klikbca.com
 JualBeli
USD 9200.00  9100.00  
SGD 6325.65  6236.65  
HKD 1187.90  1173.10  
CHF 7874.45  7769.45  
GBP 18868.05  18609.05  
AUD 8331.10  8203.10  
JPY 80.82  79.36  
SEK 1437.75  1407.65  
DKK 1776.20  1737.00  
CAD 9530.55  9376.55  
EUR 13145.74  12975.74  
SAR 2466.00  2426.00  
25-Okt-2007 / 15:41 WIB
 
 
 
AS Siapkan Sanksi Terbaru untuk Korut
[Luar Negeri]

AS Siapkan Sanksi Terbaru untuk Korut

Seoul, Pelita
Amerika Serikat umumkan sanksi baru untuk penguasa Korea Utara dan mengancam konsekuensi berat jika Korut menyerang Korsel, Rabu (21/7).
Hubungan keua negara di semenanjung Korea diliputi ketegangan setalah Korsel menuduh Korut menerpedo salah satu kapalnya hingga menewaskan 42 awak kapal.
Menlu AS Hillary Clinton menyatakan Washington siap untuk kembali dalam perudingan menyangkut program nuklir Korea Utara, jika negara itu memberika tanda-tanda positif, namun hingga kini tanda-tanda itu masih belum juga muncul.
Clinton menambahkan bahwa sanksi itu tidak ditujukan kepada rakyat Korut yang menjadi salah satu rakyat termiskin di dunia dan sudah menderita karena sanksi ekonomi yang sebelumnya diderita.
China yang menjadi sekutu dekat Koret memberi perhatian penuh pada kasus ini setelah AS dan Korsel melakukan latihan perang bersama pada 25 Juli, Seakan tidak mau kalah, China juga telah melakukan latihan perang sendiri.
Kami minta pihak-pihak yang terkait dalam masalah ini untuk bersikap tenang, dan tidak melakukan hal-hal yang bisa menimbulkan situasinya semakin memanas, kata Menlu China Qin Gang.
Ekonomi Korea Utara sekarang ini hanya mengandalkan pertanian, dengan sedikitnya pabrik-pabrik yang dapat beroperasi, Sanksi yang diumumkan AS tidak akan mempengaruhi ekonomi rakyat Korut, karena sanksi serupa telah dijatuhkan sebelumnya, kata Paik Haksoon kepada Reuters.
China memang masih bekerja sama dengan Korut, karena stabilitas Korut adalah adalah kepentingan China, imbuhnya.
Dia juga memperkirakan, Kim Jong-il idak akan mengubah kebijakannya atau bahkan melakukan kompromi dengan AS.
Sanksi menyeluruh masih dproses, namun Clinton dan sejumlah pejabat AS lainnya menyatakan pihaknya akan memperkuat dan memperketat sanksi finansial dan perjalanan. AS juga akan membekukan seluruh aset-aset tambahan Korut dan mencegah adanya individu yang berupaya melakukan kunjunga ke luar negeri serta bekerja sama dengan pihak pebankan untk menghindari adanya trasaksi yang dilakukan oleh Korut.
AS juga berupaya mencegah penyalah-gunaan aktifitas diplomatik dengan sejumlah aktifitas ilegal.khususnya pada sektor tembakau dan pencucian uang.
DK-PBB telah memberkan sangksi untuk rejim berkuasa di Korut dalam beberapa tahun terkahir karena mengabaikan untutan DK-PBB untuk menghentikan percobaan nuklirnya dan melakukan transakdi senjata secara ilegal.
DK-PBB pada awal pekan ini juga telah mengutuk insiden kapal milik Korsel Cheonan. Namun tidak secara langsung menuduh Korut. Namun AS dan Korsel sudah menuding peristiwa ini sebagai tindakan Korut dan menuntut negara itu meminta maaf atau harus menerima sanksi terbaru, namun hingga saat ini Korut masih menolak tuduhan keterlibatan pihaknya dalam insiden Cheonan dan menyangkut program nuklirnya, berkali Korut menyatakan pilihan itu sudah tidak bisa dielakkan karena terus menghadapi ancaman dari AS. (rid)


 
Baca Komentar Beri Komentar
Kirimkan Artikel Cetak Artikel
 
 
700 Tewas, 347 Hilang Akibat Banjir di China
2014 Semua Pasukan NATO Ditarik
Spanyol Cendurung Melarang, Inggris Membebaskan
Turki, Antara Wajah Barat dan Timur
Clinton Desak Pakistan Serius Tumpas Taliban