Halaman Muka | Kontak Kami | Tentang Kami | Iklan  | Arsip  Edisi Minggu, 19 Februari 2017  
Politik dan Keamanan
Ekonomi dan Keuangan
Metropolitan
Opini
Agama dan Pendidikan
Nusantara
Olah Raga
Luar Negeri
Assalamu'alaikum
Derap TNI-POLRI
Hallo Bogor
 
   
 
Login
 
      
 
Password
 
 
 
   
Dunia Tasawuf
Forum Berbangsa dan Bernegara
Swadaya Mandiri
Forum Mahasiswa
Lingkaran Hidup
Pemahaman Keagamaan
Otonomi Daerah
Lemb Anak Indonesia
Parlementaria
Budaya
Kesehatan
Pariwisata
Hiburan
Pelita Hati
..
..
NILAI TUKAR RUPIAH
Source : www.klikbca.com
 JualBeli
USD 9200.00  9100.00  
SGD 6325.65  6236.65  
HKD 1187.90  1173.10  
CHF 7874.45  7769.45  
GBP 18868.05  18609.05  
AUD 8331.10  8203.10  
JPY 80.82  79.36  
SEK 1437.75  1407.65  
DKK 1776.20  1737.00  
CAD 9530.55  9376.55  
EUR 13145.74  12975.74  
SAR 2466.00  2426.00  
25-Okt-2007 / 15:41 WIB
 
 
 
Pintu 3: Kesungguhan (Azam)
[Pelita Hati]

Pintu 3: Kesungguhan (Azam)

KESUNGGUHAN (azam) adalah kesungguhan yang luar biasa ditunjukkan seorang hamba untuk berusaha mendekatkan diri sedekat-sekatnya kepada Tuhan. Bukan itu saja tetapi bersunguh-sungguh pula untuk mempertahankan maqam yang telah dicapai selama ini. Tanpa kesungguhan, sulit dibayangkan seseorang akan mampu meningkatkan prestasi spiritualnya. Karena semakin tinggi tingkat pencapaian spirirual (maqam) seseorang semakin berta pula proses pendakian itu. Mungkin di level awal seseorang bisa melejit dan meloncat ke jenjang lebih tinggi tetapi orang yang sudah di jenjang lebih tinggi mau ke yang lebih tinggi lagi, apalagi untuk sampai ke puncak, betul-betul memerlukan kesungguhan yang luar biasa, berbeda dengan apa yang pernah dilakukan sepenuhnya. Semakin tinggi pendakian itu semakin berat pula cobaan dan godaan yang akan dialami seseorang.
Kesungguhan di sini meliputi kesungguhan dalam berbagai dimensi. Mulai dari kesungguhan ibadah fisik (ibadah badaniyyah), seperti shalat-shalat fa rdu dan sunnat, puasa wajib dan puasa sunat, kesungguhan dalam ibadah harta (ibadah maliyyah) seperti zakat, infaq, dan sahaqah, kesungguhan ibadah rohani (ibadah ruhiyah) seperti tafakkur dan tadzakkur, dan penggabungan kesungguhan berbagai aspek seperti haji, yang melibatkan kekuatan badan, kemampuan harta, dan kekuatan spiritual. Seorang salik yang sudah sampai ke tingkat kesungguhan seperti tadi berpeluang memperoleh jenjang spiritual yang lebih tinggi lagi. Hanya saja berapa lama yang bersangkutan harus menjalani kesungguhan itu untuk sampai ke jenjang berikutnya, hanya Allah Yang Maha Tahu.
Orang-orang yang sudah sampai di tingkat azam ini Tuhan meminta agar ia tawakkal, sebagaimana disebutkan dalam QS Ali Imran/3: Fa idza azamta fatawakkal alallah, innallaha yuhibbul mutawakkilin (Jika kalian telah berupaya dengan penuh kesungguhan maka berpasrah dirilah kepada Allah SWT, karena sesungguhnya Allah SWT Maha Mencintai orang-orang yang bertawakkal). Tawakkal adalah penyerahan diri tanpa reserve kepada Allah SWT. Tawakkal itu sendiri termasuk anak tangga yang mesti dilewati, karena tanpa tawakkal sulit bagi seseorang untuk melewati fase-fase tertentu di dalam suluk. Nasehat yang sering diucapkan seorang syekh atau muridnya ialah untuk mencapai kualitas tawakkal yang lebih baik. Tawakkal tidak tidak cukup dengan berpasrah diri saja, tetapi harus diawali dengan upaya dan perjuangan sungguh-sungguh. Bukan hanya dalam urusan dunia tetapi juga dalan dunia spiritual. Tawakkal lebih tinggi dari sabar, karena kesabaran masih sering terselip niat untuk mengakhiri sebuah kekecewaan dengan mengandalkan upaya diri sendiri atau orang lain. Akan tetapi tawakkal tidak lagi berharap apapun selain Allah sendiri.
Tawakkal sesudah melakukan kesungguhan (azam) sangat tidak mudah. Biasanya orang yang telah melakukan kesungguhan sudah nyata hasil di depan mata, terutama dalam dunia material. Orang sering tergoda karena hasil perjuangan. Seolah-olah hasil itu adalah buah dari perjuangannya sendiri. Padahal hasil usaha adalah dari Allah sendiri. Orang yang sudah azam seolah-olah tidak sadar kalau dirinya itu sedang melakukan upaya kesungguhan. Mereka tidak sadar lagi kalau dirinya telah dan sedang melakukan sesuatu yang menurut orang lain luar biasa. Padahal, sesungguhnya telah melakukan sesuatu yang teramat mulia di mata Allah SWT.
Azam adalah anak salah satu tangga yang gampang diucapkan tetapi teramat sulit untuk diamalkan, apalagi dengan pengamalan yang istiqamah. Mungkin orang bisa saja melakukan suatu kesungguhan teta pi temporer, atau karena didorong oleh keinginan di dalam dirinya untuk memperoleh kebahagiaan dan kesenangan. Tetapi azam di sini sudah tidak berharap apapun selain Allah SWT. (Nasaruddin Umar)


 
Baca Komentar Beri Komentar
Kirimkan Artikel Cetak Artikel
 
 
Pemerintahan yang Tidak Berjalan Baik
Beda Pengajaran dan Pendidikan Agama
Mendengarkan Suara Rakyat
Sepakbola, Barang yang Mahal?
Meraih Mimpi Sepakbola