Halaman Muka | Kontak Kami | Tentang Kami | Iklan  | Arsip  Edisi Selasa, 28 Maret 2017  
Politik dan Keamanan
Ekonomi dan Keuangan
Metropolitan
Opini
Agama dan Pendidikan
Nusantara
Olah Raga
Luar Negeri
Assalamu'alaikum
Derap TNI-POLRI
Hallo Bogor
 
   
 
Login
 
      
 
Password
 
 
 
   
Dunia Tasawuf
Forum Berbangsa dan Bernegara
Swadaya Mandiri
Forum Mahasiswa
Lingkaran Hidup
Pemahaman Keagamaan
Otonomi Daerah
Lemb Anak Indonesia
Parlementaria
Budaya
Kesehatan
Pariwisata
Hiburan
Pelita Hati
..
..
NILAI TUKAR RUPIAH
Source : www.klikbca.com
 JualBeli
USD 9200.00  9100.00  
SGD 6325.65  6236.65  
HKD 1187.90  1173.10  
CHF 7874.45  7769.45  
GBP 18868.05  18609.05  
AUD 8331.10  8203.10  
JPY 80.82  79.36  
SEK 1437.75  1407.65  
DKK 1776.20  1737.00  
CAD 9530.55  9376.55  
EUR 13145.74  12975.74  
SAR 2466.00  2426.00  
25-Okt-2007 / 15:41 WIB
 
 
 
Turki, Antara Wajah Barat dan Timur
[Luar Negeri]

Turki, Antara Wajah Barat dan Timur

DI mata negara-negara Eropa, Turki dianggap Islam, sehingga sulit diterima sebagai anggota UE; tapi di mata negara-negara muslim, Turki adalah negara yang sekuler dan telah terbaratkan, kata Mohammad Nasih ketika mengomentari soal posisi unik Turki yang berada di antara Barat dan Timur dalam percaturan politik dunia sehingga membuat perannya dalam kebijakan luar negeri seringkali dilematis.
Melalui disertasi yang baru saja dipertahankannya, pengajar FISIP di UMJ ini mencoba mendudukkan posisi nasionalisme dalam hubungannya dengan Islamisme di Turki dan Indonesia.
Disertasi pria kelahiran Rembang, 1 April 1979 ini mengangkat tema Dinamika antara Islam dan Nasionalisme di Turki dan Indonesia (1985-2010).
Menurut Ketua Presidium Pengurus Pusat Masika ICMI (2006-2010) ini, dinamika Islam dan nasionalisme di Turki dan Indonesia menjadi dua ideologi politik yang tak pernah mati, karena pemikiran tentang kedua ideologi ini selalu ada. Itu sangat bisa dimengerti karena mayoritas pendudukan Turki dan Indonesia adalah muslim.
Berikut petikan wawancara Pelita dengan Mohammad Nasih.

Mengapa terjadi dinamika antara Islam dan nasionalisme di Turki dan Indonesia?
Dinamika itu terjadi karena adanya pandangan yang menempatkan Islam dan nasionalisme secara kontradiktif atau berlawanan. Islam dianggap sebagai nilai-nilai yang bersumber dari Tuhan yang bersifat sakral. Sedangkan nasionalisme secara faktual merupakan konsensus belaka dan karena itu dianggap sebagai sesuatu yang bersifat sekuler.
Apalagi, kemunculan nasionalisme di abad pertengahan dilatarbelakangi oleh perlawanan terhadap praktik sistem religio-politik integralisme Katholik. Pertentangan tersebut kemudian juga diberlakukan kepada seluruh agama, termasuk Islam.
Yang perlu ditekankan di sini, karakter awal nasionalisme adalah sekuler, karena memang bertujuan melakukan sekularisasi. Nasionalisme ingin memisahkan antara otoritas negara dari otoritas agama. Penyatuan antara keduanya secara praktis sebelumnya banyak menimbulkan penyelewengan kekuasaan.
Apa yang ingin Anda tekankan dalam penelitian Anda ini?
Yang utama, saya ingin meluruskan pandangan tidak tepat yang selama ini ada, khususnya di kalangan umat Islam. Nasionalisme selama ini lebih sering dipahami hanya sebagai paham cinta Tanah Air atau patriotisme. Yang saya bahas dalam disertasi saya adalah nasionalisme dalam konteks pengertiannya sebagai konstruksi negara. Itulah sebab, nasionalisme awalnya sering diposisikan secara berlawanan dengan Islamisme. Sebab, implementasi kedua ideologi politik ini memang berbeda.
Nasionalisme adalah dasar bagi konstruksi negara-nasional (nation-state). Sedangkan ideologi Islam adalah dasar bagi konstruksi negara-Islam (Islamic-state) atau segala macam pemerintahan yang menggunakan Islam sebagai sumber hukum formal. Namun, kalangan Islam sering menyatakan bahwa mereka juga adalah nasionalis. Pernyataan tersebut saya duga karena kesalahpahaman dalam memahami apa yang dimaksudkan dengan nasionalisme. Mereka memahaminya sebagai patriotisme atau paham cinta Tanah Air yang kemudian menyebabkan perdebatan antara dua kubu sering tidak nyambung.
Menurut Anda, kenapa hal itu terus terjadi. Padahal, usia kedua negara sudah lebih dari setengah abad, bahkan Turki sudah hampir satu abad?
Itu terjadi karena konstruksi negara sangat ditentukan oleh cara pandang, cara berpikir, dan paradigma politik para penyelenggara negara. Nah, Islam dan nasionalisme di Turki dan Indonesia menjadi dua ideologi politik yang tak pernah mati, karena pemikiran tentang kedua ideologi ini selalu ada. Itu sangat bisa dimengerti karena mayoritas pendudukan Turki dan Indonesia adalah muslim. Walaupun dalam jumlah yang semakin berkurang, tetap saja ada kalangan yang menganggap bahwa Islam bukan hanya agama, tetapi juga ideologi politik.
Muncul kembalinya gagasan Islam politik didalam konstelasi Turki disamping karena faktor kesejarahan sebagai pusat kekhilafahan Utsmaniyah, juga karena partai-partai pendukung Kemalisme dianggap tidak mampu membawa kemajuan Turki. Bahkan mereka banyak terlibat dalam praktik korupsi.
Ada anggapan Turki sedang lelah untuk memperjuangkan diri menjadi anggota Uni Eropa (UE), sehingga menolehkan pengaruh politik luar negeri ke Timur, apa trend ini nantinya benar-benar meneguhkan Turki di bawah kepemimpinan AKP sebagai negara Timur?
Itu terjadi pada masa Erbakan, karena walaupun Turki terus berusaha untuk memodernisasi diri, tapi negara-negara anggota UE tetap menjuluki Turki sebagai the sick man of Europe. Hal ini menyebabkan Erbakan berusaha mengubah keinginan untuk bergabung dengan UE dan lebih menekankan agar Turki sebagai negara yang memiliki akar tradisi yang bersumber dari ajaran agama Islam bergabung dengan negara-negara Timur Tengah.
Namun, faktanya Turki tidak membatalkan keinginan untuk bergabung dengan UE. Apalagi setelah Turki mengalami perubahan politik dengan kemenangan AKP. Pada Oktober 2005, Turki memulai kembali pembicaraan untuk dapat menjadi anggota UE. Walaupun banyak pihak memberikan dukungan, namun tindak-lanjut untuk menjadikan Turki sebagai anggota UE berjalan lamban.
Kondisi ini membuat Turki berada pada posisi dilematis. Di mata negara-negara Eropa, Turki dianggap Islam, sehingga sulit diterima sebagai anggota UE; tapi di mata negara-negara muslim, Turki adalah negara yang sekuler dan telah terbaratkan.
Dalam disertasi Anda, Anda menyimpulkan bahwa konvergensi Islam dan nasionalisme di Turki belum stabil karena sikap politik AKP didasarkan pada pertimbangan politik untuk menghindari tekanan penjaga sekularisme, apakah ini berarti mereka juga memandang perlunya penyelenggaraan negara berdasarkan syariat Islam sebagai cita-cita AKP yang sesungguhnya?
Menurut saya para aktivis AKP jelas memiliki kecenderungan kepada Islam. Ini berdasarkan fakta bahwa para aktivis utama AKP, termasuk Presiden Abdullah Gul dan PM Erdogan adalah mantan-mantan politisi yang menonjol dalam Partai Islam Refah. Hanya saja, mereka kemudian mencari jalan baru yang aman dari tekanan rezim sekuler agar tidak mengulang cerita tragis yang dialami oleh Partai Refah yang pemerintahannya dikudeta oleh militer dan dibubarkan oleh MK.
Jika dibandingkan dengan kasus di Indonesia, sikap AKP kira-kira mirip dengan PPP di masa Orde Baru yang dengan sangat terpaksa menerima asas tunggal Pancasila. AKP lahir sebagai partai yang mengakomodasi gagasan sekuler karena menghindari tekanan kalangan pendukung Kemalisme. Tapi AKP juga memiliki keinginan kuat untuk mereinterpretasi Islam agar tampilan implementasinya kompatibel dengan kemodernan. AKP ingin agar Islam tidak lagi dipandang sebagai ajaran yang primitif. AKP lebih menginginkan implementasi syariat substansial.
Setelah partai Rafah dibekukan oleh penjaga sekularisme, apa yang membuat AKP menjadi partai yang dominan, dan kenapa hal itu tidak terjadi pada partai-partai milik umat Islam di Indonesia pasca-Orde Baru?
Menurut saya ada beberapa hal. Di antaranya rakyat Turki ingin memperlihatkan kebencian mereka terhadap partai-partai sekuler lama yang korup. Karena itulah, mereka memilih partai baru yang dipandang lebih memberikan harapan. Para aktivis AKP juga dikenal sebagai para aktivis yang bersih dan benar-benar telah berhasil dalam menciptakan perbaikan.
Erdogan yang menjadi salah satu tokoh sentral AKP misalnya, dikenal sebagai politikus yang konsisten dan berani. Ketika menjadi Walikota Istanbul, ia terkenal sangat efektif dan populis dalam memimpin pemerintahan. Secara praktis, ia berhasil menyediakan sarana dan prasarana pokok penduduk kota yang membuat mereka kemudian mengagumi kepemimpinannya.
Selain itu, paradigma politik AKP sesuai dengan paradigma mayoritas masyarakat Turki. Masyarakat Turki itu unik. Berdasarkan survei, mayoritas masyarakat Turki mengaku sebagai muslim dan secara bersamaan juga mengaku sekuler. AKP mampu membuat karakter sekularisme negara yang sebelumnya diimplementasikan dengan karakter laicis (memusuhi atau menekan agama) menjadi non-laicis.
AKP memberikan jaminan bahwa antara agama dengan negara benar-benar dipisahkan, bukan negara mendominasi, meminggirkan, menekan, dan apalagi menghapuskan agama. Nah, dalam konteks itu, nilai-nilai Islam yang substantif dapat diupayakan teralokasikan ke dalam produk legislasi oleh AKP tanpa harus membawa-bawa nama Islam.
Sedangkan di Indonesia, Islam lebih dijadikan sebagai alat untuk menghidupkan sentimen umat Islam agar mau memilih dalam pemilu. Itu terbukti dalam perilaku politik tidak ada perbedaan yang signifikan antara partai yang berdasar formal Islam dengan yang tidak.
Partai politik di Indonesia, termasuk partai Islam mengidap penyakit inkonsistensi. Partai Islam tidak menunjukkan perilaku yang Islami. Di lain sisi, sebagian konstituen umat Islam telah mengalami perubahan paradigma politik setelah kalangan Islam kultural menemukan konsepsi baru mengenai kompatibilitas antara Islam dengan Pancasila.
Secara sederhana bisa dikatakan bahwa statement Nurcholish Madjid Islam, Yes; Partai Islam, No?, walaupun tidak secara cepat, telah menyebabkan desakralisasi partai Islam dan sekularisasi konsep negara-Islam dan segala turunannya. Bagi mereka formalisasi Islam sudah tidak perlu, bahkan harus dihindari.
Dalam konteks Indonesia, dari partai-partai muslim di Indonesia kira-kira adakah yang berpotensi memainkan peran sebagaimana sukses AKP dalam menguasai pemerintahan?
Saya hanya berani memprediksikan dalam periode politik yang akan datang saja, bukan jangka panjang. Partai-partai tersebut kemungkinan tidak akan mengalami perubahan perolehan suara yang signifikan. Sebab, partai-partai tersebut tidak mampu menampilkan karakter khasnya dan sering menunjukkan inkonsistensi sikap politik.
Khusus mengenai PKS ditambah lagi dengan perubahan menjadi partai tebuka. Menurut saya perubahan itu dilakukan karena satu dari dua hal, yaitu: inkonsistensi atau menginsyafi kesalahan konseptual mengenai hubungan antara agama dan negara yang sebelumnya diyakini.
Jika pendapat Dr Yusuf Qardlawi benar bahwa awalnya kiblat politik PKS adalah al-Ikhwan al-Muslimun Mesir, maka saat ini kiblat itu telah berubah. Jika melihat Turki, PKS seolah ingin meniru AKP. Tetapi konteksnya menurut saya tidak tepat. AKP mengambil jalan itu karena ada hambatan konstitusional. Sedangkan di Indonesia tidak ada hambatan sama sekali untuk menggunakan Islam sebagai dasar formal partai.
Inkonsistensi ini akan menyebabkan para pemilih tidak menaruh kepercayaan. Apalagi jika pemilihnya adalah kalangan menengah kota yang memiliki daya ingat lebih kuat dan panjang.(rid)

 
Baca Komentar Beri Komentar
Kirimkan Artikel Cetak Artikel
 
 
Clinton Desak Pakistan Serius Tumpas Taliban
Spanyol Proses Larangan Cadar Inggris Tidak Akan Meniru
Israel Buldozer Rumah Petani Palestina
ASEAN Serukan Akses Bantuan ke Gaza Dibuka
Spanyol Proses Larangan Cadar Inggris Tidak Akan Meniru