Halaman Muka | Kontak Kami | Tentang Kami | Iklan  | Arsip  Edisi Selasa, 28 Maret 2017  
Politik dan Keamanan
Ekonomi dan Keuangan
Metropolitan
Opini
Agama dan Pendidikan
Nusantara
Olah Raga
Luar Negeri
Assalamu'alaikum
Derap TNI-POLRI
Hallo Bogor
 
   
 
Login
 
      
 
Password
 
 
 
   
Dunia Tasawuf
Forum Berbangsa dan Bernegara
Swadaya Mandiri
Forum Mahasiswa
Lingkaran Hidup
Pemahaman Keagamaan
Otonomi Daerah
Lemb Anak Indonesia
Parlementaria
Budaya
Kesehatan
Pariwisata
Hiburan
Pelita Hati
..
..
NILAI TUKAR RUPIAH
Source : www.klikbca.com
 JualBeli
USD 9200.00  9100.00  
SGD 6325.65  6236.65  
HKD 1187.90  1173.10  
CHF 7874.45  7769.45  
GBP 18868.05  18609.05  
AUD 8331.10  8203.10  
JPY 80.82  79.36  
SEK 1437.75  1407.65  
DKK 1776.20  1737.00  
CAD 9530.55  9376.55  
EUR 13145.74  12975.74  
SAR 2466.00  2426.00  
25-Okt-2007 / 15:41 WIB
 
 
 
Ruang Sempit Fantasi dan Tabularasa Anak
[Opini]

Ruang Sempit Fantasi dan Tabularasa Anak

Oleh Richa Miskiyya

KETIKA masih duduk di bangku sekolah dasar (SD), saya sangat menikmati banyak tayangan-tayangan televisi yang bersahabat. Saya bisa berselancar meniru apa yang ada dalam film layar fantasi visual itu.
Cita-cita saya dulu selalu merujuk pada peran-peran heroik dan mempesona dari pahlawan-pahlawan dunia khayal, semisal Sailor Moon dan Power Ranger, yang menjadi penolong orang-orang lemah itu. Sekarang, dunia itu raib.
Ada banyak film serial yang pada era 90-an membantu anak memperkaya alam imajinya. Hampir setiap hari, stasiun televisi yang ada memiliki acara khas anak, ketika itu. Sebut misalnya Kobochan, Sailor Moon, Power Ranger, Wedding Peach, Satria Baja Hitam, Ultraman (dengan berbagai versinya), Dragon Ball, Minki Momo, Ikyu San, Bittle Borg serta acara serupa lainnya.
Anak-anak generasi sekolah saya dimanjakan televisi pada libur akhir pekan, Minggu. Dari jam tujuh hingga jam sepuluh pagi, mereka khusyuk mengikuti acara-acara itu. Lebih heboh kalau sudah kumpul di kelas, ngobrol bersama teman, isinya mendiskusikan cerita-cerita film tersebut. Jam istirahat menjadi seru.
Belum lagi bicara soal sajian musik. Makin asyik saja. Banyaknya artis cilik yang muncul saat itu membuat hiburan anak sarat nilai moral, intelektual dan sosial. Diantara acara-acara live video music anak yang sempat muncul adalah Dunia Anak, Tralala-Trilili, Kring-Kring Olala, Bando dan Pesta Anak.
Nama-nama artis cilik menjadi idola, ada Joshua, Trio Kwek-Kwek, Maissy, Cindy Cenora, Chikita Meidy, Sherina, Tasya, Geovani, Saskia, Bondan Prakoso, Susan dan Ria Enes, Kiki, Tina Toon dan Najunda Sari. Merekalah yang dulu menyesaki dunia fantasi dengan musik, membentuk trend hidup anak ketika itu.
Sekarang, acara-acara itu tergantikan oleh program-program televisi yang cenderung mengikuti selera pasar. Untuk mengisi liburan, pada Minggu pagi, anak-anak tidak mendapatkan fantasi imajinatif yang luas dari layar kaca.
Acara yang tersaji justru berkisar antara gosip selebritis dan tayangan live music event. Dalam hal ini, anak menjadi bagian dari masyarakat yang terlupakan. Padahal, mereka membutuhkan banyak referensi untuk menumbuhkan daya kreasinya dengan fantasi visual. Ya, karena mereka masih dalam masa pertumbuhan.
Raibnya daya imajinasi anak membuat mereka seakan tak punya tempat menumpahkan kekayaan ide. Teralienasi dari dunianya. Untuk memperkaya kreativitas, sekarang para orang tua lebih banyak menitipkan anak-anak mereka ke lembaga-lembaga les privat yang begitu banyak menyita waktu.
Hampir tak ada waktu lagi untuk melakukan sosialisasi dengan teman-teman sebaya, sehabis sekolah. Karena tidak banyak acara televisi yang berdekatan dengan dunia fantasi anak, mereka lebih asyik bergaul dengan benda-benda mati yang menjanjikan hiburan, semisal game, play station, handphone dan semacamnya.
Akhirnya, usia anak sekarang tidak mengenal jenis permainan tradisional seperti Jamuran, Pethak Umpet, Congklak, Lompat Tali, Benthik, Cublak-Cublak Suweng, Betengan, Gasingan, Ganepoan dan puluhan jenis permainan lainnnya yang meniscayakan adanya saling mengenal karakter antar teman, menghormati, membantu, dan membangun sportivitas dalam kerja team, antar lawan dan kawan main.
Dalam permainan-permainan itu tumbuh rasa saling asah, asih dan asuh sesama. Anak, secara individu, akan belajar langsung cara bersosialisasi. Mereka menjadi tahu bagaimana cara bergaul dengan teman lain yang suka marah, maunya menang sendiri atau yang bersikap manja.
Resolusi konflik dipelajari sejak dini. Solidaritas juga terbangun kuat. Itulah dunianya. Dunia belajar tentang orang lain beserta lingkungan.
Tabularasa Anak
Anak, bagi saya, adalah usia dimana ia sedang mengisi kekosongan jiwa yang dalam istilah John Locke (1632-1704), seorang filosuf empirisme Inggris, disebut sebagai teori tabularasa. Dalam bahasa Latin, tabularasa diterjemahkan sebagai kertas kosong.
Begitulah kondisi anak manusia sejak lahir di dunia. Tabularasa (pikiran kosong) akan terisi secara terus menerus seiring dengan serapan pengalaman, pengetahuan dan daya resepsi alat indra dari luar dirinya.
Secara empiris, pengalaman akan membentuk kepribadian anak, perilaku sosial, emosional dan kualitas kecerdasan. Di sinilah perlunya dunia yang khusus dengan karakter anak, yaitu dunia fantasi dan imajinasi. Permainan dan ruang visual.
Locke menyebutkan bahwa manusia akan membentuk kepribadian secara matang ketika kebebasan mengisi tabularasa terpenuhi dalam lingkup sosialnya. Kultur yang dibawa pada usia belasan tahun akan membentuk sikap sosial anak ketika dewasa kelak.
Intensitas pergaulan sosial anak yang kini terbatas karena habis untuk mengikuti les tambahan di luar sekolah, membuatnya menumpahkan kepenatan dengan benda-benda produksi teknologi yang tak memberikan efek emosional, meski kadang diakui memberikan kontribusi intelelektual.
Raibnya dunia fantasi visual anak di televisi serta hilangnya permainan-permainan tradisional yang mentransformasikan nilai-nilai humanisme membuat anak menyibukkan diri dalam kedirian sunyi (self), bermain dengan benda-benda mati.
Dunia lain atau the other bukan bagian dari fantasinya. Ruang tabulrasa-nya menyempit. Cercap pengalaman berjalan lamban. Barangkali secara intelektual, anak itu pandai. Namun, tidak menjamin ia cerdas membangun hubungan dengan sesama teman. Karakter-karakter nasistik dan anti sosial sukses menjelma dalam kepribadian.
Ia menjadi anak pintar yang sombong, perprestasi tapi congkak, mengetahui namun tidak peduli dan menindas karena kuat. Wajar bila kita melihat anak usia SD tawuran, mengonsumsi narkoba dan egois kepada temannya atau bahkan nekad bunuh diri akibat stress, terasing dari lingkungan.
Untuk memperluas ruang tabularasa anak, kita merindukan Bu Kasur, Ibu Sud, AT. Mahmud atau Papa T. Bob untuk meramaikan fantasi anak dalam dunia musik, mencipta lagu lagi, sebagaimana dulu, ketika saya masih SD.
Acara-acara anak yang kini hadir di layar kaca, antara lain Si Bolang, Koki Cilik, Kuas Ajaib, Laptop Si Unyil, Ayahku Hebat dan Jalan Sesama, sedikit memberikan fantasi anak untuk mengenali dunia luar, the other.
Film serial anak yang masih eksis hingga sekarang, seperti Doraemon, Sinchan, Tom and Jarry, Popeye, Casper, Spongebob, Avatar, Ipin-Upin, Naruto dan Dora diharap memperluas ruang imajinatif anak yang makin terlupakan eksistensi nilainya, dengan meminimalkan unsur kekerasan di dalamnya. Semoga insan penyiaran televisi tidak terjebak dalam arus kapitalisme liberal yang nakal. (Penulis adalah mahasiswi jurusan Komunikasi Penyiaran Islam IAIN Walisongo Semarang).

 
Baca Komentar Beri Komentar
Kirimkan Artikel Cetak Artikel
 
 
Sampai Lebaran Kuda Prestasi PSSI Tidak Bakal Berubah
Maaf
Matriarkhi yang Patriarkhal
KPK Berada di Titik Nadir?
Reformulasi Citra Polri