Halaman Muka | Kontak Kami | Tentang Kami | Iklan  | Arsip  Edisi Kamis, 30 Maret 2017  
Politik dan Keamanan
Ekonomi dan Keuangan
Metropolitan
Opini
Agama dan Pendidikan
Nusantara
Olah Raga
Luar Negeri
Assalamu'alaikum
Derap TNI-POLRI
Hallo Bogor
 
   
 
Login
 
      
 
Password
 
 
 
   
Dunia Tasawuf
Forum Berbangsa dan Bernegara
Swadaya Mandiri
Forum Mahasiswa
Lingkaran Hidup
Pemahaman Keagamaan
Otonomi Daerah
Lemb Anak Indonesia
Parlementaria
Budaya
Kesehatan
Pariwisata
Hiburan
Pelita Hati
..
..
NILAI TUKAR RUPIAH
Source : www.klikbca.com
 JualBeli
USD 9200.00  9100.00  
SGD 6325.65  6236.65  
HKD 1187.90  1173.10  
CHF 7874.45  7769.45  
GBP 18868.05  18609.05  
AUD 8331.10  8203.10  
JPY 80.82  79.36  
SEK 1437.75  1407.65  
DKK 1776.20  1737.00  
CAD 9530.55  9376.55  
EUR 13145.74  12975.74  
SAR 2466.00  2426.00  
25-Okt-2007 / 15:41 WIB
 
 
 
Sampai Lebaran Kuda Prestasi PSSI Tidak Bakal Berubah
[Opini]

Sampai Lebaran Kuda Prestasi PSSI Tidak Bakal Berubah

Oleh Eno Rusnadi

HAMPIR satu bulan kejuaraan sepak bola sejagad digelar di Afrika Selatan. Tidak kurang 32 negara hadir di sana guna unjuk kebolehan menggoreng bola. Sepak bola telah menyihir mata penggemarnya, termasuk Indonesia.
Di negeri nusantara, olah raga ini jadi kesenangan sejak balita. Karena itu penggemarnya bisa berasal dari latar belakang yang berbeda. Mulai dari Polisi, Jaksa, Pengacara, Hakim maupun koruptor hingga rakyat jelata dan pejabat istana.
Konon di istana acapkali diselenggarakan acara nonton bareng atau nobar. Nobar memang tengah trend pada masyarakat kita di tiap perhelatan akbar seperti sepak bola ini. Tak tanggung-tanggung Presiden Republik Indonesia pun ikutan juga menyaksikannya.
Malah di tengah kegiatan acara kepresidenannya di Kanada beberapa waktu lalu, SBY kabarnya menyempatkan diri pula mendiskusikan soal persepakbolaan nasional dengan kepala negara lain.
Barangkali pemimpin nasional kita ini ketiban iri tatkala pada acara G20 itu banyak kepala negara lain ribut menjagokan masing-masing timnya. Ada pemimpin Amerika, Jerman, Korea Selatan, Jepang, Inggris dan lainnya.
Memang di situ ribut mereka itu beralasan sebab timnya punya tradisi untuk senantiasa tampil di ajang sepak bola dunia. Sementara pemimpin kita mungkin hanya bisa diam dan mengangguk-angguk seraya berharap PSSI jadi bagian pada ajang tersebut. Walhasil dicobalah oleh pejabat negara kita itu untuk mendatangkan pelatih dari Turki yang punya reputasi internasional.
Bukan hanya itu. Rupanya sekembalinya ke tanah air setelah mengakhiri perjalanan dinasnya, SBY masih perlu mengingatkan lagi soal sepak bola nasional. Pada rapat kabinet di istana, Presiden sempat pula menyatakan kegundahannya.
Dia menegaskan, perlu ada tindak lanjut konkret dari Kongres Nasional Sepak Bola di Malang lalu. Kalau tidak ada langkah konkret, sampai Lebaran Kuda kita punya sepakbola ya begini terus. Oleh karena itu, mari kita berikhtiar, kata Presiden (Kompas 6/7).
Pernyataan itu menurut saya sangat mengelitik, lucu dan menarik. Jarang pemimpin nasional kita berbicara lugas dan terbuka terkait nasib persepakbolaan nasional ini. Apalagi model ungkapan yang dituturkan itu sangat akrab dengan telinga rakyatnya, seperti kalimat Lebaran Monyet dan Lebaran Kuda yang paling anyar itu.
Ungkapan Lebaran Kuda itu bila masyarakat dewasa yang mendengar tentu maklum. Tapi kalau anak-anak yang kebetulan mendengar atau membacanya bikin repot orang tua. Pasti mereka bertanya, memang kuda pada lebaran juga ya pak? Kalau mereka lebaran pasti mereka puasa juga dong sebulan penuh. Terus kuda pakai baju baru dan seterusnya, dan seterusnya.
Untungnya Lebaran Kuda itu tidak benar-benar ada. Sama persis dengan lebaran monyet dan lebaran para penghuni rimba raya lainnya. Tentu kita mengerti, hal itu hanyalah ungkapan methafora saja sebagai manifestasi kecintaannya bagi dunia sepak bola nasional kita..
Lalu bagaimana dengan reaksi pengurus PSSI sendiri setelah mendengar ungkapan itu? Sampai tulisan ini dibuat, belum satu pun yang mau menanggapi ungkapan tersebut. Atau mungkin mereka sedang melakukan konsolidasi penuh ke dalam organisasi. Atau juga sedang membuat jadwal untuk nobar, kita tidak tahu.
Yang jelas saran, kritik dan himbauan selama ini dari masyarakat pencinta bola di tanah air tak pernah surut. Masyarakat pencinta bola masih mau mengerti dengan kondisi yang ada sekarang. Kendati di tingkat Asia Tenggara masih terseok-seok, namun mimpi dan harapan tampaknya tetap ada untuk mampu bangkit kembali.
Seiring dengan itu tentu pesta olah raga se-Asia Tenggara (Sea Games) pada 2011 mendatang menjadi taruhan PSSI untuk menjawabnya. Tinggal sekarang tergantung pada pengurus yang ada untuk menjabarkan secara konkrit pesan tersebut. Jika saja di Sea Games 2011 itu meraih medali emas maka perlahan dunia sepak bola nasional kita akan menuju tingkat Asia kemudian dunia.
Namun andaikata meleset juga, usaha model apapun yang bakal dilakukan PSSI barangkali tak akan berhasil. Sebab pemimpin tertinggi di Negeri Nobar saja yang bekerja di bawah sumpah dan konstitusi itu lontaran kritiknya bisa dibilang sudah tak mempan lagi. Jadi jika kayak begitu adanya maka sepak bola nasional kita sedang berpuasa untuk kemudian berlebaran Kuda alias ya begini terus. (Penulis adalah penggemar sepakbola dan pecinta PSSI)

 
Baca Komentar Beri Komentar
Kirimkan Artikel Cetak Artikel
 
 
Maaf
Matriarkhi yang Patriarkhal
KPK Berada di Titik Nadir?
Reformulasi Citra Polri
KPK Berada di Titik Nadir?