Halaman Muka | Kontak Kami | Tentang Kami | Iklan  | Arsip  Edisi Selasa, 24 Januari 2017  
Politik dan Keamanan
Ekonomi dan Keuangan
Metropolitan
Opini
Agama dan Pendidikan
Nusantara
Olah Raga
Luar Negeri
Assalamu'alaikum
Derap TNI-POLRI
Hallo Bogor
 
   
 
Login
 
      
 
Password
 
 
 
   
Dunia Tasawuf
Forum Berbangsa dan Bernegara
Swadaya Mandiri
Forum Mahasiswa
Lingkaran Hidup
Pemahaman Keagamaan
Otonomi Daerah
Lemb Anak Indonesia
Parlementaria
Budaya
Kesehatan
Pariwisata
Hiburan
Pelita Hati
..
..
NILAI TUKAR RUPIAH
Source : www.klikbca.com
 JualBeli
USD 9200.00  9100.00  
SGD 6325.65  6236.65  
HKD 1187.90  1173.10  
CHF 7874.45  7769.45  
GBP 18868.05  18609.05  
AUD 8331.10  8203.10  
JPY 80.82  79.36  
SEK 1437.75  1407.65  
DKK 1776.20  1737.00  
CAD 9530.55  9376.55  
EUR 13145.74  12975.74  
SAR 2466.00  2426.00  
25-Okt-2007 / 15:41 WIB
 
 
 
Presiden Perintahkan Kurangi Utang Laur Negeri
[Ekonomi dan Keuangan]

Presiden Perintahkan Kurangi Utang Laur Negeri

Jakarta, Pelita
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memerintahkan pengurangan pembiayaan baru dari luar negeri berbentuk utang, sehingga tidak membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Presiden ketika membuka rapat terbatas bidang ekonomi di Kantor Kepresidenan, Jakarta, Senin (19/7), meminta untuk mengurangi sumber pembiayaan baru dari luar negeri.
Kalaupun harus menggunakan pembiayaan luar negeri, jangan memilih opsi utang, melainkan opsi hibah atau pemutihan utang, tegasnya.
Presiden mencontohkan pemerintah saat ini sedang menjalin kerja sama dengan Norwegia terkait rencana pemberian hibah kepada Indonesia sebesar satu miliar dolar AS atau sekitar Rp9 triliun.
Kepala Negara juga mengusulkan opsi pemutihan. Hal itu telah diterapkan dalam kerja sama Indonesia dengan organisasi internasional Global Fund dan sejumlah negara.
Pemutihan utang memberikan kesempatan kepada negara berutang untuk mengalihkan kewajiban membayar utang ke dalam berbagai kegiatan lain untuk kepentingan negara tersebut. Uang itu untuk keperluan kita juga, kata Presiden.
Saat ini, pemerintah sedang merintis kerja sama dengan Australia dan beberapa negara Eropa untuk menerapkan mekanisme tersebut.
Presiden berharap rasio utang terhadap pendapatan nasional dalam APBN semakin turun. Dengan demikian, anggaran nasional akan semakin sehat.
Presiden menegaskan, APBN harus dikelola dengan baik. Krisis suatu negara bisa disebabkan oleh pengelolaan APBN yang tidak baik, terutama karena tingginya defisit dan rasio utang yang tidak sehat.
Pemerintah juga perlu memastikan penerimaan negara sesuai dengan potensi penerimaan yang seharusnya diterima, lalu pemerintah juga perlu memikirkan pembelanjaan itu secara baik, sehingga tidak semakin membebani keuangan negara.
Membaik
Menko Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan, rasio utang Indonesia dibandingkan Produk Domestik Bruto (PDB) terus membaik,
bahkan di bawah target 29 persen pada 2010.
Per Juni 2010, rasio utang terhadap PDB itu sekitar 26 persen. Kita dalam target RPJM pada 2014 mencapai 24 persen. Tapi tampaknya kita akan berada di bawah itu, mengingat sebetulnya tahun 2010 ini target kita kan 29 persen, tapi kenyataannya sudah jauh di bawah itu, tuturnya.
Penurunan rasio tersebut terjadi antara lain karena PDB terus meningkat dan utang luar negeri menurun sehingga netto pinjaman turun.
Dengan kata lain, kemampuan kita membayar utang luar negeri jauh lebih besar dari pinjaman luar negeri. Khusus untuk itu, presiden minta kita melakukan pengelolaan yang baik, sumber-sumber pembiayaan kita arahkan kepada dalam negeri, kata Hatta.
Sementara itu, Bank Indonesia (BI) mencatat perkembangan pinjaman luar negeri swasta meningkat sejalan menggeliatnya perekonomian terutama untuk bidang industri pengolahan, keuangan, persewaan dan jasa keuangan, pertambangan penggalian serta listrik, gas dan air bersih.
Kepala Biro Humas Bank Indonesia Difi A Johansyah mengatakan, pinjaman luar negeri swasta pada Mei 2010 tercatat sebesar 69,9 miliar dolar AS meningkat dibanding Mei 2009 sebesar 59,6 miliar dolar AS.
Mayoritas pinjaman terserap di industri pengolahan (27,2 persen), keuangan, persewaan dan jasa keuangan (17,9 persen) pertambangan penggalian (16,7 persen) serta listrik, gas dan air bersih (15,7 persen).
Per akhir Mei 2010 rata-rata pertumbuhan empat sektor tersebut pada 2010 sebesar 12,9 persen, lebih tinggi dibandingkan rata rata pertumbuhan keempatnya pada 2009 sebesar 8,2 persen, kata Difi.(iz)

 
Baca Komentar Beri Komentar
Kirimkan Artikel Cetak Artikel
 
 
PT Jamsostek Santuni Korban KecelakaanKerja Mesin Giling Kayu
Ubud, Jadi Percontohan Penataan Ruang Kota
Puspa AgroSumber Pemasok Komoditi
Ditolak, Aturan Kenaikan TDL
Untuk StabilkanHargaKebutuhan Pokok