Halaman Muka | Kontak Kami | Tentang Kami | Iklan  | Arsip  Edisi Selasa, 24 Januari 2017  
Politik dan Keamanan
Ekonomi dan Keuangan
Metropolitan
Opini
Agama dan Pendidikan
Nusantara
Olah Raga
Luar Negeri
Assalamu'alaikum
Derap TNI-POLRI
Hallo Bogor
 
   
 
Login
 
      
 
Password
 
 
 
   
Dunia Tasawuf
Forum Berbangsa dan Bernegara
Swadaya Mandiri
Forum Mahasiswa
Lingkaran Hidup
Pemahaman Keagamaan
Otonomi Daerah
Lemb Anak Indonesia
Parlementaria
Budaya
Kesehatan
Pariwisata
Hiburan
Pelita Hati
..
..
NILAI TUKAR RUPIAH
Source : www.klikbca.com
 JualBeli
USD 9200.00  9100.00  
SGD 6325.65  6236.65  
HKD 1187.90  1173.10  
CHF 7874.45  7769.45  
GBP 18868.05  18609.05  
AUD 8331.10  8203.10  
JPY 80.82  79.36  
SEK 1437.75  1407.65  
DKK 1776.20  1737.00  
CAD 9530.55  9376.55  
EUR 13145.74  12975.74  
SAR 2466.00  2426.00  
25-Okt-2007 / 15:41 WIB
 
 
 
Beda Pengajaran dan Pendidikan Agama
[Pelita Hati]

Beda Pengajaran dan Pendidikan Agama

KITA jarang membuat pembedaan dan pemisahan yang tegas
antara istilah pengajaran dan pendidikan. Tetapi sebenarnya kedua
istilah itu bisa dibedakan dan kalau perlu memang harus
dipisahkan dan dibedakan.
Pengajaran adalah proses tansfer ilmu pengetahuan, sebuah
proses kognitif yang bertumpu pada otak. Pendidikan adalah proses
afektif yang bertumpu pada jiwa, yang dimulai dengan
memperkenalkan nilai lalu diikuti internalisasi (penghayatan) dan
menanamkan nilai itu ke dalam diri kita, sehingga nilai itu betul-
betul menjadi kesadaran dan pegangan kita didalam kehidupan
sehari-hari.
Pendidikan agama Islam juga terdiri dari pengajaran dan
pendidikan didalam masalah keagamaan. Kalau kita ingin menanamkan
kejujuran atau rasa tanggung jawab ke dalam diri anak atau anak-
didik kita, maka paling awal kita memberikan ilmu yaitu
pengertian tentang masalah kejujuran dan rasa tanggung jawab itu.
Diberikan informasi yang lengkap tentang makna dan manfaat dari
kejujuran dan rasa tanggung jawab. Juga diberikan uraian tentang
kerugian dan keburukan dari orang yang tidak jujur dan tidak
punya tanggung jawab.
Tentu tidak cukup hanya dengan transfer ilmu itu saja untuk
bisa membuat anak kita menjadi orang yang jujur dan
bertanggungjawab. Diperlukan suatu latihan dan pembiasaan
terhadap anak kita supaya dia bisa jujur dan bertanggungjawab.
Untuk itu diperlukan suatu metode atau cara yang diperoleh dengan
eksperimen dan pelatihan. Banyak pihak, perseorangan dan juga
lembaga yang mencoba melakukan kegiatan khusus untuk memperoleh
cara efektif dalam mendidik kejujuran itu. Contohnya ialah upaya
mendirikan kantin kejujuran.
Sebuah rombongan guru dari beberapa sekolah Islam di
Indonesia berkunjung ke Australia untuk melakukan studi banding
tentang pendidikan. Yang mengesankan bagi mereka, bukannya cara
pengajaran keilmuan atau peralatan canggih, tetapi justru
pendidikan kejujuran yang dimulai dari tingkat SD. Kalau terdapat
siswa yang kedapatan mencontoh (nyontek) dari kawannya,
orangtuanya akan dipanggil dan diberi peringatan. Kalau masih
diulangi, maka siswa itu akan dikeluarkan.
Mari kita bandingkan keadaan itu dengan keadaan di sejumlah
sekolah kita, termasuk MTs dan MA. Banyak terjadi praktik guru
membantu murid-murid dalam ujian nasional, untuk meningkatkan
angka kelulusan sekolah tersebut. Seandainya praktik busuk itu
terjadi dalam ujian nasional atau ulangan mata pelajaran agama
Islam di madrasah sebuah pesantren, maka bisa dikatakan bahwa
dalam hal itu pengajaran agama tidak ada gunanya diberikan,
bertentangan dengan pendidikan agama, bahkan menghancurkan
prinsip dan tujuan pendidikan agama itu sendiri.
Kita harus berani melakukan penilaian kritis terhadap diri
kita sendiri, apakah kita telah memberikan pendidikan agama
secara benar, bukan hanya memberikan pengajaran agama. Kalau kita
tidak peduli dengan masalah itu, maka banyak anak didik kita
tidak akan mempunyai kejujuran, padahal kejujuran adalah dasar
dari seluruh kehidupan kita termasuk kehidupan akhirat. Tanpa
kejujuran, tidak akan ada rasa saling percaya ( trust ) didalam
masyarakat. Tanpa rasa saling percaya, masyarakat itu akan
kehilangan kekuatan utamanya.
Tanpa kejujuran dan rasa saling percaya, tidak ada masa
depan bagi Indonesia. (Salahuddin Wahid, Pengasuh Pesantren
Tebuireng)

 
Baca Komentar Beri Komentar
Kirimkan Artikel Cetak Artikel
 
 
Mendengarkan Suara Rakyat
Sepakbola, Barang yang Mahal?
Meraih Mimpi Sepakbola
Mau Meniru Amerika Latin?
Ibadah: Simbol dan Substansi