Halaman Muka | Kontak Kami | Tentang Kami | Iklan  | Arsip  Edisi Kamis, 23 Maret 2017  
Politik dan Keamanan
Ekonomi dan Keuangan
Metropolitan
Opini
Agama dan Pendidikan
Nusantara
Olah Raga
Luar Negeri
Assalamu'alaikum
Derap TNI-POLRI
Hallo Bogor
 
   
 
Login
 
      
 
Password
 
 
 
   
Dunia Tasawuf
Forum Berbangsa dan Bernegara
Swadaya Mandiri
Forum Mahasiswa
Lingkaran Hidup
Pemahaman Keagamaan
Otonomi Daerah
Lemb Anak Indonesia
Parlementaria
Budaya
Kesehatan
Pariwisata
Hiburan
Pelita Hati
..
..
NILAI TUKAR RUPIAH
Source : www.klikbca.com
 JualBeli
USD 9200.00  9100.00  
SGD 6325.65  6236.65  
HKD 1187.90  1173.10  
CHF 7874.45  7769.45  
GBP 18868.05  18609.05  
AUD 8331.10  8203.10  
JPY 80.82  79.36  
SEK 1437.75  1407.65  
DKK 1776.20  1737.00  
CAD 9530.55  9376.55  
EUR 13145.74  12975.74  
SAR 2466.00  2426.00  
25-Okt-2007 / 15:41 WIB
 
 
 
Mendengarkan Suara Rakyat
[Pelita Hati]

Mendengarkan Suara Rakyat

SALAH satu perkembangan yang sangat pesat didalam waktu 10 tahun terakhir adalah suasana keterbukaan yang luar biasa. Didukung dengan teknologi informasi yang juga berkembang pesat, apapun yang terjadi di masyarakat terungkap bebas. Melalui acara komunikasi dengan pendengarnya, berbagai radio swasta mengungkap apa yang terjadi itu. Alangkah bebas suara rakyat itu, sehingga siapa saja tidak lepas dari kritik yang terkadang sangat tajam, dan bahkan menggunakan bahasa yang keras. Siapapun yang terkena, bisa membuat telinga memerah, bahkan (mungkin) tidak bisa tidur.
Meskipun demikian, suara-suara seperti itu selayaknya tetap kita dengar. Bagi para pemimpin, mungkin bisa dijadikan bahan introspeksi, apa yang salah? Kalau segera diambil langkah koreksi, masalahnya mungkin bisa dicegah tidak menjadi besar, dan bahkan terselesaikan. Sebaliknya, kalau kritik-kritik itu diabaikan, bisa saja masalahnya membesar dan menjadi bola liar. Suatu hal yang mestinya harus dihindari.
Masalah kemacetan lalu-lintas (misalnya) telah menjadi topik pembicaraan sehari-hari sejak lama. Berbagai radio swasta, hampir sepanjang hari melaporkan kondisi lalu-lintas ini. Masyarakat, setidaknya tertolong kalau bisa menghindar. Namun, untuk menghindar pun tidak mudah. Sebab, yang dinamakan jalan alternatif pun juga sudah macet. Kondisi seperti ini, mungkin tidak dirasakan, bagi mereka yang dikawal. Puncaknya, ada keluhan terhadap pengawalan VVIP. Masyarakat berani memberi komentar tentang pengawalan VVIP itu, sehingga juru bicara presidenpun terpaksa tampil di layar kaca. Siapa sesungguhnya yang harus bertanggungjawab terhadap masalah ini?
Masyarakat, selama ini memang sudah banyak mengeluh. Respons pemerintah yang terkesan minim. Mengapa kondisi jalan begitu buruk, sehingga menambah kemacetan? Mengapa transportasi umum semakin digantikan dengan sepeda motor, atau mobil yang begitu menyemut di jalanan, sementara bus/angkot sering terlihat kekurangan penumpang? Sistem transportasi massal Jakarta, memang sudah jauh tertinggal dibanding negara di sekitar kita.
Tidak berlebih, kalau kita berharap, masalah kemacetan ini bisa menjadi prioritas untuk dapat diselesaikan. Kalau tidak, kekesalan masyarakaat bisa semakin memuncak. Sebab, kalau kita mendengar radio swasta, di seluruh Indonesia sudah macet. Pemecahannya, sudah tentu juga secara nasional. Ditambah berbagai keluhan masyarakat yang lain, tentang kondisi perekonomian kita, kemiskinan, keadilan hukum, dan lain-lainnya rasanya keadaan kita sekarang sudah hampir di titik nadir. Dapatkah perbaikan itu dapat kita harapkan? Tentu, kita semua masih berharap, kita mampu memperbaiki semua itu, meskipun tidak dalam waktu dekat. Hal ini berarti, kita masih harus sabar. Syaratnya, kita semua peduli dengan berbagai keluhan itu, sekecil apapun.
Inilah esensi demokrasi. Bahwa keluhan masyarakat sekecil apapun harus memperoleh perhatian dari pemerintah dan para elit politik negeri ini, agar kondisinya tidak semakin memburuk. Syaratnya, kita harus bersedia dan pandai mendengar dan mengambil langkah untuk mengurangi keluhan itu. Sekali lagi, sekecil apapun.(Sulastomo)

 
Baca Komentar Beri Komentar
Kirimkan Artikel Cetak Artikel
 
 
Sepakbola, Barang yang Mahal?
Meraih Mimpi Sepakbola
Mau Meniru Amerika Latin?
Ibadah: Simbol dan Substansi
Percakapan dengan Sopir Taksi Singapura