Halaman Muka | Kontak Kami | Tentang Kami | Iklan  | Arsip  Edisi Selasa, 24 Januari 2017  
Politik dan Keamanan
Ekonomi dan Keuangan
Metropolitan
Opini
Agama dan Pendidikan
Nusantara
Olah Raga
Luar Negeri
Assalamu'alaikum
Derap TNI-POLRI
Hallo Bogor
 
   
 
Login
 
      
 
Password
 
 
 
   
Dunia Tasawuf
Forum Berbangsa dan Bernegara
Swadaya Mandiri
Forum Mahasiswa
Lingkaran Hidup
Pemahaman Keagamaan
Otonomi Daerah
Lemb Anak Indonesia
Parlementaria
Budaya
Kesehatan
Pariwisata
Hiburan
Pelita Hati
..
..
NILAI TUKAR RUPIAH
Source : www.klikbca.com
 JualBeli
USD 9200.00  9100.00  
SGD 6325.65  6236.65  
HKD 1187.90  1173.10  
CHF 7874.45  7769.45  
GBP 18868.05  18609.05  
AUD 8331.10  8203.10  
JPY 80.82  79.36  
SEK 1437.75  1407.65  
DKK 1776.20  1737.00  
CAD 9530.55  9376.55  
EUR 13145.74  12975.74  
SAR 2466.00  2426.00  
25-Okt-2007 / 15:41 WIB
 
 
 
Maaf
[Opini]

Maaf

Oleh Dr Mahmudi Asyari
Setelah sekian sekian lama bangsa ini dihebohkan oleh pemberitaan—terutama infotainment—seputar vedio mesum yang pelakunya disangka, Ariel, Luna Maya, dan Cut Tari, tiba-tiba jenis hiburan baru kembali disuguhkan di hadapan publik. Hiburan itu, tidak lain adalah permintaan maaf Cut Tari dan Luna Maya. Dan, sepertinya memang—meskipun sebagaimana dalam kasus pidana hal itu tidak boleh menghentikan proses hukum—sedikit berdampak baik, karena Polri—sebagaimana diungkapkan pejabat di instansi tersebut—sama sekali tidak terbesit untuk menahan keduanya.
Untuk Cut Tari, saya sependapat mengingat besangkutan mempunyai anak kecil, namun untuk Luna Maya saya tetap tidak bisa mengerti. Ini semakin menunjukkan bahwa kebebesan penyidik untuk menahan dan tidak sangat aturable. Bandingkan dengan Prita Mulyasari yang ketika dijebloskan ke tahanan juga mempunyai anak kecil bahkan usianya jauh lebih muda ketimbang anak Cut Tari. Memperhatikan hal itu, saya melihat memang hukum masih melihat bulu meskipun ancaman hukumannya tidak kalah dari apa yang dikenakan kepada Prita Mulyasari. Apakah karena kedua orang itu telah meminta maaf?
Meminta maaf memang bagus dan semua ajaran agama sangat menganjurkan umat masing untuk meminta maaf jika melakukan sebuah kesalahan. Oleh sebab itu, di satu sisi permintaan maaf kedua orang yang diduga—menurut berita sekarang menjadi tersangka—melakukan aksi panas tersebut dianggap telah memenuhi perbuatan mulia sesuai ajaran agama yang mereka anut.
Secara terminologi terdapat perbedaan antara pemintaan maaf dan tobat hanya berbeda tipis. Meskipun demikian, dalam tobat yang ditujukan kepada Allah maupun maaf pelaku kesalahan atau tindakan merugikan orang lain harus menegaskan kesalahan apa yang telah dilakukan. Sebab, sebagaimana dalam tobat, jika seseorang berani mengakui secara definitif kesalahan yang telah dilakukan ditafsirkan ada kesungguhan penyesalan di mana dengan tindakan itu diharapkan tidak mengulangi lagi. Akan tetapi, sangat sedikit orang yang mau melakukan permintaan maaf seperti itu. Kebanyakan praktik yang berkembang adalah menunggu Idul Fitri sembari bersilaturrahmi sambil mengucapkan mohon maaf.
Permintaan maaf seperti itu tentunya sangat artifisial dan bisa dikatakan tidak mempunyai keberanian untuk meminta maaf sebagaimana diajarakan agama. Lihatlah doktrin dalam Islam yang menegaskan bahwa dosa kepada sesama anak manusia tidak akan mendapatkan ampunan dari Allah kecuali telah diberi maaf oleh yang dirugikan. Penegasan itu, tidak bisa ditafsirkan lain selain si peminta maaf harus menjelaskan kesalahan yang telah dilakukan.
Dalam kasus Cut Tari dan Luna Maya, apakah memang harus meminta maaf kepada bangsa ini? Untuk mengetahui masalah itu, harus dilihat—karena Cut Tari dan Luna Maya mengaku muslimah—dilihat ajaran dalam Islam mana yang harus dimintakan maaf kepada manusia dan mana yang secara dogmatis hak Allah.
Jika permintaan maaf keduanya terkait aksi panasnya manakala bukan mereka tidak perlu melakukannya. Namun, jika memang melakukan perbuatan yang dalam Islam disebut zina, bukan pada tempatnya untuk meminta maaf kepada manusia, karena hubungan di lunar nikah jelas zina dan zina adalah semata hak Allah dan tidak ada hak manusia di situ selain perasaan kebebasan para pelakunya. Jika sekiranya dalam kasus itu, wanita yang secara sadar mengakui berzina kepada Nabi setelah melahirkan anak hasil illegalnya, beliau tentu tidak akan memerintahkan Umar, karena ketulusannya untuk mengakui pernzinahan dianggap sudah berupa bentuk maaf.
Namun, beliau tetap menyuruh Umar untuk merajam dan si wanita itu pun dengan penuh berharap ampunan Tuhan tidak sedikit pun menunjukkan keberatan atas keputusan Nabi itu. Dengan kata lain, untuk perzinahan tidak ada maaf kepada manusia. Dan, karena di Indonesia tidak diterapkan hukum Islam, perbanyaklah minta ampun kepada Allah, karena Ia jika hamba-Nya datang secara tulus sesuai dengan doktrin taubah nasuha niscaya akan memberikan pengampunan meskipun bersangkutan berlumuran dosa sekalipun. Saya, kira selaku orang beragama, terutama Cut Tari yang pernah menjuarai MTQ ketika duduk di bangku sekolah tentu tahu apa yang harus dilakukan di hadapan Allah jika mereka memang melakukan hal yang tidak senonoh itu.
Akan tetapi, meminta maaf kepada bangsa ini bisa diterima juga sepanjang dalam konteks betapa banyak anak-anak yang telah menjadi korban vedio mesum itu baik sebagai penikmat maupun sebagai sasaran penangkapan polisi. Begitu, juga jika hubungan mesum itu telah merusak ikatan perkawinan salah pihak atau mengkhianati ikatan perkawinan yang suci.
Berkaitan itu, maka permintaan maaf selain harus ditegaskan apa yang dimintakan maafnya, juga harus menyebutkan bahwa bersangkutan meminta maaf kepada para orang tua yang anak mereka menjadi penikmat adegan itu, kepada pelajar yang di telepon selular mereka ada film panas itu, kepada pasangan hidupnya, dan juga kepada wanita atau laki-laki yang karena aksi itu menyebabkan perceraian. Maka, sungguh tidak tepat jika permintaan maaf kemudian ditujukan kepada pejabat, MUI, dan lain-lain. Sebab, mereka bukan dalam konteks yang benar-benar dirugikan oleh tindakan seronok itu.
Dengan kata lain, dalam meminta maaf sesuai ajaran agama, harus jelas meminta maaf untuk apa dan untuk siapa (yang dirugikan). Jika hal itu dilakukan dalam meminta maaf, berarti telah melakukan ajaran yang benar. Namun, sayangnya dalam menyatakan permintaan maaf baik Cut Tari maupun Luna Maya tidak menegaskan kedua hal itu sehingga tidak jelas untuk apa mereka meminta maaf. Atau, mereka belum sepenuhnya tegar menghadapi fakta jika sekiranya mengakui kecaman akan semakin luas. Oleh sebab itu, yang digunakan adalah cara meminta maaf seperti di hari Idul Fitri dengan harapan masyarakat tanpa menurut harus lebih terbuka dianggap telah mengetahui mereka meminta maaf untuk apa.
Terlepas dari ketidaktegasan itu, yang jelas dalam ranah pidana tidak ada istilah minta maaf terlebih itu dimaksudkan untuk menghentikan proses hukum. Pemintaan maaf sah saja dilakuka n, namun tidak boleh meringankan apalagi membatalkan proses hukum termasuk dalam pandangan hukum Islam sekalipun.
Dalam sejarah hukum Islam memang sempat terjadi perdebatan antara ulama dari Mazhab Hanafi dan Mazhab Maliki terkait permintaan maaf dalam kasus pidana selain qishas. Ulama pada periode pertengahan dari kalangan Mazhab Hanafi mengatakan jika seseorang sudah mengakui dan bertobat dianggap telah selesai dengan alasan ada nash yang memerintahkan hal itu. Namun, hal itu dibantah oleh kalangan Mazhab Maliki yang oleh sejumlah kalangan disebut tradisionalis. Menurutnya, jika pelaku pidana cukup disuruh bertobat dan meminta maaf kepada yang dirugikan akan semakin banyak pelaku pidana, karena bagi mereka cukup bertobat untuk kemudian mengulangi lagi.
Oleh sebab itu, berkaitan dengan kasus yang menimpa Cut Tari dan Luna Maya, jika memang ada unsur pidananya, pemintaan maaf tidak bisa dijadikan dalih untuk mengendorkan proses hukum. Terlebih sesuai hukum peninggalan Belanda di Indonesia, tidak ada tempat untuk maaf.
Suatu hal yang harus diwaspadai adalah bahwa pemintaan maaf itu tidak lebih sebuah taktik pengacara yang mendampingi mereka guna mengalihkan opini dari pelaku aktif menjadi korban. Jika ini yang ada di balik minta maaf itu tidak bisa dimakna lain selain sebuah akrobat baru sedang berlangsung guna menyelamatkan Cut Tari dan Luna Maya. Okelah mereka korban, tapi korban dari keronokan mereka yang dalam bahas Malaysia berarti sangat menyenangkan.
Oleh sebab itu, mari waspadai arah dari pemintaan maaf itu yang secara substantif tidak jelas untuk apa dan kepada siapa mereka meminta maaf. Dan, kepada para pengacara yang sejak awal menunjukkan kegarangannya konsistenlah, karena sebuah nilai luhur yang oleh sejumlah pihak dianggap agama, yaitu Pancasila sedang dipertaruhkan. Atau anggap saja tinggal empat sila saja, sehingga kelak jika ada kasus serupa dengan tampa beban bisa mengatakan bahwa masalah itu adalah ranah private (pribadi).



 
Baca Komentar Beri Komentar
Kirimkan Artikel Cetak Artikel
 
 
Matriarkhi yang Patriarkhal
KPK Berada di Titik Nadir?
Reformulasi Citra Polri
KPK Berada di Titik Nadir?
Reformulasi Citra Polri