Halaman Muka | Kontak Kami | Tentang Kami | Iklan  | Arsip  Edisi Minggu, 19 Februari 2017  
Politik dan Keamanan
Ekonomi dan Keuangan
Metropolitan
Opini
Agama dan Pendidikan
Nusantara
Olah Raga
Luar Negeri
Assalamu'alaikum
Derap TNI-POLRI
Hallo Bogor
 
   
 
Login
 
      
 
Password
 
 
 
   
Dunia Tasawuf
Forum Berbangsa dan Bernegara
Swadaya Mandiri
Forum Mahasiswa
Lingkaran Hidup
Pemahaman Keagamaan
Otonomi Daerah
Lemb Anak Indonesia
Parlementaria
Budaya
Kesehatan
Pariwisata
Hiburan
Pelita Hati
..
..
NILAI TUKAR RUPIAH
Source : www.klikbca.com
 JualBeli
USD 9200.00  9100.00  
SGD 6325.65  6236.65  
HKD 1187.90  1173.10  
CHF 7874.45  7769.45  
GBP 18868.05  18609.05  
AUD 8331.10  8203.10  
JPY 80.82  79.36  
SEK 1437.75  1407.65  
DKK 1776.20  1737.00  
CAD 9530.55  9376.55  
EUR 13145.74  12975.74  
SAR 2466.00  2426.00  
25-Okt-2007 / 15:41 WIB
 
 
 
Sepakbola, Barang yang Mahal?
[Pelita Hati]

Sepakbola, Barang yang Mahal?

SETELAH menikmati siaran sepakbola Piala Dunia, yang tanpa diduga dimenangkan kesebelasan Spanyol, kita kembali ke realitas. Bahwa ia semacam klangenan alias tempat menumpahkan pelarian kolektif, sebuah hiburan dunia yang melibatkan beragam emosi pendukungnya. Kita juga merasakan usainya kegiatan nonton bareng, suatu aktivitas yang absurd tapi menarik. Mengapa nonton bareng saja kok harus nunggu kalau ada Piala Dunia? Mengapa kita baru bisa nonton bareng, dimana yang ditonton bukan kesebelasan nasional kita? Yang terakhir ini beragam jawabnya. Tetapi, tentu saja tanpa harus menyindir Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI), kita semua sadar bahwa wajah dunia persepakbolaan kita masih serba-memprihatinkan.
Kembali ke realitas, berarti bekerja kembali secara normal, tidak ngantuk-ngantuk, karena lembur nonton pertandingan bola. Bahwa masalah kita sendiri masih seabrek dan perlu diurus secara ekstra-serius. Tapi, tak salah pula bila kita coba ambil hikmah dari serentetan pertandingan sepakbola Piala Dunia 2010 yang telah berakhir itu. Tentu saja, kita perlu catat adanya hal-hal positif olahraga kaitannya dengan hubungan antar-individu, antar-kelompok atau interaksi sosial kita yang kompleks. Perlu ada sportifitas dalam kompetisi hidup yang dinamis. Prestasi adalah peluang semua orang. Dan, kalau menyimak suatu pertandingan yang antiklimaks bagi kesebelasan Belanda, dan sebaliknya klimaks bagi kesebelasan Spanyol, maka seolah-olah itu memberikan pesan bahwa ritme hidup itu perlu diatur, agar klimaksnya pas, tepat.
Sepakbola, sepanjang sejarahnya, telah memberikan filsafatnya tersendiri. Keterpautan antara takdir yang digariskan dengan upaya masing-masing kesebelasan untuk bermain baik, lincah, dan indah (atau sebaliknya) banyak diulas oleh para pengamat sepakbola, dan ulasan itu disambut antusias oleh para fanatiknya. Tetapi, bolehlah semua orang jadi pengulas, dan lantas menebak kesebelasan mana yang berpeluang menang. Jarak antara pemain dan pengulas, menjadi sangat pendek ketika bola dimainkan, juga sebelum dan setelah pertandingan usai. Urusan bola bulat yang diperebutkan sekian pemain itu memang menyihir, dan dimanfaatkan oleh pemanfaatnya baik secara bisnis, sosio-kultural, bahkan hingga politik.
Kita masih berangan-angan, kapan kita mampu membikin kesebelasan yang kokoh dan andal, setidaknya bisa mewakili Asia di Piala Dunia. Tiba-tiba, syair lagu Iwan Fals tergiang, anak kota tak mampu beli sepatu; anak kota tak punya tanah lapang; sepakbola jadi barang yang mahal; milik mereka yang punya uang saja... Kita perlu tanya padanya, apakah memang betul sepakbola kita telah dikepung pragmatisme, sehingga tak bisa berkembang normal? (M Alfan Alfian, Universitas Nasional, Jakarta)

 
Baca Komentar Beri Komentar
Kirimkan Artikel Cetak Artikel
 
 
Meraih Mimpi Sepakbola
Mau Meniru Amerika Latin?
Ibadah: Simbol dan Substansi
Percakapan dengan Sopir Taksi Singapura
Keadaan