Halaman Muka | Kontak Kami | Tentang Kami | Iklan  | Arsip  Edisi Sabtu, 25 Februari 2017  
Politik dan Keamanan
Ekonomi dan Keuangan
Metropolitan
Opini
Agama dan Pendidikan
Nusantara
Olah Raga
Luar Negeri
Assalamu'alaikum
Derap TNI-POLRI
Hallo Bogor
 
   
 
Login
 
      
 
Password
 
 
 
   
Dunia Tasawuf
Forum Berbangsa dan Bernegara
Swadaya Mandiri
Forum Mahasiswa
Lingkaran Hidup
Pemahaman Keagamaan
Otonomi Daerah
Lemb Anak Indonesia
Parlementaria
Budaya
Kesehatan
Pariwisata
Hiburan
Pelita Hati
..
..
NILAI TUKAR RUPIAH
Source : www.klikbca.com
 JualBeli
USD 9200.00  9100.00  
SGD 6325.65  6236.65  
HKD 1187.90  1173.10  
CHF 7874.45  7769.45  
GBP 18868.05  18609.05  
AUD 8331.10  8203.10  
JPY 80.82  79.36  
SEK 1437.75  1407.65  
DKK 1776.20  1737.00  
CAD 9530.55  9376.55  
EUR 13145.74  12975.74  
SAR 2466.00  2426.00  
25-Okt-2007 / 15:41 WIB
 
 
 
Meraih Mimpi Sepakbola
[Pelita Hati]

Meraih Mimpi Sepakbola

MESKIPUN ajang Piala Dunia sudah usai, tapi greget event besar itu untuk selalu memberikan mimpi ternyata tidak pernah berhenti. Bagi Afrika Selatan, negara Afrika yang pertama menjadi tuan rumah Piala Dunia, mimpi itu ternyata berlanjut ketika Presiden Jacob Zuma baru-baru ini menyatakan keinginannya untuk ikut bidding penyelenggaraan pesta terakbar dan tertinggi dunia yakni Olimpiade. Sukses penyelenggaraan Piala Dunia rupanya memberikan negeri yang pernah dirobek konflik rasial ini, inspirasi untuk mencari posisi prestasi lebih tinggi, lebih terhormat di antara bangsa-bangsa dunia.
Hal itu sekaligus membuktikan bahwa Piala Dunia bukan hanya sekadar sepakbola, bukan pula sekadar pesta kemenangan atau tangis kekalahan bagi setiap tim yang bertanding. Tapi ini menyangkut pride dan nationalism, atau sesuatu yang sering disebut melebihi variabel ekonomi atas gelontoran dana semua pihak terkait yang terlibat di dalamnya.
Tak hanya bagi Afrika Selatan, tapi coba rasakan denyutnya di negara-negara yang mengirimkan timnya ke Piala Dunia itu. Selama berminggu-minggu, di setiap sudut jalan di Amsterdam, Austria, Swiss, Madrid, Moskow, Seoul, hingga Accra dan Abijan, jalanan dipenuhi bendera, lagu-lagu nasional, tabuhan drum, pekikan patriotisme. Bahkan Spanyol, yang berhasil menjadi juara dunia pertama kali setelah menaklukkan Belanda terjadi momentum sangat langka, ketika kelompok Catalonians, Castillians, Basque, dan Andalusians- kelompok yang sering terjepit pada keributan, tiba-tiba menjadi satu dalam sebuah ledakan kenikmatan patriotik. Patriotik sepakbola yang memicu patriotik kebangsaan.
Maka, masuk akal jika kemudian seorang pelatih sepakbola Belanda pernah berkata \"Sepakbola adalah perang\". Disana ada perasaan kolektif, teknik, strategi, kecepatan, dan hati.
Nah, tak berbeda dengan negara-negara tadi, kita, di Indonesia, kini juga sibuk dengan sebuah impian. Itu sangat normal. Impiannya cukup lama diperbincangkan --dan rupanya hanya cukup diperbincangkan -- bahwa kita suatu ketika akan memiliki sebuah tim sepakbola yang mampu bicara pada event sekelas Piala Dunia. Tak hanya itu, kita juga bermimpi untuk menjadi tuan rumah event itu -- meskipun hanya beberapa bulan lalu, kita baru saja \"membuang\" kesempatan itu, ketika PSSI yang dipimpin Nurdin Halid memutuskan untuk tidak meneruskan ikut bidding, antara lain karena merasa tidak mendapatkan dukungan dari berbagai pihak.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sudah mengambil start bagus. Mungkin terpancut dengan antusiasme para petinggi negara-negara G-20 yang bertemu di Kanada beberapa waktu lalu terhadap olahraga ini, Yudhoyono mengumpulkan banyak orang di Cikeas dan di Bali beberapa waktu lalu, entah ketika menggelar nonton bersama maupun pertemuan lain, menyatakan komitmen besar memajukan sepakbola Tanah Air. Presiden rupanya resah kenapa negara besar ini tidak punya tim sepakbola yang bagus; bahkan untuk sekelas Asia Tenggara saja tidak bisa bersuara. Repotnya, PSSI kita pun memble.
Akankah semua ini akan menjadi impian kosong? Kita sulit menjawab ini. Yang kita ingat ketika Piala Dunia digelar di Jerman, empat tahun lalu, perbincangan yang sama, debat yang sama, impian yang sama juga pernah disampaikan. Tapi ternyata hanya bertahan beberapa pekan. Setelah itu dilupakan. (jones sirait)

 
Baca Komentar Beri Komentar
Kirimkan Artikel Cetak Artikel
 
 
Mau Meniru Amerika Latin?
Ibadah: Simbol dan Substansi
Percakapan dengan Sopir Taksi Singapura
Keadaan
Pintu 2: Tadzakkur