Halaman Muka | Kontak Kami | Tentang Kami | Iklan  | Arsip  Edisi Selasa, 28 Maret 2017  
Politik dan Keamanan
Ekonomi dan Keuangan
Metropolitan
Opini
Agama dan Pendidikan
Nusantara
Olah Raga
Luar Negeri
Assalamu'alaikum
Derap TNI-POLRI
Hallo Bogor
 
   
 
Login
 
      
 
Password
 
 
 
   
Dunia Tasawuf
Forum Berbangsa dan Bernegara
Swadaya Mandiri
Forum Mahasiswa
Lingkaran Hidup
Pemahaman Keagamaan
Otonomi Daerah
Lemb Anak Indonesia
Parlementaria
Budaya
Kesehatan
Pariwisata
Hiburan
Pelita Hati
..
..
NILAI TUKAR RUPIAH
Source : www.klikbca.com
 JualBeli
USD 9200.00  9100.00  
SGD 6325.65  6236.65  
HKD 1187.90  1173.10  
CHF 7874.45  7769.45  
GBP 18868.05  18609.05  
AUD 8331.10  8203.10  
JPY 80.82  79.36  
SEK 1437.75  1407.65  
DKK 1776.20  1737.00  
CAD 9530.55  9376.55  
EUR 13145.74  12975.74  
SAR 2466.00  2426.00  
25-Okt-2007 / 15:41 WIB
 
 
 
KPK Berada di Titik Nadir?
[Opini]

KPK Berada di Titik Nadir?

Oleh Bramma Aji Putra

DALAM sebuah episode program Kick Andy yang ditayangkan televisi swasta, pernah menghadirkan Antasari Azhar. Waktu itu, Antasari masih menjabat sebagai Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Ekspektasi rakyat kepada lembaga pemberantasan korupsi itu juga sedang tinggi-tingginya. Tak heran, dalam acara tersebut, maju seorang ibu yang berprofesi guru. Ibu tadi membacakan puisi yang ditulisnya berjudul Pangeran Antasari, Pendekar Antikorupsi.
Semua orang rasa-rasanya sepakat dengan puisi ibu guru tadi. Maklum, sepak terjang dan kinerja KPK waktu itu patut diacungi dua jempol. Di saat harapan rakyat melihat tentakel korupsi menyebar hampir di semua lini kehidupan, KPK tampil sebagai pendobrak. Berani menerjang dan menangkap semua koruptor. Kendati harus diakui, koruptor kelas kakap yang dekat dengan jaringan penguasa masih memiliki antibodi super ampuh.
Sepak terjang KPK
Masih segar di ingatan kita tatkala KPK dengan amat menawan mampu menangkap basah anggota Komisi Pemilihan Umum, Mulyana W Kusumah. Mulyana diduga menyuap auditor Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Kasus Mulyana tak ayal menjadi pintu pembuka jejaring korupsi di KPU.
Taring KPK juga dapat kita rasakan saat berhasil meringkus, melalui proses penyadapan, jaksa Urip Tri Gunawan. Ditengarai Jaksa Urip waktu itu menerima USD 660 ribu dari makelar kasus Artalyta Suryani alias Ayin yang kemarin lalu kepergok tinggal dalam sel mewah ala hotel bintang lima. Ayin dikenal sebagai kerabat Sjamsul Nursalim yang sedang terjerat kasus Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI).
Terkuaknya kongkalikong memalukan yang melibatkan Jaksa Urip di atas sampai-sampai menyebabkan Jaksa Agung Hendarman Supandji menitikkan air mata. Ia sampai kehabisan kata untuk menunjukkan kejengkelannya. Betapa ia berusaha untuk mereformasi kejaksaan, tapi sayang, hasilnya masih jauh panggang dari api.
Aksi KPK yang kian membuat kepincut rakyat tak terhenti sampai di sana. Anggota DPR pun tak luput dari incaran KPK. Dan hasilnya, salah satunya dapat kita lihat dari penangkapan Al Amin Nur Nasution dari Fraksi Partai Persatuan Pembangunan. Mantan suami pedangdut Kristina itu saat ditangkap diduga patgulipat dengan Sekda Bintan Azirwan terkait alih fungsi hutan lindung.
Pelbagai contoh sepak terjang KPK di atas jelas melegakan rakyat yang amat merindukan terwujudnya good governance yang salah satunya dapat dilihat dari penuntasan korupsi. Hanya saja, kini KPK tengah mengalami badai ujian. Bermula dari Antasari yang dijatuhi hukuman 18 tahun penjara terkait pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen. Dan kini, dua wakil pimpinan KPK, Bibit Samad Rianto dan Chandra M Hamzah kembali dijadikan tersangka dalam kasus penyalahgunaan wewenang dan upaya pemerasan.
Serangan Balik
Seperti kita tahu, Bibit-Chandra dituduh memeras Anggoro Widjojo, tersangka korupsi alat komunikasi radio terpadu Departemen Kehutanan. Dugaan rekayasa kasus tersebut kian mengkristal saat rekaman pembicaraan Anggodo Widjojo (adik Anggoro) dengan sejumlah pihak diputar di Mahkamah Konstitusi (MK) pada 3 November tahun lalu.
Bibit-Chandra yang sempat ditahan akibat desakan masyarakat luas termasuk aksi Gerakan 1.000.000 Bebaskan Bibit-Chandra via facebook akhirnya dibebaskan. Masalah timbul saat pemerintah, melalui kejaksaan, hanya mengeluarkan SKPP. Anggodo pun memperkarakan SKPP dengan alasan sosiologis tadi. Dapat ditebak, Anggodo menang baik di Pengadilan Negeri maupun di Pengadilan Tinggi.
Padahal, Presiden Yudhoyono pada November tahun lalu telah memerintahkan Jaksa Agung untuk menyelesaikan kasus Bibit-Chandra di luar pengadilan. Arti implisitnya jelas, Presiden mengarahkan agar kasus tersebut di-deponeering (dikesampingkan demi kepentingan umum).
Alih-alih mematuhi, Jaksa Agung malah melakukan blunder. Kini Kejaksaan tengah mengajukan Peninjauan Kembali (PK). Dapat ditebak jalan akhirnya, mengingat PK dalam kasus Bibit-Chandra amat mudah dipatahkan.
Pendek kata, kisruh badai besar yang tengah menyerang pimpinan KPK, bukan mustahil sebenarnya sengaja didesain oleh para koruptor. Maka sangat tinggi waktunya bagi kita untuk mewaspadai corruptors fight back (serangan balik koruptor). Mengapa? Jelas, keberadaan lembaga yang memiliki kewenangan luar biasa seperti KPK merupakan ancaman nyata bagi para koruptor di negeri ini.
Kini, Antasari sudah mendekam di bui meski masih akan mengajukan banding atas putusan terhadap dirinya. Bibit-Chandra kembali menjadi tersangka, karena itu segera non-aktif dari jabatannya sebagai pimpinan KPK.
Alhasil KPK saat ini hanya memiliki dua pimpinan, dan ini sanggup dimentahkan oleh para koruptor. Kekuatan dua pimpinan semacam itu jelas tak mampu mengahadang pelbagai kasus korupsi yang terus mengemuka.
Hal itu terbukti dalam kasus Century yang terasa berjalan di tempat. Tiupan peluit dari mantan Kabareskrim Susno Duadji soal sengkarut korupsi di tubuh Ditjen Pajak yang juga melibatkan sejumlah perwira tinggi Polri juga tak lekas ditangani.
Apakah KPK berada di titik nadir? Sulit membantah hal tersebut. Nasib KPK, ternyata tak jauh beda dengan nasib lembaga pemberantasan korupsi zaman Orde Lama maupun masa lalu. (Penulis adalah Staf Peneliti Fakultas Dakwah UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta).

 
Baca Komentar Beri Komentar
Kirimkan Artikel Cetak Artikel
 
 
Reformulasi Citra Polri
Reformasi Polri Sebuah Keniscayaan
Dana Aspirasi dan Caleg Stress
Makna Israk-Mikraj
Bijaksana Mengisi Liburan Sekolah