Halaman Muka | Kontak Kami | Tentang Kami | Iklan  | Arsip  Edisi Jum'at, 24 Maret 2017  
Politik dan Keamanan
Ekonomi dan Keuangan
Metropolitan
Opini
Agama dan Pendidikan
Nusantara
Olah Raga
Luar Negeri
Assalamu'alaikum
Derap TNI-POLRI
Hallo Bogor
 
   
 
Login
 
      
 
Password
 
 
 
   
Dunia Tasawuf
Forum Berbangsa dan Bernegara
Swadaya Mandiri
Forum Mahasiswa
Lingkaran Hidup
Pemahaman Keagamaan
Otonomi Daerah
Lemb Anak Indonesia
Parlementaria
Budaya
Kesehatan
Pariwisata
Hiburan
Pelita Hati
..
..
NILAI TUKAR RUPIAH
Source : www.klikbca.com
 JualBeli
USD 9200.00  9100.00  
SGD 6325.65  6236.65  
HKD 1187.90  1173.10  
CHF 7874.45  7769.45  
GBP 18868.05  18609.05  
AUD 8331.10  8203.10  
JPY 80.82  79.36  
SEK 1437.75  1407.65  
DKK 1776.20  1737.00  
CAD 9530.55  9376.55  
EUR 13145.74  12975.74  
SAR 2466.00  2426.00  
25-Okt-2007 / 15:41 WIB
 
 
 
Reformulasi Citra Polri
[Opini]

Reformulasi Citra Polri

Oleh Supadiyanto

Kini institusi penegak hukum seperti Polri, KPK, kejaksaan serta pengadilan tengah menjadi sorotan publik. Hal itu terkait berbagai kasus hukum yang pernah menjerat sejumlah petinggi lembaga itu. Lebih-lebih Polri, yang memperingati Hari Bhayangkara ke-64 pada 1 Juli 2010, benar-benar sedang mendapat ujian berat.
Soalnya, ditengarai banyak petinggi Polri yang gemar bermain kasus untuk mendapatkan keuntungan pribadi, hingga rekening pribadinya bisa membeludak digelontor oleh pundi-pundi rupiah. Bambang Hendarso Dahuri, selaku orang nomor satu di korps yang dulu masih menjadi satu institusi di bawah kendali TNI/ABRI itu, perlu melakukan langkah-langkah darurat untuk menyelamatkan citra Polri di mata publik.
Langkah yang paling tepat dilakukan yakni dengan mereformulasi citra Polri. Yaitu dengan merumuskan kembali kebijakan-kebijakan strategis terkait peran dan tugas pokok Polri sebagai abdi (pelayan) masyarakat.
Wajah bopeng institusi Polri yang kini terus mendapatkan sorotan dari berbagai media massa cetak dan elekktronik, bersinggungan dengan kejanggalan-kejanggalan yang terjadi dalam institusi Polri, mengindikasikan bahwa telah terjadi degradasi moral secara institusional.
Setiap petugas Polri yang diyakini masyarakat sebagai malaikat di dunia ini, meski kenyataannya ia juga bersifat manusia yang cenderung berbuat kealpaan, di masa kini justru kerap mendapatkan buah makian dan cacian dari sejumlah elemen masyarakat.
Khususnya para mahasiswa yang acap kali menggelar aksi demonstrasi yang mengecam habis keburukan-keburukan Polri. Melihat reaksi negatif terhadap eksistensi Polri tersebut, hendaknya para petinggi Polri tak lantas meradang. Bisa jadi berbagai kritik yang dilontarkan publik pada Polri adalah benar.
Pada momentum perayaan Hari Bhayangkara tahun ini, Polri seyogyanya melakukan refleksi diri, mengupas segala kekurangan yang dimiliki. Menilik kualitas SDM yang dimiliki, bagaimana prestasi dan pengabdian mereka kepada masyarakat selama ini. Seberapa besar pengorbanan yang telah diberikan Polri untuk memajukan bangsa ini.
Mabes Polri juga penting melakukan peninajaun ulang dan reevaluasi diri eksistensi Polri mulai dari tingkat pusat hingga daera. Mulai dari tingkat Mabes Polri, Polda/Polwil, Polres/Poltabes hingga Polsek. Satuan-satuan Polri yang meliputi berbagai unsur perlu juga dipantau keberadaan dan fungsinya. Apakah sudah sesuai dengan harapan yang dicanangkan atau meleset dari target yang hendak digapai.
Menanggapi berbagai kritik yang ditujukan pada Polri, baik secara institusional maupun personaliti, petinggi Polri wajib memberikan respon positif atas masukan-masukan tersebut. Tanpa adanya respon balik dan saran yang diberikan masyarakat luas, Polri ibarat mobil tanpa kaca spion. Ia akan bisa berjalan dengan cepat dan lancar, namun ketika jalannya curam dan berkelok-kelok, mobil tersebut mudah terperosok dalam lubang atau bertabrakan dengan mobil lainnya.
Kegigihan dan keberhasilan Polri melalui Densus 88 Mabes Polri-nya yang kuasa melumpuhkan dan menewaskan sejumlah pelaku teroris beserta dengan kroni-kroninya, jangan dijadikan modal untuk gagah-gagahan atau mencari sensasi nasional. Karena tidak otomatis kesuksesan Polri menggulung para pelaku teroris itu, otomatis mendongkrak citra Polri secara organisatoris. Sebaliknya, bisa menuai ribuan kritik dari publik. Mengapa demikian?
Soalnya hanya satu saja. Penembakan oleh petugas Densus 88 Mabes Polri terhadap para pelaku teroris yang terkesan brutal, bisa mengesankan bahwa Polri itu sadistik. Bisa mengambil nyawa seseorang, dengan gampangnya, tanpa melalui jalur pengadilan terlebih dahulu.
Meski diakui, memberantas terorisme itu sangat sulit dan riskan karena mengancam nyawa petugas Polri sendiri, namun kita menyadari bahwa langkah-langkah Polri dalam menangkap para pelaku teroris itu terkesan barbar.
Terlepas dari perangai Polri dalam memberantas aksi para teroris, permasalahan serius lain yang membelit Polri adalah persoalan mentalitas anggota Polri yang kerap terlibat persoalan praktek suap dan korupsi.
Problema ini menohok Polri, tidak saja menimbulkan kerusakan citra Polri. Legitimasi dan kapabilitas Polri sebagai lembaga penegak hukum menjadi surut dan bobrok. Ujung-ujungnya, masyarakat tak lagi percaya dengan institusi Polri.
Maraknya pejabat Polri yang terlibat berbagai skandal korupsi dan makelar kasus, apakah berkenaan dengan masih rendahnya tingkat kesejahteraan (gaji) yang didapatkan setiap anggota Polri. Tampaknya itu bukan dipicu oleh sedikit atau banyaknya gaji yang didapatkan oleh setiap anggota. Namun lebih pada faktor keburukan mentalitas seseorang.
Berbincang masalah mentalitas, itu menyangkut berbagai persoalan. Pertama, relijiusitas, bagaimana seseorang memiliki komitmen rohaniah untuk meyakini bahwa Tuhan itu ada. Kedua dedikasi, bagaimana seseorang dengan sepenuh hati mengabdikan dirinya untuk hal-hal yang terbaik demi kesejahteraan bersama. Dan ketiga profesionalitas, bagaimana tanggung jawab intelektual yang mesti dilakukan oleh seseorang dalam mengemban tugas dan amanah yang dipikul setiap orang.
Momentum vital sekaliber peringatan Hari Bhayangkara ke-64 kali ini sangat rugi jika tidak digunakan untuk membenahi struktur dan kelegitimasian Polri sebagai pelayan masyarakat. Bangsa ini masih dililit dengan persoalan-persoalan kebangsaan yang cukup banyak.
Persoalan penegakan hukum, pemberantasan kemiskinan dan peningkatan kualitas kesehatan dan lainnya membutuhkan parstisipasi intensif dari berbagai kalangan termasuk Polri. Sejatinya rakyat merindukan hadirnya korps Polri yang bisa menjadi mitra ideal bagi masyarakat luas. (Penulis adalah Ketua Umum Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI) DIY).

 
Baca Komentar Beri Komentar
Kirimkan Artikel Cetak Artikel
 
 
Reformasi Polri Sebuah Keniscayaan
Dana Aspirasi dan Caleg Stress
Makna Israk-Mikraj
Bijaksana Mengisi Liburan Sekolah
Menyoal Pergerakan Perempuan