Halaman Muka | Kontak Kami | Tentang Kami | Iklan  | Arsip  Edisi Senin, 27 Februari 2017  
Politik dan Keamanan
Ekonomi dan Keuangan
Metropolitan
Opini
Agama dan Pendidikan
Nusantara
Olah Raga
Luar Negeri
Assalamu'alaikum
Derap TNI-POLRI
Hallo Bogor
 
   
 
Login
 
      
 
Password
 
 
 
   
Dunia Tasawuf
Forum Berbangsa dan Bernegara
Swadaya Mandiri
Forum Mahasiswa
Lingkaran Hidup
Pemahaman Keagamaan
Otonomi Daerah
Lemb Anak Indonesia
Parlementaria
Budaya
Kesehatan
Pariwisata
Hiburan
Pelita Hati
..
..
NILAI TUKAR RUPIAH
Source : www.klikbca.com
 JualBeli
USD 9200.00  9100.00  
SGD 6325.65  6236.65  
HKD 1187.90  1173.10  
CHF 7874.45  7769.45  
GBP 18868.05  18609.05  
AUD 8331.10  8203.10  
JPY 80.82  79.36  
SEK 1437.75  1407.65  
DKK 1776.20  1737.00  
CAD 9530.55  9376.55  
EUR 13145.74  12975.74  
SAR 2466.00  2426.00  
25-Okt-2007 / 15:41 WIB
 
 
 
Kian Melunturnya Nilai Toleransi
[Assalamu'alaikum]

Kian Melunturnya Nilai Toleransi

KEHIDUPAN sebagian besar masyarakat Indonesia semakin berubah. Jika perubahan itu menuju arah ke kebaikan, patutlah disyukuri. Tapi jika kehidupan itu menuju ke arah yang merugikan, sungguh sangat memprihatinkan.
Saat ini situasi dan kondisi yang memprihatinkan itulah yang terjadi di negara kita. Padahal dulu, bangsa Indonesia yang memang terdiri atas berbagai suku bangsa, bahasa, agama, budaya, dan adat istiadat; patutlah dibanggakan. Tapi kini, keberagaman itu menjadi sesuatu yang sewaktu-waktu bisa mencerai-beraikan persatuan dan kesatuan bangsa yang telah dibangun susah-payah oleh para pendahulu kita.
Bangsa Indonesia yang telah 65 tahun merdeka, kini seolah-olah kembali ke masa tanpa budaya. Siapa yang kuat, dialah yang menang. Padahal kita memiliki Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika yang seharusnya justru memperkuat perbedaan-perbedaan yang ada. Tapi, sifat dan rasa toleransi antarmasyarakat itu terasa semakin meluntur.
Lantaran persoalan sepele, masyarakat kita sekarang mudah sekali terlibat bentrok. Belum lagi soal dukung-mendukung pada pemilihan kepala daerah secara langsung. Bentrokan antarpendukung sangat mudah tersulut. Bahkan mereka melengkapi diri dengan senjata-senjata. Pertandingan sepakbola pun kerap berbuntut rusuh. Kerusuhan tak hanya terjadi di arena pertandingan, tapi bisa menjalar ke mana-mana, termasuk kereta api yang mengangkut suporter, tak luput dari lemparan batu.
Demikian pula halnya dengan sebagian dari mahasiswa kita. Juga, karena persoalan sepele, di antara mereka melakukan aksi saling serang. Yang lebih ironis lagi, kampus yang dibangun dengan biaya sangat besar, terkadang tidak luput dari pengrusakan atau pembakaran.
Menanggapi hal itu, seorang pejabat dari Kementerian Pendidikan Nasional mengatakan bahwa hanya di Indonesialah mahasiswa terlibat bentrokan fisik dan membakar kampusnya sendiri. Yang juga memprihatinkan, tontonan itu juga ditiru oleh sebagian pelajar kita, baik di tingkat SMA, SMP, bahkan SD.
Pejabat tersebut menyimpulkan bahwa semua itu membuktikan karakter, budi pekerti, akhlak mulia, dan nilai-nilai luhur sebagian bangsa Indonesia semakin terdegradasi. Padahal, Indonesia yang merupakan negara kepulauan yang membentang sangat luas ini memerlukan nilai-nilai toleransi, menerima perbedaan, baik suku, agama, ras, dan antargolongan.
Para mahasiswa yang merupakan calon-calon pemimpin bangsa seharusnya bisa menyelesaikan persoalan yang mereka hadapi dengan otak, bukan dengan otot. Apalagi yang mereka hadapi adalah sesama mahasiswa yang sebenarnya masih saudara.
Demikian pula halnya dengan sebagian wakil rakyat yang duduk di DPR RI maupun DPRD. Hanya karena perbedaan pendapat, baku-pukul di antara mereka terjadi. Peristiwa yang memalukan itu sempat ditayangkan oleh siaran-siaran televisi dan ditonton oleh masyarakat termasuk anak-anak.
Sampai kapankah suasana seperti itu terus terjadi di negeri kita ini? Wallahualam.

 
Baca Komentar Beri Komentar
Kirimkan Artikel Cetak Artikel
 
 
Mewaspadai Agenda Adu-Domba
Arah Perjalanan Bangsa
Haruskah Satpol PP Bersenjata Api?
Kapan Kegaduhan Segera Berakhir?
TNI Tetap Netral