Halaman Muka | Kontak Kami | Tentang Kami | Iklan  | Arsip  Edisi Sabtu, 21 Januari 2017  
Politik dan Keamanan
Ekonomi dan Keuangan
Metropolitan
Opini
Agama dan Pendidikan
Nusantara
Olah Raga
Luar Negeri
Assalamu'alaikum
Derap TNI-POLRI
Hallo Bogor
 
   
 
Login
 
      
 
Password
 
 
 
   
Dunia Tasawuf
Forum Berbangsa dan Bernegara
Swadaya Mandiri
Forum Mahasiswa
Lingkaran Hidup
Pemahaman Keagamaan
Otonomi Daerah
Lemb Anak Indonesia
Parlementaria
Budaya
Kesehatan
Pariwisata
Hiburan
Pelita Hati
..
..
NILAI TUKAR RUPIAH
Source : www.klikbca.com
 JualBeli
USD 9200.00  9100.00  
SGD 6325.65  6236.65  
HKD 1187.90  1173.10  
CHF 7874.45  7769.45  
GBP 18868.05  18609.05  
AUD 8331.10  8203.10  
JPY 80.82  79.36  
SEK 1437.75  1407.65  
DKK 1776.20  1737.00  
CAD 9530.55  9376.55  
EUR 13145.74  12975.74  
SAR 2466.00  2426.00  
25-Okt-2007 / 15:41 WIB
 
 
 
Mau Meniru Amerika Latin?
[Pelita Hati]

Mau Meniru Amerika Latin?

KEKERASAN terhadap aktifis antikorupsi dan pelemparan bom Molotov ke kantor sebuah majalah yang memberitakan rekening polisi pekan lalu menambah daftar kekerasan belakangan ini. Meskipun belum tentu dilakukan oleh polisi, tetapi karena secara kebetulan polisi sedang menjadi fokus dalam kasus rekening miliaran rupiah maka tidak heran apabila telunjuk langsung mengarah kepada polisi sebagai pelaku. Tinggallah polisi harus segera membuat pernyataan disertai bukti-bukti yang meyakinkan bahwa mereka tidak melakukan atau memang melakukan dua kasus tersebut. Pengakuan secara terus terang akan sangat membantu memulihkan citra polisi. Tapi, sekali lagi, polisi harus membeberkan bukti kuat agar kepercayaan publik terhadap polisi kembali lagi. Begitu pula, mengakui suatu kesalahan bukanlah aib, justru bisa mendatangkan simpati dan kepercayaan publik. Misalnya, andaikata benar beberapa Perwira yang telah disebut-sebut itu ternyata melakukan penyalahgunaan wewenang dan diakui secara jantan oleh polisi, polisi tidak perlu kuatir kehilangan nama baik; bahkan akan mendapat nama harum. Sebaliknya jika hanya sekedar menyanggah tanpa bukti, maka antipati terhadap polisi makin menjadi-jadi. Inilah saat paling tepat bagi polisi untuk memulai tradisi berterus-terang agar tidak terus-menerus diberi cap negatif oleh masyarakat.
Kekerasan terhadap masyarakat yang dikaitkan dengan polisi atau dengan kelompok kriminal tidak boleh dibiarkan merebak atau tidak ditangani secara serius. Sebab jika dibiarkan, maka jumlah kekerasan oleh mereka akan meningkat. Kasus-kasus perang antargeng, pembunuhan terhadap aparat pemerintah oleh geng yang bersangkutan seperti kerap terjadi di beberapa negara Amerika Latin, hendaknya dijadikan contoh agar tidak merajalela di negeri kita ini. Kita sudah sangat kenal dengan kisah para kriminal Mafioso di Italia yang saling membunuh satu dengan yang lain. Kita juga sering mendengar cerita mengenai geng kriminal Yakuza di Jepang atau Triad di Hongkong dan masih banyak lagi kelompok kriminal di beberapa kota besar dunia. Kita tidak ingin gerombolan gangster seperti itu muncul dan menjadi kuat di negeri kita. Untuk keperluan itu dibutuhkan adanya aparat kepolisian dan ketentaraan yang independen atau tidak punya kaitan dengan kelompok kriminal apapun yang dibekinginya. Polisi dan TNI tidak boleh membiarkan anggotanya menikmati setoran dari para gangster, sebab hal itu akan menumbuhkan rasa balas budi polisi yang ditampilkan dengan cara memberi perlindungan kepada para gangster tersebut. Sudah banyak beredar desas-desus adanya hubungan antara oknum polisi dan tentara dengan para gangster tertentu. Mudah-mudahan saja orang-orang yang melempar bom Molotov ke majalah dan mereka yang memukuli aktifis ICW itu bukan gangster suruhan polisi. Kita tidak tahu itu, tapi mudah-mudahan saja gangster itu segera ditangkap oleh polisi agar nama baik polisi bisa dipulihkan. (Amir Santoso, Gurubesar FISIP UI; Rektor Universitas Jayabaya, Jakarta)

 
Baca Komentar Beri Komentar
Kirimkan Artikel Cetak Artikel
 
 
Ibadah: Simbol dan Substansi
Percakapan dengan Sopir Taksi Singapura
Keadaan
Pintu 2: Tadzakkur
Elpiji dan Harga Sembako Meroket