Halaman Muka | Kontak Kami | Tentang Kami | Iklan  | Arsip  Edisi Sabtu, 25 Februari 2017  
Politik dan Keamanan
Ekonomi dan Keuangan
Metropolitan
Opini
Agama dan Pendidikan
Nusantara
Olah Raga
Luar Negeri
Assalamu'alaikum
Derap TNI-POLRI
Hallo Bogor
 
   
 
Login
 
      
 
Password
 
 
 
   
Dunia Tasawuf
Forum Berbangsa dan Bernegara
Swadaya Mandiri
Forum Mahasiswa
Lingkaran Hidup
Pemahaman Keagamaan
Otonomi Daerah
Lemb Anak Indonesia
Parlementaria
Budaya
Kesehatan
Pariwisata
Hiburan
Pelita Hati
..
..
NILAI TUKAR RUPIAH
Source : www.klikbca.com
 JualBeli
USD 9200.00  9100.00  
SGD 6325.65  6236.65  
HKD 1187.90  1173.10  
CHF 7874.45  7769.45  
GBP 18868.05  18609.05  
AUD 8331.10  8203.10  
JPY 80.82  79.36  
SEK 1437.75  1407.65  
DKK 1776.20  1737.00  
CAD 9530.55  9376.55  
EUR 13145.74  12975.74  
SAR 2466.00  2426.00  
25-Okt-2007 / 15:41 WIB
 
 
 
Percakapan dengan Sopir Taksi Singapura
[Pelita Hati]

Percakapan dengan Sopir Taksi Singapura

MENDARAT di Bandara Changi Singapura, terasa semuanya serba nyaman. Bandaranya sangat megah dan mewah, pelayanannya prima dan lancar. Sejak pemeriksaan paspor, sampai mengambil bagasi serta hendak naik taksi. Inilah yang membuat orang ingin kembali ke Singapura, serba terasa nyaman dan aman. Ngangeni kata orang Jawa.
Pertama kali ke Singapura? Tanya pengemudi taksi, yang kebetulan orang Melayu sambil memperhatikan alamat hotel kami. Pembicaraan menjadi sangat lancar. Sering, jawab kami, sambil memuji Singapura yang semuanya serba nyaman dan tertib. Itu berkat Datuk Lee Kuan Yew, yang digambarkannya sebagai pemimpin yang sangat berpandangan jauh kedepan. Singapura adalah negara kecil. Untuk bisa hidup, Singapura harus pandai. Ditengah perjalanan, ia mengatakan, bahwa jalan yang kami lalui ini dulu adalah rawa-rawa. Menjadi daratan yang nyaman berkat tanah dari Indonesia. Demikian juga pepohonan yang menghiasi kanan-kiri jalan yang sangat rindang dan tertata rapi itu. Semuanya dari Indonesia, katanya membanggakan.
Mengenai tertib dan bersihnya Singapura, ia menceritakan, bagaimana disiplin ditegakkan. Meludah di jalanan saja, bisa dihukum 200 dolar Singapura, apalagi membuang sampah. Dulu, orang India suka meludah, sekarang sudah tidak ada orang India yang meludah di jalanan. Semuanya dimonitor melalui CCTV yang dipasang di mana-mana. Kebiasaan buruk, ternyata bisa diubah dengan penegakan disiplin. Bandingkan dengan ucapan seorang teman yang bekerja di Wisma Kosgoro Jalan MH Thamrin, Jakarta yang mengeluh ada orang kencing di pagar wisma itu, meskipun di tepi Jalan Thamrin yang ramai, di sore hari, setelah memarkir sepeda motornya.
Singapura, pasti bisa membuat iri setiap orang Indonesia. Sopir taksi itu bercerita lebih jauh, Indonesia adalah negara yang kaya. Mengapa belum bisa makmur? Sementara Singapura, sebenarnya tidak punya apa-apa. Air saja kami ambil dari Malaysia. Sekarang, Singapura sedang berupaya mengubah air laut menjadi air minum. Meniru Saudi Arabia, kata sopir taksi itu. Meskipun tarif air minum dinaikkan, kami tidak protes, kata sopir taksi itu sambil mengatakan pasti akan diprotes kalau hal itu terjadi di Indonesia. Sebab, dengan bekerja keras, kami bisa hidup di Singapura, sehingga tidak perlu demo. Iapun mengetahui, bahwa di Indonesia sulit mencari pekerjaan. Kalau di Indonesia, katanya lagi, kami tidak bisa hidup. Orang Indonesia itu hebat, bisa hidup dalam keadaan seperti itu, serba terbatas, katanya memuji orang Indonesia.
Kami merenung. Begitulah perbedaan (kesenjangan?) antara Singapura dan Indonesia. Berkat teknologi informasi, semuanya serba terbuka. Orang Singapura bisa mengetahui apa yang terjadi di Indonesia. Sebab, TV Indonesia bisa dinikmati di sana. Betapa ributnya Indonesia, semua orang tahu. Demikian juga kondisi perekonomian, kondisi sosial/budaya kita sekarang. Kita tidak bisa lagi menutup-nutupi apa yang terjadi di Indonesia, termasuk baik/buruknya kondisi Indonesia. Mendarat kembali di Bandara Soekarno-Hatta, terasa semakin sedih. Meskipun hanya dibedakan sekitar satu jam terbang, kondisi Changi dan Cengkareng sangat berbeda. Mendekati ibarat bumi dan langit. Inilah tantangan yang harus kita jawab bersama.(Sulastomo)

 
Baca Komentar Beri Komentar
Kirimkan Artikel Cetak Artikel
 
 
Keadaan
Pintu 2: Tadzakkur
Elpiji dan Harga Sembako Meroket
Agama Terbaik
Muhammadiyah Satu Abad