Halaman Muka | Kontak Kami | Tentang Kami | Iklan  | Arsip  Edisi Kamis, 23 Maret 2017  
Politik dan Keamanan
Ekonomi dan Keuangan
Metropolitan
Opini
Agama dan Pendidikan
Nusantara
Olah Raga
Luar Negeri
Assalamu'alaikum
Derap TNI-POLRI
Hallo Bogor
 
   
 
Login
 
      
 
Password
 
 
 
   
Dunia Tasawuf
Forum Berbangsa dan Bernegara
Swadaya Mandiri
Forum Mahasiswa
Lingkaran Hidup
Pemahaman Keagamaan
Otonomi Daerah
Lemb Anak Indonesia
Parlementaria
Budaya
Kesehatan
Pariwisata
Hiburan
Pelita Hati
..
..
NILAI TUKAR RUPIAH
Source : www.klikbca.com
 JualBeli
USD 9200.00  9100.00  
SGD 6325.65  6236.65  
HKD 1187.90  1173.10  
CHF 7874.45  7769.45  
GBP 18868.05  18609.05  
AUD 8331.10  8203.10  
JPY 80.82  79.36  
SEK 1437.75  1407.65  
DKK 1776.20  1737.00  
CAD 9530.55  9376.55  
EUR 13145.74  12975.74  
SAR 2466.00  2426.00  
25-Okt-2007 / 15:41 WIB
 
 
 
Arah Perjalanan Bangsa
[Assalamu'alaikum]

Arah Perjalanan Bangsa

PEKAN yang lalu, ada berita yang mengkhawatirkan arah perjalanan bangsa. Berita itu datang dari para senior, yang dahulu pernah berperan di era orde baru. Tentu, mereka memiliki alasan sendiri. Sebagai warga senior, prihatin terhadap masa depan bangsa adalah wajar. Kesan seperti itu, sesungguhnya juga datang dari banyak kalangan, khususnya didalam kebijakan ekonomi dan kesejahteraan. Apakah kebijakan perekonomian kita sudah mengacu ke pasal 33 UUD 1945. Apakah kebijakan di sektor kesejahteraan sudah mengacu ke pasal 34 UUD 1945. Dan apakah wujud keadilan sosial bagi seluruh rakyat semakin didekati atau bahkan semakin jauh?
Kekhawatiran seperti itu, terkadang terbuai dengan publikasi keberhasilan kita. Meskipun disaat krisis, kita masih bisa tumbuh relatif tinggi, meskipun masih lebih rendah dibanding India dan China. Demokrasi kita banyak dipuji, meskipun setiap pilkada terjadi kekisruhan. Apa dampaknya bagi cita-cita mewujudkan kesejahteraan rakyat? Orang luar, memang tidak tahu apa yang ada di dalam negeri. Bagaimana orang sakit tidak tertolong, meskipun ada Jamkesmas. Bagaimana ada kekurangan gizi meskipun ada raskin dan Bantuan Tunai Langsung (BLT). Dan bagaimana orang sulit mencari pekerjaan. Pertanyaan yang timbul adalah, sejak kapan kita salah arah?
Ada kesan, salah arah itu terutama terjadi justru setelah reformasi. Sudah tentu, ada yang menolak anggapan seperti itu. Sebab, apa yang terjadi di era reformasi, khususnya dalam kebijakan perekonomian, sebenarnya tidak jauh berbeda dengan di era orde baru. Bahkan ada yang berpendapat, kebijakan perekonomian di era reformasi hanya kelanjutan dari kebijakan di era orde baru. Kalau ada perbedaan, justru dari aspek non- ekonomi, misalnya dari aspek kepemimpinan, sistem politik, dan demokrasi. Salah arah itu semakin tampak, ketika aspek kepemimpinan, sistem politik dan demokrasi tidak menunjang, sehingga salah arah itu semakin gamblang.
Kini, kita memang merasakan, betapa besar peran modal asing. Betapa besar peran asing didalam pengelolaan sumber daya alam, sehingga kita kurang bisa memanfaatkan sumber daya alam kita dan penduduk yang besar sebagai potensi pasar produk dalam negeri sendiri. Kita seolah-olah tidak berdaya untuk mengubah semua itu, disebabkan keterikatan kita pada dalil-dalil globalisasi, yang kita percayai sebagai benar tanpa menyadari, bahwa ada hal-hal yang sebenarnya masih bisa kita lakukan untuk bersikap mandiri. Masihkah kita membiarkan semua itu terjadi sebagaimana apa adanya? Hanyut di era globalisasi dan kemudian menabrak tembok, ketika salah arah itu membawa kita semua keterpurukan yang dalam?
Kini, yang diperlukan sesungguhnya adalah kejujuran kita sendiri. Dapatkah kita mengakui kritik para senior itu yang menilai kita telah salah arah? Mungkin hanya hati nurani kita masing-masing yang bisa mengatakan. Modalnya, bagaimana kita melihat semua itu dari pelaksanaan cita-cita Kemerdekaan, sebagaimana dirumuskan dalam Pembukaan UUD 1945, pasal 33 dan 34 UUD 1945. Kalau kita bisa bersikap jujur, niscaya memang ada salah arah itu. Dan hal itu tidak perlu dipersoalkan sejak kapan dan oleh siapa. Marilah kita mulai dari titik nol kembali, untuk melihat perjalanan bangsa ini. Titik nol itu adalah Pancasila/UUD 1945.

 
Baca Komentar Beri Komentar
Kirimkan Artikel Cetak Artikel
 
 
Haruskah Satpol PP Bersenjata Api?
Kapan Kegaduhan Segera Berakhir?
TNI Tetap Netral
Diperlukan Kode Etik Antarlembaga Negara?
Reformasi Partai Politik Kita