Halaman Muka | Kontak Kami | Tentang Kami | Iklan  | Arsip  Edisi Senin, 23 Januari 2017  
Politik dan Keamanan
Ekonomi dan Keuangan
Metropolitan
Opini
Agama dan Pendidikan
Nusantara
Olah Raga
Luar Negeri
Assalamu'alaikum
Derap TNI-POLRI
Hallo Bogor
 
   
 
Login
 
      
 
Password
 
 
 
   
Dunia Tasawuf
Forum Berbangsa dan Bernegara
Swadaya Mandiri
Forum Mahasiswa
Lingkaran Hidup
Pemahaman Keagamaan
Otonomi Daerah
Lemb Anak Indonesia
Parlementaria
Budaya
Kesehatan
Pariwisata
Hiburan
Pelita Hati
..
..
NILAI TUKAR RUPIAH
Source : www.klikbca.com
 JualBeli
USD 9200.00  9100.00  
SGD 6325.65  6236.65  
HKD 1187.90  1173.10  
CHF 7874.45  7769.45  
GBP 18868.05  18609.05  
AUD 8331.10  8203.10  
JPY 80.82  79.36  
SEK 1437.75  1407.65  
DKK 1776.20  1737.00  
CAD 9530.55  9376.55  
EUR 13145.74  12975.74  
SAR 2466.00  2426.00  
25-Okt-2007 / 15:41 WIB
 
 
 
Keadaan
[Pelita Hati]

Keadaan

DALAM perjalanan naik bis umum jurusan Yogya-Solo, seusai mengunjungi Muktamar Satu Abad Muhammadiyah; saya merasakan betapa romantisnya menjadi rakyat itu. Bayangkan, kalau saya pejabat teras pemerintahan atau pemimpin tertinggi partai politik, pasti tidak akan bisa menikmati menjadi rakyat, dan mungkin saja sudah lupa dengan bau rakyat. Untungnya saya naik dari terminal, sehingga masih dapat tempat duduk. Kalau saya naik dengan menyetop di jalan, dipastikan bisnya sudah penuh sesak, dengan aneka rupa penumpang. Ini bukan bis yang ber-AC, dengan jendela-jendela kaca yang terbuka. Jadi kalau hujan mengguyur, airnya bisa masuk.
Duduk di sebelah saya ibu-ibu yang sudah tua dengan bungkusannya. Di sebelahnya lagi, seorang ibu muda dengan anak balitanya. Yang berdiri ada beberapa anak dengan seragam SMA, dan seperti yang sudah-sudah para pengamen datang pergi silih berganti. Pengamennya cukup variatif: seorang ibu-ibu separo baya dengan kebaya dan kacamata tebal, diikuti anaknya yang masih belasan tahun menembang Lagu Anoman Obong hanya dengan alat musik kecrek yang sederhana. Diikuti kemudian dua anak muda yang tampak seperti baru datang dari planet lain: tubuhnya bertato, rambutnya dibikin jabrik dan disemir coklat. Lagunya pop masa kini, walaupun hanya diiringi gitar kecil alias kencrung. Jumlah pengamen tampaknya cukup banyak di perempatan-perempatan jalan atau di pemberhentian sementara, termasuk para lelaki yang berdandan perempuan yang penampilannya digenit-genitkan. Dan, o, betapa susah mencari uang di tengah panas terik begini, orang berlomba-lomba ngamen.
Duduk di belakang saya, seorang bapak-bapak (sebut saja Pak Suto) yang dari percakapan spontan dengan bapak-bapak di sebelahnya (sebut saja Pak Noyo). Dari pembicaraan yang dilakukan dengan bahasa Jawa yang sungguh asyik itu (hmmm, rasanya seperti menyimak percakapan tokoh-tokoh ketoprak, tapi alamiah); terbetik kesimpulan bahwa mereka adalah petani. Pak Suto berkeluh kesah tentang gagal panen di daerahnya. Enam kali rit, panenan gagal semua. Para petani frustrasi dan membiarkan sawahnya ditumbuhi ilalang. Pak Noyo mengomentari, di tempatnya juga begitu, hama wereng membuat tanaman padi hancur. Penduduk yang bertani sedang menderita karena kahanan, keadaan. Pak Suto setuju dengan kesimpulan itu, bahwa semua ini karena kahanan . Jadi, tidak ada yang salah, wong semua itu karena keadaan.
Kemudian Pak Suto menambahkan keheranannya, dan ini juga otokritik buat dirinya: bahwa para petani susah untuk mengalihkan ke tanaman lain selain padi. Pemerintah sudah menyediakan bibit jagung dan kedelai gratis, tapi eh, malah ditolak. Menurut Pak Suto, sebagian besar petani memilih pasrah, menunggu sawahnya bisa ditanami padi lagi. Kalau ditanami yang lain tidak cucuk, alias tenaga yang dikeluarkan tidak sebanding dengan hasilnya. Pak Suto sendiri berujar, petani kita kadang-kadang juga aneh. Milih pasrah menunggu, ketimbang menanami yang lain. Ketika melihat iklan pendaftaran mahasiswa baru, Pak Suto berkomentar bahwa para mahasiswa juga tidak bisa menyelesaikan persoalan. Para sarjana pertanian, katanya, tidak ada yang serius untuk benar-benar mencari jalan keluar atas permasalahan pertanian kita. Padahal, mereka seharusnya adalah para pengubah keadaan. Bahwa seolah-olah belum ada inovasi yang tepat, maka versi cerita Pak Suto menggambarkan posisi serba-dilematis yang dihadapi oleh para petani. Lebih dari itu, mereka, siap-siap harus hidup lebih prihatin lagi.(M Alfan Alfian, Dosen FISIP Universitas Nasional, Jakarta)

 
Baca Komentar Beri Komentar
Kirimkan Artikel Cetak Artikel
 
 
Pintu 2: Tadzakkur
Elpiji dan Harga Sembako Meroket
Agama Terbaik
Muhammadiyah Satu Abad
Kompor Mleduk