Halaman Muka | Kontak Kami | Tentang Kami | Iklan  | Arsip  Edisi Kamis, 30 Maret 2017  
Politik dan Keamanan
Ekonomi dan Keuangan
Metropolitan
Opini
Agama dan Pendidikan
Nusantara
Olah Raga
Luar Negeri
Assalamu'alaikum
Derap TNI-POLRI
Hallo Bogor
 
   
 
Login
 
      
 
Password
 
 
 
   
Dunia Tasawuf
Forum Berbangsa dan Bernegara
Swadaya Mandiri
Forum Mahasiswa
Lingkaran Hidup
Pemahaman Keagamaan
Otonomi Daerah
Lemb Anak Indonesia
Parlementaria
Budaya
Kesehatan
Pariwisata
Hiburan
Pelita Hati
..
..
NILAI TUKAR RUPIAH
Source : www.klikbca.com
 JualBeli
USD 9200.00  9100.00  
SGD 6325.65  6236.65  
HKD 1187.90  1173.10  
CHF 7874.45  7769.45  
GBP 18868.05  18609.05  
AUD 8331.10  8203.10  
JPY 80.82  79.36  
SEK 1437.75  1407.65  
DKK 1776.20  1737.00  
CAD 9530.55  9376.55  
EUR 13145.74  12975.74  
SAR 2466.00  2426.00  
25-Okt-2007 / 15:41 WIB
 
 
 
Makna Israk-Mikraj
[Opini]

Makna Israk-Mikraj

Oleh Dr Mahmudi Asyari
Pada tanggal 27 Rajab 1431 H (10 Juli 2010) besok umat Islam akan disegarkan (refresh) ingatan mereka terkait peristiwa yang dialami oleh Rasulullah pada sekitar satu setengah abad yang lalu menurut hitungan kalender Hijriyah. Peristiwa itu tidak lain adalah peristiwa Israk (perjalanan beliau pada malam hari ke Masjid al-Aqsha) dan Mikraj (naiknya beliau sidrah al-muntaha dari Masjdi al-Aqsha).
Berkaitan dengan masalah itu memang masih ada perdebatan di kalangan umat Islam berkaitan bagaimana peristiwa itu berlangsung di samping juga ada semacam gugatan dari sekelompok umat Islam agar peristiwa tersebut tidak diperingati, karena masuk ranah bid`ah. Perdebatan mengenai kedua aspek itu memang sulit atau malah tidak akan pernah berakhir meskipun sebenarnya harus dicermati bahwa kedua masalah itu bukain domain utama yang harus diperdebatkan, karena hanya membuang energi saja. Jauh lebih penting dari dua hal itu, termasuk bagi mereka yang mengatakan bidah dan tidak mau mengadakan peringatan adalah bagaimana mengimplementasikan ajaran yang ada di balik peristiwa tersebut.
Oleh sebab itu, peristiwa Israk-Mikraj tidak bisa dimaknai selain sebagai sebuah proses peningkatan setiap diri seorang muslim dalam rangka mencapai ridha Allah. Maka dari itu, Israk-Mikraj (terutama kata Mikraj yang berarti naik) harus dimaknai sebagai sebuah simbol bagi umat Islam bahwa setiap individu dari mereka harus mendatangi Allah dalam rangka mencapai derajat yang tinggi.
Dan, untuk mencapai derajat itu ditetapkan syariat salat yang salah fungsinya jika pelakunya semata demi ridha Allah akan menjadi manusia yang terhindarkan dari perbuatan keji dan mungkar. Itulah sebabnya, menurut saya, ketika seorang sufi merasa haus akan Allah ia melakukan segala upaya termasuk salat tentunya dalam rangka berada sedekat mungkin dengan Allah. Maka, lahirlah kemudian terori ittihad yang tidak bisa dimaknai sebagai perasaan dekat kepada-Nya melalui mujahadah berkelanjutan. Teori hulul pun demikian meskipun dalam perspektif berbeda, yaitu Allah menyatu atau datang kepada hamba-Nya yang tidak bisa dimaknai lain selain sebagai sebuah efek dari upaya mencapai ridha Allah.
Kedua hal itu, memang hanya dikenal di kalangan sufi yang senantiasa haus untuk dekat kepada-Nya. Bagi golongan yang menentang dan mengatakan kedua ajaran itu sesat (bid`ah) sekaligus mengada-ada laksanakanlah salat secara sungguh tanpa menghiraukan ajaran tasawuf manakala salat sudah dianggap pamungkas. Dan, itu memang tidak salah, karena dalam sebuah hadis disebutkan salat adalah tiang agama sekaligus pembeba bagi seorang muslim dari lainnya.
Terlepas dari masalah itu, yang jelas baik bagi kalangan sufi maupun lainnya, upaya mendekatkan diri suatu keniscayaan, karena Allah telah menegaskan bahwa Ia akan datang lebih dekat kepada hamba-Nya dari upaya seorang hamba untuk mendekati-Nya. Artinya, upaya mendekatkan diri tidak hanya hak eksklusif sufi, tapi bagi semua muslim. Hanya, bagi sufi ada pernak-pernik lebih sementara bagi yang menentangnya menganggap salat dan syariat lainnya yang dianggap jelas dianggap satu-satunya sarana untuk berada sedekat mungkin kepada-Nya.
Berkaitan salat, Nabi mengajarkan agar musalli tidak sekedar melaksanakan melain harus memaknai. Untuk bagaimana memaknai salat tersebut ajaran ihsan harus dirujuk agar diperoleh gambaran yang benar. Beliau terkait ihsan menegaskan agar setiap muslim ketika beribadah hendaklah seakan-akan melihat Allah dan harus meyakini bahwa Allah pasti melihat segala ibadah hamba-Nya. Hanya dengan sikap itu, ibadah terutama salat akan mempunyai nilai tidak hanya dalam konteks vertikal, tapi juga horizontal.
Nilai kepada Allah sudah pasti akan menimbulkan rasa ketertundukan kepada-Nya selaku Sang Pencipta. Dan, berkaitan dengan masalah itu sudah menjadi keyakinan setiap muslim. Namun, berkaitan dengan nilai horizontal masih banyak yang tidak tidak terlalu terkait dengan salat. Oleh karena adanya pemahaman banyak dijumpai orang-orang yang ketika beribadah terlihat sangat khusyu dan bahkan menangis. Akan tetapi, ketika ibadah vertikal itu berlalu, berlalu pulalah kebaikan mereka di mana hal itu semestinya pancaran dari bentuk khusyu itu. Itu, terjadi lantaran keyakinan beribadahnya tidak berhasil menjadi jembatan kesalehan sosial yang semestinya hal itu inheren dengan kesalehan vertikal tersebut.
Oleh sebab itu, gerakan salat haruslah tidak dimaknai semata-mata aturan formal yang diajarkan Nabi sesuai dengan sabda beliau, Laksanakanlah salat sebagaimana kalian melihatku melaksanakannya, melainkan sebuah simbol yang meniscayakan agar seorang muslim tidak hanya menyibukkan diri beribadah kepada Allah.
Takbiratul ihram misalnya memang mengandung makna ketertundukan mutlak kepada Allah, karena pada saat seorang yang melaksanakan salat memutus diri dari sekelilingnya. Namun, sikap memutus diri itu tidaklah lama, karena harus berakhir dengan salam yang ditandai dengan memalingkan muka ke kanan dan kiri sebagai pertanda bahwa ia kembali ke dalam kehidupan semula.
Gerakan memalingkan muka ke kanan dan kiri disertai dengan ucapan salam mengandung arti bahwa kebaikan-kebaikan ibadah harus disebarkan kepada orang di sekelilingnya. Dengan kata lain, seorang yang salat perbuatannya harus menentramkan (salam berarti damai) orang-orang sekelilingnya.
Oleh sebab itu, tidaklah benar jika kesalehan dianggap semata-mata hanya untuk Allah. Sebaliknya kesalehan kepada Allah itu harus menjadi motivasi untuk menebar kebaikan kepada sesama manusia. Dan, jika ibadah bisa dimaknai seperti itu, tidak akan ada atau paling tidak berkuranglah orang-orang yang akan melakukan perbuatan zhalim (tiran) kepada sesama manusia termasuk mengambil melakukan korupsi.
Semoga dalam memperingati Israk Mikraj makna itu yang dituju agar keberagamaan dan kesalehan setiap muslim semakin meningkat intensitasnya dan semakin bermakna bagi masyarakat sekitarnya di mana pada akhirnya akan membuahkan kedekatan kepada Sang Khalik. Dan, untuk mendekat kepada-Nya bukan hanya ibadah mahdah penentunya, karena ibadah lain yang bernuansa sosial juga ikut menentukan. Jika, ibadah jenis terakhir tidak ikut menentukan, pastilah Allah tidak menekankan dalam sebuah ayat yang menekankan agar setiap hamba mempunyai perbuatan yang layak dicatat di sisi-Nya.

 
Baca Komentar Beri Komentar
Kirimkan Artikel Cetak Artikel
 
 
Bijaksana Mengisi Liburan Sekolah
Menyoal Pergerakan Perempuan
Dicari Guru Penulis
Belajar dari Pedagang Angkringan
Perempuan Jakarta Mandiri dan Tertekan