Halaman Muka | Kontak Kami | Tentang Kami | Iklan  | Arsip  Edisi Kamis, 30 Maret 2017  
Politik dan Keamanan
Ekonomi dan Keuangan
Metropolitan
Opini
Agama dan Pendidikan
Nusantara
Olah Raga
Luar Negeri
Assalamu'alaikum
Derap TNI-POLRI
Hallo Bogor
 
   
 
Login
 
      
 
Password
 
 
 
   
Dunia Tasawuf
Forum Berbangsa dan Bernegara
Swadaya Mandiri
Forum Mahasiswa
Lingkaran Hidup
Pemahaman Keagamaan
Otonomi Daerah
Lemb Anak Indonesia
Parlementaria
Budaya
Kesehatan
Pariwisata
Hiburan
Pelita Hati
..
..
NILAI TUKAR RUPIAH
Source : www.klikbca.com
 JualBeli
USD 9200.00  9100.00  
SGD 6325.65  6236.65  
HKD 1187.90  1173.10  
CHF 7874.45  7769.45  
GBP 18868.05  18609.05  
AUD 8331.10  8203.10  
JPY 80.82  79.36  
SEK 1437.75  1407.65  
DKK 1776.20  1737.00  
CAD 9530.55  9376.55  
EUR 13145.74  12975.74  
SAR 2466.00  2426.00  
25-Okt-2007 / 15:41 WIB
 
 
 
Bijaksana Mengisi Liburan Sekolah
[Opini]

Bijaksana Mengisi Liburan Sekolah

Oleh Agus Wibowo

MUSIM liburan tahun ajaran 2009/2010 telah tiba. Saat seperti inilah yang paling ditunggu-tunggu para siswa. Pasalnya, setelah sekian lama berkutat dengan pelajaran sekolah, anak-anak merindukan waktu bebas untuk berkumpul bersama keluarga, bergembira ria dengan teman dan sebagainya.
Secara psikologis, liburan merupakan kebutuhan yang sangat urgen bagi para siswa, dan manusia pada umumnya. Banyak penelitian para ahli yang membuktikan manfaat liburan, baik bagi kesehatan, maupun keuntungan-keuntungan lainnya. Seperti yang dilakukan Linda Hoopes dan John Lounsbury (1990). Mereka sampai pada kesimpulan bahwa kepuasan, gairah dan motivasi hidup akan meningkat setelah liburan.
Sepanjang hidup manusia, idealnya membutuhkan minimal 7 tahun untuk beristirahat atau liburan. Sisanya, 25 tahun untuk tidur, 8 tahun untuk menyelesaikan pendidikan formal, 5 tahun untuk menjalin komunikasi dengan sesama, 4 tahun untuk makan, dan 3 tahun untuk melakukan perencanaan semua aktivitas tersebut. Tanpa liburan, tulis Andrew Ho (2007), manusia akan merasakan kejenuhan dan kepenatan, yang berimbas pada rendahnya kinerja.
Bagi para siswa, liburan merupakan sarana menghilangkan suasana yang penat, dan tidak menyenangkan dalam belajar. Pasalnya, siswa yang belajar dalam kondisi yang tidak menyenangkan, akan kesulitan mencerna pelajaran. Hal ini karena dalam memori otaknya sudah ada blocking emosi.
Perasaan kesal, marah, sebal, sedih, itu semua sudah memblokir efektivitas kerja otak dan menghambat motivasi. Ujung-ujungnya, prestasi anak akan menurun, atau mungkin anak menjadi bosan untuk belajar. Pendek kata, kegiatan liburan yang ditata dengan matang dan mengindahkan aspek edukatif, akan berkorelasi positif bagi tumbuh-kembang dan prestasi belajar yang dicapai siswa
Peran Orangtua
Kegiatan liburan justru bisa tidak efektif atau malah menjadi bumerang, tanpa perencanaan yang matang antara orantua dan siswa. Misalnya, anak justru memanfaatkan liburan dengan membuat kelompok atau pelatihan-pelatihan gengster semacam geng motor atau geng nero.
Selain itu, anak juga bisa terjerumus pada liburan yang berbahaya seperti kecanduan mengakses internet. Fenomena ini dialami oleh anak-anak Tiongkok. Di sana telah terjadi perubahan besar dalam pola liburan anak-anak, dimana mereka lebih memilih tinggal di rumah menjelajahi dunia maya atau main game, ketimbang pergi ke luar kota.
Seperti di Tiongkok misalnya, anak-anak di sana cenderung mengisi waktu liburnya dengan menjelajah internet, ketimbang ke luar kota. Bahkan, dilaporkan, pemerintah setempat risau dan berusaha mencari cara agar anak-anak sekolah tidak kecanduan internet.
Dalam sebuah polling yang diikuti 103 sampel anak-anak berumur 4 hingga 14 tahun ini, terungkap bahwa hanya 4 persen dari mereka yang memilih aktivitas di luar rumah dan 9 persen yang ingin ikut serta dalam kemah pendidikan musim panas. Ada sekitar 20 juta pengguna internet di Tiongkok adalah mereka yang berumur di bawah 18 tahun dan 13 persen di antaranya tergolong pecandu internet.
Memang, di satu sisi, internet bermanfaat mengenalkan anak pada teknologi informasi yang serba global. Tetapi di sisi lain, internet justru menjadi virus berbahaya yang menyerang tata-etika dan moral anak.
Hal ini lantaran anak bisa mengakses apa saja, termasuk situs-situs, blog, web, atau portal yang berisi tayangan pornografi dan sebagainya. Di situlah pentingnya peran orangtua meluangkan waktu, untuk mengawasi dan mengecek apa yang dilakukan anak saat mengakses (surfing) internet.
Akan lebih baik jika orangtua menemani, dan turut bermain bersama anak, misalnya chating bersama sembari menjelaskan manfaat dan kerugian menggunakan internet
Liburan mendidik
Sudah saatnya para orang tua menjadi manager sekaligus perancang handal bagi liburan anak. Artinya, orangtua harus bijaksana dalam me-manajemen liburan anak.
Mulai dari merencanakan, mengorganisir, merancang, dan mengawasi kegiatan liburan anak. Demi efektifitas, orangtua harus memilih liburan yang tidak menggunakan banyak uang atau bepergian dengan menggunakan pesawat.
Selain itu, diusahakan mencari tempat yang dekat dan sebisa mungkin mengenalkan anak-anak pada lingkungan yang berbeda dengan kesehariannya. Tujuannya sederhana, agar menimbulkan kesan dan nuansa unik bagi anak.
Jika mengharuskan liburan wisata keluar kota, orangtua perlu turut hadir atau paling tidak tahu ke mana mereka akan pergi dan bersama siapa. Kalau perlu tidak mengizinkan mereka pergi tanpa wali.
Liburan yang baik, tulis Seto Mulyadi (2008), harus menyenangkan, menggembirakan dan mengesankan, namun tetap mengandung unsur edukasi dan membina kreativitas anak. Bagi anak-anak yang tidak mempunyai biaya untuk liburan keluar kota atau tempat lain, dapat memanfaatkan pekerjaan rumah sebagai liburan alternatif.
Misalnya, dengan merapikan buku-buku di rak, merapikan pakaian di dalam lemari, menata dan merapikan kamar tidur atau memilah-milah pakaian yang tak terpakai untuk memberikannya kepada komunitas anak jalanan. Lebih menyenangkan, jika hal ini dilakukan bersama teman yang lain.
Untuk anak-anak dengan ekonomi mampu, bisa saja memilih liburan di luar kota. Syaratnya, harus tetap mengandung unsur edukasi. Misalkan dengan mencatat atau menggambarkan pengalaman mereka melalui catatan kecil atau membuat puisi tentang alam untuk mendiskripsikan pengalaman mereka. Catatan ini bukan untuk dihafalkan, tapi untuk melatih kreativitas anak.
Pada akhirnya, orangtua harus bisa merubah stigma negatif kegiatan liburan. Pasalnya, selama ini kegiatan liburan sering identik dengan hura-hura atau menghambur-hamburkan finansial, tanpa memberi kontrinbusi nilai edukatif dan rekreatif bagi anak. Begitu liburan usai, banyak kasus anak yang bolos sekolah lantaran capek mengikuti kegiatan liburan yang tidak ditata dengan bijaksana dan matang.
Idealnya, begitu liburan usai, anak memiliki motivasi yang tinggi dan semangat menggebu untuk masuk sekolah kembali. Hal ini timbul lantaran perbendaharaan pengetahuan yang semakin banyak, dan menghabiskan liburan dengan kegiatan positif, edukatif sekaligus rekreatif. Semoga.(Penulis adalah peneliti pada FKPP Pasca Sarjana Universitas Negeri Yogyakarta).

 
Baca Komentar Beri Komentar
Kirimkan Artikel Cetak Artikel
 
 
Menyoal Pergerakan Perempuan
Dicari Guru Penulis
Belajar dari Pedagang Angkringan
Perempuan Jakarta Mandiri dan Tertekan
Safari Gempita Mutiara Bangsa di Gorontalo