Halaman Muka | Kontak Kami | Tentang Kami | Iklan  | Arsip  Edisi Senin, 27 Februari 2017  
Politik dan Keamanan
Ekonomi dan Keuangan
Metropolitan
Opini
Agama dan Pendidikan
Nusantara
Olah Raga
Luar Negeri
Assalamu'alaikum
Derap TNI-POLRI
Hallo Bogor
 
   
 
Login
 
      
 
Password
 
 
 
   
Dunia Tasawuf
Forum Berbangsa dan Bernegara
Swadaya Mandiri
Forum Mahasiswa
Lingkaran Hidup
Pemahaman Keagamaan
Otonomi Daerah
Lemb Anak Indonesia
Parlementaria
Budaya
Kesehatan
Pariwisata
Hiburan
Pelita Hati
..
..
NILAI TUKAR RUPIAH
Source : www.klikbca.com
 JualBeli
USD 9200.00  9100.00  
SGD 6325.65  6236.65  
HKD 1187.90  1173.10  
CHF 7874.45  7769.45  
GBP 18868.05  18609.05  
AUD 8331.10  8203.10  
JPY 80.82  79.36  
SEK 1437.75  1407.65  
DKK 1776.20  1737.00  
CAD 9530.55  9376.55  
EUR 13145.74  12975.74  
SAR 2466.00  2426.00  
25-Okt-2007 / 15:41 WIB
 
 
 
Menyoal Pergerakan Perempuan
[Opini]

Menyoal Pergerakan Perempuan

Oleh M Khotib At-Tamamy

SEJAK masa pemerintahan masa lalu sebenarnya sudah mulai tumbuh organisasi massa (ORMAS) terutama bidang pemberdayaan perempuan. Dalam catatan sejarah, pemerintahan masa lalu telah menempatkan kaum perempuan sebagai partner yang manis bagi pembangunan politik gender. Pada waktu itu menggunakan pendekatan Women In Development (WID). Realisasinya adalah terbentuknya Dharma Wanita dan PKK serta program Keluarga Berencana (KB).
Jumlah organisasi perempuan yang tercatat dalam Kongres Wanita Indonesi (KOWANI) sebanyak 76 organisasi dan yang tergabung dibawah naungan Badan Musyawarah Organisasi Islam Wanita Indonesia (BMOIWI) tercatat 34 organisasi.
Ada ciri khas yang membedakan ormas perempuan Islam dengan organisasi-organisasi perempuan pada umumnya. Yakni terletak pada upaya dan kerja dalam melapangkan dialog yang intensif antara prinsip-prinsip keadilan dan kesetaraan pada pada tataran normatif ajaran agama dengan realitas kehidupan sehari-hari. Terutama menyangkut perlakuan diskriminatif terhadap perempuan. Karena itu ormas-ormas perempuan Islam lebih banyak menekuni program-program yang menggugah kesadaran masyarakat akan adanya perilaku diskriminatif terhadap perempuan, baik ruang domestik maupun ruang publik yang seringkali disahkan dengan argumen-argumen teologis. Dari dialog inilah kemudian muncul kesadaran bersama antara ormas-ormas perempuan islam tersebut untuk bergerak bersama melawan diskriminasi.
Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah adalah dua Ormas Islam terbesar di Indonesia. Ormas ini juga memiliki organisasi yang bergerak dalam pemberdayaan perempuan. Dikalangan NU sendiri ada yang disebut Muslimat, Fatayat dan IPPNU, semuanya bergerak dalam bidang pemberdayaan perempuan. Begitu juga Muhammadiyah, Aisyiyah dan Nasyiatul Aisyiyah adalah lembaga pemberdayaan perempuan.
Di PERSIS dikenal dengan lembaga perempuan Persistri, Sarikat Islam (SI) memiliki lembaga Wanita Sarikat Sarikat Islam. Masing-masing Ormas memiliki orientasi dan tujuan yang sama dalam upaya pemberdayaan dan kesetaraan perempuan, yaitu memposisikan perempuan setara dengan laki-laki dalam ranah publik, baik sosio-ekonomi maupun sosio-politik.
Dalam catatan Kunto Wijoyo terdapat empat perkembangan ideologi lembaga perempuan, terutama yang berada dibawah naungan organisasi Islam. 1) penegasan kedudukan wanita ditengah dunia laki-laki, 2) penegasan pergerakan dan hak-hak wanita, 3) penegasan wanita sebagai pembina rumah tangga, 4) penegasan peran wanita dalam pembangunan.
Selain dalam Ormas-ormas Islam, lembaga pemberdayaan perempuan juga tumbuh subur di perguruan tinggi baik negeri maupun Swasta. Seperti Pusat Studi Wanita (PSW) Fisip UI, Forum Studi Wanita (FSW), Pusat Kajian Wanita (PKW), Pusat Studi Jender (PSJ), Pusat Studi Perempuan (PSP), Kelompok Studi Wanita (KSW), Kritik Studi Jender (KSJ).
Rekonstruksi Pergerakan
Tampaknya peran ormas-ormas perempuan Islam yang telah lahir belum maksimal dalam menyelesaikan secara konkrit masalah-masalah diskriminasi dan kekerasan perempuan. Selain itu, sasaran program masing-masing ormas perempuan Islam masih ditujukan untuk kalangan dan golongan sendiri, belum banyak dinikmati oleh masyarakat luas.
Mereka masih bekerja sendiri-sendiri secara sporadis sehingga gema kegiatan mereka belum terdengar secara luas. Agaknya sudah saatnya menggalang persatuan dan kebersamaan dalam upaya mencegah dan menghapus diskriminasi dan kekerasan terhadap perempuan Indonesia serta terbangunnya suatu kondisi masyarakat yang menghargai hak-hak perempuan dan menjadikan perempuan sebagai subjek dan mitra kerja dalam seluruh aspek kehidupan masyarakat, berbangsa dan bernegara.
Saatnya organisasi perempuan membangun kemandirian dan keberanian untuk melahirkan aksi-aksi strategis bagi pemberdayaan perempuan, terutama dalam berbagai bentuk diskriminasi. Oleh karena itu perlu untuk melakukan rekonstruksi historis sosiologis mengenai pergeseran pergerakan perempuan yang berlangsung di Indonesia, terutama konteks sosial politik.
Paradigma yang sudah terbangun sedemikian rupa bahwa persoalannya adalah dari agama itu sendiri. Agama sudah sejak awal dan seringkali dengan sendirinya dianggap sebagai faktor penghambat. Rasanya sulit untuk membongkar paradigma yang sudah mengakar sedemikian rupa.
Salah satu cara yang memungkinkan adalah dengan membaca teks keagamaan secara kontekstual. Sehingga akan tercapai kesetaraan antara laki-laki dan perempuan dalam agama itu sendiri.
Upaya yang dapat dilakukan dalam penghapusan bentuk-bentuk diskriminasi dan menegaskan kembali peran ormas-ormas perempuan Islam di indonesia adalah;
Pertama, mengaktualisasikan ajaran agama dalam kehidupan nyata di masyarakat agar pandangan bias terhadap perempuan hilang. Dengan begitu tuduhan-tuduhan negatif yang dialamatkan kepada Islam pun dengan sendirinya akan tereduksi, karena islam sesungguhnya adalah agama yang sangat memuliakan kaum perempuan.
Kedua, upaya pemberdayaan masyarakat, melalui peningkatan kualitas pendidikan perempuan sehingga menjadi sumber daya manusia yang profesional dengan tetap mengacu pada landasan moral, etik keagamaan, dan budaya bangsa. Ada kesan citra perempuan Islam di Indonesia belum mencerminkan figur perempuan yang dinamis, maju dan beradab, melainkan masih tenggelam dalam kondisi keterbelakangan, kebodohan, kefanatikan, sempit pandangan dan eksklusif.
Ketiga, upaya membangun kesadaran kritis masyarakat agar mereka tergugah untuk menghindari atau mengecam segala bentuk diskriminasi. Pada gilirannya kesadaran kritis tersebut akan menekan pihak pemerintah untuk segera melahirkan payung hukum dalam bentuk undang-undang dan peraturan yang memihak atau memberikan perlindungan hukum kepada perempuan.
Dalam meretas kesenjangan dan diskriminasi di berbagai lini, perlu kiranya desakralisasi sebagai upaya pembebasan diri umat Islam untuk selalu mentransendensikan segala sesuatu dalam ranah sakral. Selain itu harus ditekankan kepada umat Islam untuk selalu memunculkan kreatifitas berfikir dalam mencari pemikiran baru yang sesuai dengan perubahan zaman.
Kedepan diharapkan agar semua organisasi perempuan memfokuskan programnya pada kepentingan strategis gender dalam rangka menangani dan mengatasi berbagai problem sosial yang muncul sebagai dampak dari kesenjangan dan diskriminasi gender. Untuk itu diharapkan agar organisasi perempuan Islam mendesain kembali program-program mereka. Seperti pelatihan tenaga motivasi, kegiatan penyuluhan, advokasi dan pendampingan, dan publikasi serta penerbitan. Hal ini agar dapat mengintegrasikan peranan, kepentingan dan aspirasi perempuan secara holistik.(Penulis adalah pegiat IDEA STUDIES Fakultas Ushuluddin IAIN Walisongo Semarang).

 
Baca Komentar Beri Komentar
Kirimkan Artikel Cetak Artikel
 
 
Dicari Guru Penulis
Belajar dari Pedagang Angkringan
Perempuan Jakarta Mandiri dan Tertekan
Safari Gempita Mutiara Bangsa di Gorontalo
Band Sudayri