Halaman Muka | Kontak Kami | Tentang Kami | Iklan  | Arsip  Edisi Jum'at, 24 Maret 2017  
Politik dan Keamanan
Ekonomi dan Keuangan
Metropolitan
Opini
Agama dan Pendidikan
Nusantara
Olah Raga
Luar Negeri
Assalamu'alaikum
Derap TNI-POLRI
Hallo Bogor
 
   
 
Login
 
      
 
Password
 
 
 
   
Dunia Tasawuf
Forum Berbangsa dan Bernegara
Swadaya Mandiri
Forum Mahasiswa
Lingkaran Hidup
Pemahaman Keagamaan
Otonomi Daerah
Lemb Anak Indonesia
Parlementaria
Budaya
Kesehatan
Pariwisata
Hiburan
Pelita Hati
..
..
NILAI TUKAR RUPIAH
Source : www.klikbca.com
 JualBeli
USD 9200.00  9100.00  
SGD 6325.65  6236.65  
HKD 1187.90  1173.10  
CHF 7874.45  7769.45  
GBP 18868.05  18609.05  
AUD 8331.10  8203.10  
JPY 80.82  79.36  
SEK 1437.75  1407.65  
DKK 1776.20  1737.00  
CAD 9530.55  9376.55  
EUR 13145.74  12975.74  
SAR 2466.00  2426.00  
25-Okt-2007 / 15:41 WIB
 
 
 
Elpiji dan Harga Sembako Meroket
[Pelita Hati]

Elpiji dan Harga Sembako Meroket

KOK elpiji dikatakan meroket? Iya benar kan? Meroket artinya tabung gas elpiji belakangan ini sering menjadi roket yang menghancurkan atap rumah penduduk dan mengirim penghuninya ke rumah sakit karena terbakar mirip korban roket Israel di Gaza. Untunglah presiden cukup tanggap untuk memerintahkan jajarannya menangani korban roket elpiji itu. Maka mulai besok slang dan regulator tabung gas bisa dikembalikan di kios-kios yang ditunjuk, tapi slang dan regulator penggantinya harus beli. Harga selang Rp15.000 dan harga regulatornya Rp25.000, total Rp40.000. Bagi ukuran orang yang mampu harga itu tidak mahal, tapi bagi rakyat kecil yang penghasilannya dalam sehari hanya Rp30.000 pasti terasa mahal. Kalau tidak mampu beli ya, terpaksa pakai yang lama dengan risiko menjadi korban jedor. Sebab peralatan yang lama itu memang dulu dibagi gratis karena itu dianggap sah jika sering meledak. Gratis kok mau selamet, gimana sih?
Jadi kebijakan menjual peralatan kompor gas itu tidak bisa dipahami alasannya kecuali alasan bahwa pemerintah memang tidak mau rugi dan tidak mau berkorban untuk rakyatnya.
Bukti lain ketidakmauan pemerintah untuk berkorban adalah membiarkan harga-harga bahan pokok meroket alias melambung tinggi sehingga nafas sebagian besar warga masyarakat sudah sukar ditarik, mirip orang terserang asma. Sebagai bukan pakar ekonomi, saya tidak tahu mengapa harga-harga kebutuhan pokok itu melambung tinggi dan sampai kapan? Kalau rakyat besar sih pasti tidak merasakan naiknya harga kebutuhan pokok karena selain duitnya banyak, rakyat besar itu malah tidak usah membeli kebutuhan pokok karena sudah disediakan. Artinya, dengan kenaikan harga itu si miskin disuruh memberikan subdisi kepada si kaya. Tapi siapa yang menyuruh menjadi rakyat kecil? Salahnya sendiri kenapa mau menjadi rakyat kecil sehingga semuanya terpaksa membayar sendiri. Kalau sakit, si kecil terpaksa membayar RS dengan risiko disandera; mau menyekolahkan anak, si kecil pontang-panting mencari biayanya; mau punya rumah, si kecil terpaksa membikin rumah liliput di pinggir kali. Begitulah nasib rakyat kecil di negeri yang kaya sumberdaya alam ini, tidak pernah berubah karena yang berhak mengubahnya hanya dan selalu ingat akan diri mereka sendiri. Mudah-mudahan ada yang bersedia menolong penderitaan rakyat kecil ini yang selalu menjadi korban roket. (Amir Santoso, Gurubesar FISIP UI; Rektor Universitas Jayabaya, Jakarta)

 
Baca Komentar Beri Komentar
Kirimkan Artikel Cetak Artikel
 
 
Agama Terbaik
Muhammadiyah Satu Abad
Kompor Mleduk
Tafakkur
Aduh, Polisi