Halaman Muka | Kontak Kami | Tentang Kami | Iklan  | Arsip  Edisi Senin, 23 Januari 2017  
Politik dan Keamanan
Ekonomi dan Keuangan
Metropolitan
Opini
Agama dan Pendidikan
Nusantara
Olah Raga
Luar Negeri
Assalamu'alaikum
Derap TNI-POLRI
Hallo Bogor
 
   
 
Login
 
      
 
Password
 
 
 
   
Dunia Tasawuf
Forum Berbangsa dan Bernegara
Swadaya Mandiri
Forum Mahasiswa
Lingkaran Hidup
Pemahaman Keagamaan
Otonomi Daerah
Lemb Anak Indonesia
Parlementaria
Budaya
Kesehatan
Pariwisata
Hiburan
Pelita Hati
..
..
NILAI TUKAR RUPIAH
Source : www.klikbca.com
 JualBeli
USD 9200.00  9100.00  
SGD 6325.65  6236.65  
HKD 1187.90  1173.10  
CHF 7874.45  7769.45  
GBP 18868.05  18609.05  
AUD 8331.10  8203.10  
JPY 80.82  79.36  
SEK 1437.75  1407.65  
DKK 1776.20  1737.00  
CAD 9530.55  9376.55  
EUR 13145.74  12975.74  
SAR 2466.00  2426.00  
25-Okt-2007 / 15:41 WIB
 
 
 
Agama Terbaik
[Pelita Hati]

Agama Terbaik

MUI mengharamkan pluralisme agama yaitu pendapat yang menyatakan bahwa semua agama itu sama dan benar. Tentu semua agama benar menurut pandangan agama itu sendiri, tetapi tidak benar menurut pandangan agama lain, terutama dalam masalah teologi. Banyak tokoh agama selain Islam juga menentang pendapat bahwa semua agama itu sama dan benar.
MUI mendukung pluralisme sosial, yaitu sikap saling menghargai, saling menghormati antara satu agama dengan agama lain, antaretnis dan antarsuku. Pemeluk agama yang berbeda itu tidak perlu saling menyalahkan ajaran agama mereka. Juga antara satu kelompok dengan kelompok lain dalam satu agama yang berbeda penafsiran.
Perlu dikemukakan sebuah dialog menarik tentang agama terbaik antara Leonardo Boff (LB), seorang ahli dari kelompok the Theology of Freedom dari Brazil dengan Dalai Lama, pemimpin umat Buddha dari Tibet. LB bertanya kepada Dalai Lama: Yang Mulia, apakah agama terbaik? LB menduga, bahwa Dalai Lama akan menjawab: Agama Buddha dari Tibet atau agama oriental lebih tua daripada agama Kristen.
Sambil tersenyum Dalai Lama menjawab: Agama terbaik adalah agama yang lebih mendekatkan anda dengan Tuhan, yaitu agama yang membuat anda menjadi orang yang lebih baik. Sambil menutupi rasa malu karena punya dugaan tidak baik terhadap Dalai Lama, LB bertanya lagi: Apakah tanda agama yang membuat kita lebih baik? Jawaban Dalai Lama: Agama apapun yang bisa membuat anda lebih welas asih, lebih berpikiran sehat, lebih obyektif dan adil, lebih menyayangi, lebih manusiawi, lebih punya rasa tanggung jawab dan lebih beretika. Agama yang bisa membuat anda punya kualitas tersebut di atas, adalah agama terbaik.
LB terdiam sejenak dan merasa terkagum-kagum terhadap jawaban Dalai Lama yang bijaksana dan tidak dapat dibantah. Selanjutnya Dalai Lama berkata: Tidak penting bagiku kawan, apa agamamu, tidak peduli anda beragama atau tidak. Yang betul-betul penting bagi saya ialah perilaku anda di depan kawan-kawan anda, di depan keluarga, lingkungan kerja dan dunia. Selanjutnya Dalai Lama mengatakan: Ingatlah bahwa universe (alam semesta) adalah echo dari perbuatan kita dan pikiran kita. Hukum aksi dan reaksi tidak secara eksklusif untuk masalah fisik. Itu juga untuk hubungan antarmanusia. Jika saya bertindak baik, saya akan menimbulkan kebaikan. Jika berperilaku jahat, akan dibalas dengan kejahatan.
Akhirnya Dalai Lama berkata: Jagalah pikiranmu, karena mereka akan jadi perkataanmu. Jagalah perkataanmu, karena mereka akan jadi perbuatanmu. Jagalah perbuatanmu, karena mereka akan menjadi kebiasaanmu. Jagalah kebiasaanmu, karena mereka akan membentuk karaktermu. Jagalah karaktermu, karena mereka akan membentuk nasibmu dan nasibmu akan menjadi kehidupanmu. Tidak ada agama yang lebih tinggi daripada kebenaran.
Kita menyadari bahwa agama di Indonesia belum mampu membuat kita menjadi orang yang sepenuhnya baik bagi masyarakat. Dialog itu perlu kita renungkan supaya kita bisa beragama dengan baik dan benar, supaya ibadah ke atas (hablum minallah) dapat kita refleksikan kepada perilaku kita kepada sesama (hablum minan nas) dan alam. Yang tidak baik tentu bukan ajaran agama itu sendiri, tetapi persepsi umatnya terhadap agama itu.(Salahuddin Wahid, Pengasuh Pesantren Tebuireng)

 
Baca Komentar Beri Komentar
Kirimkan Artikel Cetak Artikel
 
 
Muhammadiyah Satu Abad
Kompor Mleduk
Tafakkur
Aduh, Polisi
Hitam Putih Orde Baru