Halaman Muka | Kontak Kami | Tentang Kami | Iklan  | Arsip  Edisi Senin, 23 Januari 2017  
Politik dan Keamanan
Ekonomi dan Keuangan
Metropolitan
Opini
Agama dan Pendidikan
Nusantara
Olah Raga
Luar Negeri
Assalamu'alaikum
Derap TNI-POLRI
Hallo Bogor
 
   
 
Login
 
      
 
Password
 
 
 
   
Dunia Tasawuf
Forum Berbangsa dan Bernegara
Swadaya Mandiri
Forum Mahasiswa
Lingkaran Hidup
Pemahaman Keagamaan
Otonomi Daerah
Lemb Anak Indonesia
Parlementaria
Budaya
Kesehatan
Pariwisata
Hiburan
Pelita Hati
..
..
NILAI TUKAR RUPIAH
Source : www.klikbca.com
 JualBeli
USD 9200.00  9100.00  
SGD 6325.65  6236.65  
HKD 1187.90  1173.10  
CHF 7874.45  7769.45  
GBP 18868.05  18609.05  
AUD 8331.10  8203.10  
JPY 80.82  79.36  
SEK 1437.75  1407.65  
DKK 1776.20  1737.00  
CAD 9530.55  9376.55  
EUR 13145.74  12975.74  
SAR 2466.00  2426.00  
25-Okt-2007 / 15:41 WIB
 
 
 
Muhammadiyah Satu Abad
[Pelita Hati]

Muhammadiyah Satu Abad

MUHAMMADIYAH akan memasuki abad ke II. Seratus tahun telah berlalu, ketika KH Ahmad Dahlan memprakarsai berdirinya Muhammadiyah, salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia. Dalam perjalanannya, sudah tentu banyak pengabdian yang diberikan kepada bangsa dan negara, terutama melalui bidang pendidikan. Muhammadiyah lebih dikenal didalam penyelenggaraan pendidikan modern, dari taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi. Jumlahnya, mungkin sudah tidak terhitung. Selain itu, juga didalam bidang sosial dan kesehatan. Berapa rumah yatim dan juga rumah sakit telah dibangun, sangat mudah dikenal masyarakat. Semua itu, tidak hanya harus dipelihara, tetapi juga dikembangkan. Dan dengan perubahan zaman, tantangannya juga semakin besar dan kompleks.
Tidak berlebih, kalau disaat usia 100 tahun ini kita mengenang beberapa kata mutiara yang disampaikan oleh pendiri Muhammadiyah. Hidup-hidupilah Muhammadiyah dan jangan hidup dari Muhammadiyah, begitu pesan KH Ahmad Dahlan. Pesan KH Ahmad Dahlan itu, untuk ukuran zaman sekarang, mungkin dianggap terlalu idealistis. Namun, harus tetap dipegang teguh, tanpa mengabaikan aspek profesionalisme dalam pengelolaan lembaga-lembaga pendidikan, sosial, dan kesehatan Muhammadiyah. Kalau mengabaikan aspek profesionalisme didalam pengelolaan lembaga-lembaga pendidikan/sosial/kesehatan yang dimiliki, bisa saja lembaga-lembaga itu justru sulit mempertahankan keberadaannya. Dalam batasan itulah (barangkali) kita mempersepsikan pesan KH Ahmad Dahlan di era glabalisasi ini.
Selain itu, disaat memasuki abad ke II, tidak ada jeleknya kita melakukan evaluasi, bahkan introspeksi, terhadap pencapaian Muhammadiyah dalam satu abad ini. Tidak berlebih, terasa ada yang hilang. Dulu, ada gerakan Kepanduan (Hizbul Wathan dan Nasyiatul Aisiyah), yang menjadi tempat persemaian generasi muda Muhammadiyah dan bangsa. Sekarang, keduanya sudah tidak terdengar. Dulu, ada klub sepakbola HW, yang juga telah menyumbang beberapa pemain nasional. Sekarang, klub sepakbola itu sudah tidak ada lagi. Dapatkah diartikan dua kegiatan itu dihapuskan saja? Sehingga menjadi bagian sejarah Muhammadiyah? Atau direvitalisasi, sehingga perlu dihidupkan kembali dengan menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman? Ditengah fenomena krisis karakter bangsa, masalah ini perlu memperoleh pemikiran kembali.
Terakhir, barangkali perlu disampaikan catatan di sekitar Muhammadiyah dan politik. Bahwa Muhammadiyah sering ditarik-tarik ke politik, rasanya sulit dihindari. Tetapi, politik praktis bukanlah wahana yang cocok bagi Muhammadiyah. Meskipun tarikan ke politik itu akan semakin besar dan semakin menggunakan berbagai cara yang semakin canggih, alhamdulillah masih bisa dicegah. Tugas Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang baru, yang mungkin paling berat adalah mempertahankan khittah Muhammadiyah sebagai organsiasi dakwah dan pembaruan yang nonpraktis politik. Sebab, ketika memasuki dunia politik, Muhammadiyah bisa saja kehilangan jatidirinya yang hakiki. Muhammadiyah akan kehilangan sifat inklusifnya, sifat moderatnya, independensinya yang justru bisa mengganggu perkembangan amal Muhammadiyah.
Sekali Muhammadiyah, tetap Muhammadiyah!(Sulastomo)

 
Baca Komentar Beri Komentar
Kirimkan Artikel Cetak Artikel
 
 
Kompor Mleduk
Tafakkur
Aduh, Polisi
Hitam Putih Orde Baru
Masih Relevankah Ideologi Partai?