Halaman Muka | Kontak Kami | Tentang Kami | Iklan  | Arsip  Edisi Sabtu, 21 Januari 2017  
Politik dan Keamanan
Ekonomi dan Keuangan
Metropolitan
Opini
Agama dan Pendidikan
Nusantara
Olah Raga
Luar Negeri
Assalamu'alaikum
Derap TNI-POLRI
Hallo Bogor
 
   
 
Login
 
      
 
Password
 
 
 
   
Dunia Tasawuf
Forum Berbangsa dan Bernegara
Swadaya Mandiri
Forum Mahasiswa
Lingkaran Hidup
Pemahaman Keagamaan
Otonomi Daerah
Lemb Anak Indonesia
Parlementaria
Budaya
Kesehatan
Pariwisata
Hiburan
Pelita Hati
..
..
NILAI TUKAR RUPIAH
Source : www.klikbca.com
 JualBeli
USD 9200.00  9100.00  
SGD 6325.65  6236.65  
HKD 1187.90  1173.10  
CHF 7874.45  7769.45  
GBP 18868.05  18609.05  
AUD 8331.10  8203.10  
JPY 80.82  79.36  
SEK 1437.75  1407.65  
DKK 1776.20  1737.00  
CAD 9530.55  9376.55  
EUR 13145.74  12975.74  
SAR 2466.00  2426.00  
25-Okt-2007 / 15:41 WIB
 
 
 
Reformasi Partai Politik Kita
[Assalamu'alaikum]

Reformasi Partai Politik Kita

SEORANG pengamat politik kita, J Kristiadi dari CSIS, kepada sebuah radio swasta mengatakan, bahwa sekarang juga diperlukan reformasi partai politik kita. Hal ini disebabkan, oleh karena performance partai politik kita yang ternyata telah banyak mengecewakan rakyat. Tidak hanya didalam mewujudkan kesejahteraan rakyat, tetapi juga didalam pendidikan politik kepada rakyat.
Apa yang dikatakan oleh J Kristiadi itu, selayaknya memang perlu memperoleh perhatian kita bersama. Peran partai politik, sepanjang kita masih menganut sistem demokrasi, adalah sangat penting. Kritik terhadap partai politik, selayaknya disikapi dengan niat untuk memperbaiki, bukan justru untuk menghancurkan partai politik. Kritik-kritik seperti itu, bagi partai politik, kiranya dapat menjadi bahan introspeksi, sehingga perbaikan partai politik dapat diwujudkan secara demokratis. Dalam istilah sekarang, perlu reformasi partai politik.
Tidak berlebih, dalam hal ini memang ada beberapa catatan. Berapa jumlah partai politik yang ideal bagi Indonesia? Apakah banyak partai politik seperti sekarang, cermin demokrasi yang ideal? Mengapa ada usul, bahwa yang ideal, jumlah partai politik itu hanya tiga? Ada kesan, bahwa sebagian besar setuju untuk mengurangi jumlah partai politik. Caranya? Juga harus demokratis. Sampai di sini, kita bisa berbeda pendapat. Sebab, ada yang menilai jumlah partai yang banyak justru menandai adanya demokrasi yang sehat. Hal ini bisa kita cermati dari perbedaan pendapat di antara partai-partai politik tentang perlunya peningkatan batas ambang perolehan suara pemilu ( parliamentary threshold). Sebagian, khususnya partai kecil menilai sebagai ancaman terhadap eksistensinya dan karena itu menilai tidak demokratis, dan sebagian, khususnya partai besar, setuju dengan peningkatan ambang perolehan suara itu. Demikian juga sikap terhadap sistem pemilu. Pasti akan ada perbedaan, antara sistem proporsional dan sistem distrik.
Dengan kenyataan seperti itu, kita sesungguhnya tidak terlalu optimis dengan gagasan reformasi partai politik itu, sepanjang kita tidak mampu membangun persepsi yang sama. Dan untuk membangun persepsi yang sama seperti itu sangat tidak mudah. Apalagi kalau masalahnya diserahkan seluruhnya pada partai-partai politik.
Dari pembelajaran sejarah bangsa ini, inisiatif politik yang bermakna justru selalu dimulai dari atas, istilahnya top down, bukan bottom up. Meskipun mungkin kurang demokratis, itulah jalan yang harus ditempuh bagi kebaikan bangsa ini. Sejak Dekrit Presiden 5 Juli 1959, penyederhanaan partai politik di era orde baru, sampai asas tunggal Pancasila di dasawarsa 1980-an. Menyerahkan masalah ini pada proses demokrasi, ternyata justru menemui jalan buntu, sebagaimana kegagalan Konstituante menyepakati dasar negara atau bahkan ketika memasuki era reformasi, yang melahirkan kondisi kepartaian seperti sekarang. Reformasi, ternyata perlu direformasi lagi.
Sampai kapan kita menghadapi kenyataan seperti ini? Sejarah selalu berulang kembali. Sebab, kita tidak mau belajar sejarah, meskipun Bung Karno menyerukan perlunya belajar sejarah. Inilah pertanda, bahwa kita tidak konsisten membangun sistem.

 
Baca Komentar Beri Komentar
Kirimkan Artikel Cetak Artikel
 
 
Perlindungan Konsumen
Tahun Ajaran Baru
1 Juli 2010
Pilkada: Demokrasi, Ambisi, dan Anarki
Menyamakan Persepsi Tentang Demokrasi