Halaman Muka | Kontak Kami | Tentang Kami | Iklan  | Arsip  Edisi Senin, 23 Januari 2017  
Politik dan Keamanan
Ekonomi dan Keuangan
Metropolitan
Opini
Agama dan Pendidikan
Nusantara
Olah Raga
Luar Negeri
Assalamu'alaikum
Derap TNI-POLRI
Hallo Bogor
 
   
 
Login
 
      
 
Password
 
 
 
   
Dunia Tasawuf
Forum Berbangsa dan Bernegara
Swadaya Mandiri
Forum Mahasiswa
Lingkaran Hidup
Pemahaman Keagamaan
Otonomi Daerah
Lemb Anak Indonesia
Parlementaria
Budaya
Kesehatan
Pariwisata
Hiburan
Pelita Hati
..
..
NILAI TUKAR RUPIAH
Source : www.klikbca.com
 JualBeli
USD 9200.00  9100.00  
SGD 6325.65  6236.65  
HKD 1187.90  1173.10  
CHF 7874.45  7769.45  
GBP 18868.05  18609.05  
AUD 8331.10  8203.10  
JPY 80.82  79.36  
SEK 1437.75  1407.65  
DKK 1776.20  1737.00  
CAD 9530.55  9376.55  
EUR 13145.74  12975.74  
SAR 2466.00  2426.00  
25-Okt-2007 / 15:41 WIB
 
 
 
Kompor Mleduk
[Pelita Hati]

Kompor Mleduk

MEMBACA banyaknya kasus meledaknya tabung gas elpiji di dapur-dapur rakyat kecil, mungkin kita akan segera terngiang sebuah lagu yang dipopulerkan oleh komedian Betawi, Benyamin Sueb. Bang Ben memang sudah meninggalkan kita semua, tetapi sepertinya ia masih terus asyik mendendangkan lagu jenaka bersama si item manis Ida Royani. Tentu saja tahun 1970-an, ketika Lagu Kompor Mleduk populer, kompor gas belum musim. Belum ada pikiran atau gambaran, suatu saat para rakyat kecil diberikan oleh pemerintah perangkat tabung gas elpiji, tidak secara khusus agar mereka memodernisasikan cara memasak, tetapi lebih merupakan bentuk kompensasi atas kenaikan harga bahan bakar minyak. Menurut pemberitaan, karena kualitas tabung gas serta perangkat kompor gasnya tidak layak alias di bawah standar, maka kasus-kasus kompor mleduk secara akumulatif, cukup mengagetkan.
Ketidaklayakan rupanya telah menjadi pemandangan kita sehari-hari. Kondisi transportasi umum kita misalnya, aduh, memprihatinkan. Angkutan umum kita masih banyak yang tua-tua, seolah menolak diremajakan. Asap yang dikeluarkan tebal-tebal, suka mogok dan begitupun penumpangnya berjejal. Lagu Franky Sahilatua yang populer tahun 1970-an berjudul Bus Kota, masih saja tetap relevan dinyanyikan di abad ke-21 ini. Belum lama ini, saya membaca berita soal rencana Pemda agar bus-bus Metromini diwajibkan ber-AC. Maksudnya agar penumpangnya nyaman. Tetapi, rencana itu langsung ditolak oleh para pemiliknya, dengan juru bicara para sopir mereka. Alasannya, mereka tak punya anggaran untuk itu. Zaman lagi susah, maka usulan meng-AC-kan Metromini dipandang mengada-ada.
Kita masih hidup di zaman yang kebalik-balik. Yang tak layak masih dipelihara terus-terusan. Yang jujur dipinggirkan, yang benar disingkirkan. Yang intelektual-akademis cuma dimanfaatkan, kurang dihargai secara layak. Yang bandit dipuja-puji. Yang tak paham persoalan didukung-dukung. Yang sejati dilangkahi yang imitasi. Inilah zaman yang menurut Koes Plus, wedhak pupur nggo nggolek duit, bedak pupur (kepalsuan) dijadikan andalan mencari penghidupan.
Entah apa apakah ada hubungannya atau tidak dengan kompor mleduk, belakangan ini banyak kasus-kasus yang meledak menjadi bahan pemberitaan, mulai dari oknum petugas pajak, beredarnya video tidak senonoh yang pelakunya berwajah mirip artis terkenal, mantan menteri, hingga soal rekening gemuk oknum petinggi kepolisian. Indonesia kita masih penuh gejolak, justru ketika Dewi Keadilan semakin disibukkan oleh para pengganggunya, dan saking jengkelnya menangis tersedu-sedu. Tak hanya hukum formal yang dipermainkan, tetapi etika juga sudah tidak lagi dipandang penting.
Ketika tulisan ini ditulis, Muhammadiyah sedang bersiap dengan Muktamar 1 Abad-nya di Yogyakarta. Saya sebagai kader Muhammadiyah, sepakat Buya Ahmad Syafii Maarif, bahwa betapa masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan demi umat dan bangsa. Muhammadiyah sebagai gerakan sosial-keagamaan, tentu tidak boleh statis, harus dinamis dan kreatif, peka terhadap permasalahan sosial, khususnya kepada kaum papa sesuai dengan pesan dan spirit KH Ahmad Dahlan. Rakyat marjinal, mustadhafin, mereka yang kompornya mleduk semacam itu, mestinya tetap harus menjadi pusat perhatian, jangan hanya terlalu sibuk berpolitik praktis. Wallahualam.(M Alfan Alfian, Dosen FISIP Universitas Nasional, Jakarta)

 
Baca Komentar Beri Komentar
Kirimkan Artikel Cetak Artikel
 
 
Tafakkur
Aduh, Polisi
Hitam Putih Orde Baru
Masih Relevankah Ideologi Partai?
Syair Kalau Hanya Sekedar