Halaman Muka | Kontak Kami | Tentang Kami | Iklan  | Arsip  Edisi Selasa, 28 Maret 2017  
Politik dan Keamanan
Ekonomi dan Keuangan
Metropolitan
Opini
Agama dan Pendidikan
Nusantara
Olah Raga
Luar Negeri
Assalamu'alaikum
Derap TNI-POLRI
Hallo Bogor
 
   
 
Login
 
      
 
Password
 
 
 
   
Dunia Tasawuf
Forum Berbangsa dan Bernegara
Swadaya Mandiri
Forum Mahasiswa
Lingkaran Hidup
Pemahaman Keagamaan
Otonomi Daerah
Lemb Anak Indonesia
Parlementaria
Budaya
Kesehatan
Pariwisata
Hiburan
Pelita Hati
..
..
NILAI TUKAR RUPIAH
Source : www.klikbca.com
 JualBeli
USD 9200.00  9100.00  
SGD 6325.65  6236.65  
HKD 1187.90  1173.10  
CHF 7874.45  7769.45  
GBP 18868.05  18609.05  
AUD 8331.10  8203.10  
JPY 80.82  79.36  
SEK 1437.75  1407.65  
DKK 1776.20  1737.00  
CAD 9530.55  9376.55  
EUR 13145.74  12975.74  
SAR 2466.00  2426.00  
25-Okt-2007 / 15:41 WIB
 
 
 
Tahun Ajaran Baru
[Assalamu'alaikum]

Tahun Ajaran Baru

PENYAKIT kepusingan yang dirasakan oleh sebagian besar masyarakat Indonesia kembali terjadi. Setiap tahun penyakit itu muncul, ketika tahun ajaran baru dimulai.
Kenapa? Untuk menyekolahkan anak-anak --seperti saat ini-- selain biaya yang tidak sedikit yang harus dikeluarkan oleh para orang tua murid, untuk memperoleh sekolah pun tidak semudah yang dibayangkan. Apalagi dengan diberlakukannya sistem on line yang terkadang justru menambah kepusiangan orang tua murid.
Prosedur mendapatkan satu sekolah sejak beberapa tahun belakangan ini merupakan suatu kesulitan tersendiri bagi para orang tua murid. Berbeda dengan masa lalu, bahwa seorang anak dengan mudah masuk sekolah. Jika ada anak kakak-beradik, biasanya adiknya bisa langsung mengikuti kakaknya bersekolah. Tapi dewasa ini, hal itu tak lagi bisa terjadi. Semuanya sudah berubah dan semakin sulit.
Belum lagi soal biaya bagi murid baru. Memang istilah uang gedung nyaris tak terdengar lagi, tapi sumbangan sukarela sudah menjadi sesuatu yang membudaya. Pada saat kenaikan kelas pun, orang tua murid juga masih terkena beban biaya yang istilahnya untuk daftar ulang yang biayanya tidak murah.
Dengan dalih harus bayar ini dan bayar itu, biaya untuk pendidikan membengkak terus di negara kita. Belum lagi untuk keperluan seragam dan membeli buku-buku. Bagi kelompok masyarakat berpunya, tentu hal itu tak akan jadi masalah. Tapi bagaimana dengan masyarakat menengah ke bawah? Ini persoalan besar yang harus dipecahkan bersama.
Hal-hal seperti itu memang bukan hal baru di Indonesia dan malah seperti sesuatu yang sudah lumrah. Keluhan demi keluhan dari para orang tua murid juga terus terdengar, tapi praktik-praktik pungutan itu juga tetap saja terjadi. Itu yang membuat kepusingan bagi para orang tua yang anaknya akan masuk sekolah. Celakanya, hal itu terjadi setiap tahun.
Kapan di Indonesia anak-anak bisa bersekolah dengan mudah dan biaya yang murah? Entahlah. Kalau melihat gelagatnya, biaya tinggi untuk bersekolah di Indonesia tak akan bisa direm. Padahal pemerintah bertekad mencerdaskan seluruh kehidupan bangsa Indonesia. Salah satu cara untuk memperoleh kecerdasan itu melalui pendidikan di sekolah. Mungkinkah masyarakat bisa menyekolahkan anak-anaknya jika biayanya terus bertambah?
Juga bukan rahasia lagi, biaya-biaya untuk bersekolah juga semakin mahal, ketika sekolah yang dituju oleh anak-anak berembel-embel sekolah favorit atau berbau internasional.
Alangkah mengerikan dan memprihatinkannya jika biaya sekolah yang tinggi tersebut menyebabkan anak-anak Indonesia tak mampu bersekolah. Tentu ini akan menambah jumlah anak-anak jalanan yang hingga kini pun masih mudah dilihat di lapangan.
Untuk itu, pemerintah harus bertindak tegas terhadap pihak-pihak yang menggunakan sekolah untuk mengeruk keuntungan sebesar-besarnya dari para orang tua murid.
Jangan memanfaatkan momentum tahun ajaran baru untuk berpanen-ria.

 
Baca Komentar Beri Komentar
Kirimkan Artikel Cetak Artikel
 
 
1 Juli 2010
Pilkada: Demokrasi, Ambisi, dan Anarki
Menyamakan Persepsi Tentang Demokrasi
Benarkah Masyarakat Kita Sedang Sakit?
Teroris Masih Bergerilya