Halaman Muka | Kontak Kami | Tentang Kami | Iklan  | Arsip  Edisi Jum'at, 24 Maret 2017  
Politik dan Keamanan
Ekonomi dan Keuangan
Metropolitan
Opini
Agama dan Pendidikan
Nusantara
Olah Raga
Luar Negeri
Assalamu'alaikum
Derap TNI-POLRI
Hallo Bogor
 
   
 
Login
 
      
 
Password
 
 
 
   
Dunia Tasawuf
Forum Berbangsa dan Bernegara
Swadaya Mandiri
Forum Mahasiswa
Lingkaran Hidup
Pemahaman Keagamaan
Otonomi Daerah
Lemb Anak Indonesia
Parlementaria
Budaya
Kesehatan
Pariwisata
Hiburan
Pelita Hati
..
..
NILAI TUKAR RUPIAH
Source : www.klikbca.com
 JualBeli
USD 9200.00  9100.00  
SGD 6325.65  6236.65  
HKD 1187.90  1173.10  
CHF 7874.45  7769.45  
GBP 18868.05  18609.05  
AUD 8331.10  8203.10  
JPY 80.82  79.36  
SEK 1437.75  1407.65  
DKK 1776.20  1737.00  
CAD 9530.55  9376.55  
EUR 13145.74  12975.74  
SAR 2466.00  2426.00  
25-Okt-2007 / 15:41 WIB
 
 
 
Tafakkur
[Pelita Hati]

Tafakkur

BANYAK lorong rahasia menuju Tuhan. Lorong-lorong itu kadang mendaki, kadang terjal, berliku, dan penuh jebakan. Pintu pertama yang harus dilewati ialah tafakkur. Kata tafakkur berasal dari akar kata fakkara-yufakkiru berarti berfikir dan merenung. Tafakkur adalah berusaha untuk mengecoh atau menjinakkan pikiran kita yang terpecah dari berbagai obyek lalu difokuskan kepada obyek terbatas, yaitu memikirkan kemahakuasaan Allah SWT. Betapa yang banyak itu berasal dari Yang Maha Esa. Dari situ nanti seseorang secara bertahap akan sampai pada sebuah aksioma bahwa memang Tuhan betul-betul ada. Wujudnya berbeda (incomparable) dengan makhluk-Nya. Wujud Tuhan disadari lebih mutlak daripada wujud makhluk. Pemilik wujud yang hakiki adalah Tuhan. Kita dan seluruh makhluk-Nya yang lain hanya wujud semu. Diri kita hanya wujud kamuflase. Kita dan para makhluk-Nya hanya bentukan dari kumpulan atom-atom. Kalau atom-atom itu diurai tidak lebih hanya semacam uap dan menguap akhirnya hilang. So, everybody and everything are nothing.
Kalangan teosofi mengumpamakan kita dan para makhluk bagaikan gambaran yang ditangkap dalam cermin. Kelihatan punya bentuk dan gerakan aktif tetapi sesungguhnya mereka itu tidak ada apa-apanya tanpa adanya wujud di depan cermin itu. Wujud makhluk hanyalah wujud reflektif dari Sang Maha Wujud yang tertangkap di dalam cermin. Tanpa wujud hakiki itu maka tidak ada wujud kamuflase itu. Dari tafakkur ini kita akan sampai pada kesimpulan selanjutnya bahwa Tuhan memang Maha Luar Biasa. Bukan Tuhan Maha Angkuh dan kikir untuk memperkenalkan dirinya kepada kita tetapi kapasitas memori kita tidak sanggup untuk merekam hakekat wujud Tuhan. Apa arti sebuah cangkir untuk untuk mewadahi samudera, demikian ungkapan syair Jalaluddin Rumi. Kapasitas memori kita amat terbatas (QS al-Isra/17: 85).
Ambisi manusia untuk mengerti dan memahami Tuhan adalah manusiawi. Namun Al-Quran mengisyaratkan bahwa dengan motivasi logika, seseorang tidak akan pernah memahami Tuhannya secara sempurna. Nabi Musa pun sadar akan hal ini sehingga harus mengalah terhadap Khidlir (baca kisah Musa dan Khidlir dalam QS al-Kahfi). Ini pelajaran buat kita bahwa perestasi ilmiah dan intelektual seharusnya tidak membuat manusia itu congkak. Karena hukum alam sangat bisa ditaklukkan oleh Pencipta-Nya. Kebenaran ilmiah dan intelektual hanya bersifat akumulatif dan nisbi. Kebenaran hakiki di tangan Sang Khaliq. Itulah sebabnya Ibn Arabi, tokoh utama teosofi mengistilahkan Tuhan dengan Al-Haq (kebenaran) dan makhluk-Nya disebut al-khalq (ciptaan). Al-khalq adalah obyek Sang Al-Haq.
Bagaimanapun tafakkur sudah masuk dalam wilayah advans (advanced are) yang sulit dimasuki hanya dengan modal keinginan. Hanya dengan kemauan disertai dengan konsistensi usaha spiritual (riyadlah sulukiyah) yang dapat mengantar seseorang ke posisi (maqam) ini. Energi yang lebih kuat untuk dan paling dominan di dalam maqam tafakkur ini masih akal pikiran. Orang yang sudah di maqam ini sudah mampu menjinakkan pikiran-pikiran liarnya. Ia sudah mampu mengambil hikmah dan pelajaran (itibar, seakar kata dengan tadabbur) terhadap apa saja yang ditangkap oleh panca inderanya dan langsung dihubungkan dengan Al-Haq, Sang Pencipta, Sang Prima Causa. Namun orang yang sudah sampai di maqam ini belum bisa merasa puas apalagi sombong. Di atas langit masih banyak langit. Ini baru anak tangga pertama dari sembilan anak tangga yang harus dilewati. (Nasaruddin Umar)


 
Baca Komentar Beri Komentar
Kirimkan Artikel Cetak Artikel
 
 
Aduh, Polisi
Hitam Putih Orde Baru
Masih Relevankah Ideologi Partai?
Syair Kalau Hanya Sekedar
Bersahabat dengan Tuhan