Halaman Muka | Kontak Kami | Tentang Kami | Iklan  | Arsip  Edisi Jum'at, 24 Maret 2017  
Politik dan Keamanan
Ekonomi dan Keuangan
Metropolitan
Opini
Agama dan Pendidikan
Nusantara
Olah Raga
Luar Negeri
Assalamu'alaikum
Derap TNI-POLRI
Hallo Bogor
 
   
 
Login
 
      
 
Password
 
 
 
   
Dunia Tasawuf
Forum Berbangsa dan Bernegara
Swadaya Mandiri
Forum Mahasiswa
Lingkaran Hidup
Pemahaman Keagamaan
Otonomi Daerah
Lemb Anak Indonesia
Parlementaria
Budaya
Kesehatan
Pariwisata
Hiburan
Pelita Hati
..
..
NILAI TUKAR RUPIAH
Source : www.klikbca.com
 JualBeli
USD 9200.00  9100.00  
SGD 6325.65  6236.65  
HKD 1187.90  1173.10  
CHF 7874.45  7769.45  
GBP 18868.05  18609.05  
AUD 8331.10  8203.10  
JPY 80.82  79.36  
SEK 1437.75  1407.65  
DKK 1776.20  1737.00  
CAD 9530.55  9376.55  
EUR 13145.74  12975.74  
SAR 2466.00  2426.00  
25-Okt-2007 / 15:41 WIB
 
 
 
Aduh, Polisi
[Pelita Hati]

Aduh, Polisi

POLISI tampak makin kedodoran untuk menjaga citranya. Kemarin dilaporkan bahwa ada upaya memborong majalah mingguan Tempo karena majalah itu, dalam terbitan kemarin, menyoroti rekening miliaran rupiah milik beberapa Perwira Tinggi Polri. Kenapa mesti memborong majalah? Tanpa memborongnya masyarakat sudah memiliki persepsi negatif mengenai Polri dan masalah rekening miliaran rupiah milik beberapa Perwira Tinggi Polri itu sudah lama beredar di kalangan masyarakat. Tanpa Tempo menuliskan berita itu, masyarakat sudah lama tidak menghargai polisi. Cara polisi memborong majalah tersebut justru makin memberi kesan bahwa berita Tempo itu benar dan polisi telah bertindak seperti burung unta, menyurukkan kepalanya ke dalam lobang jika ada musuh mendatangi burung itu. Sungguh tindakan yang naif, sebab yang diharapkan oleh masyarakat justru adalah pembelaan disertai bukti-bukti yang kuat dari polisi bahwa berita itu tidak benar, atau jika benar, masyarakat ingin agar polisi menindak Perwira Tinggi tersebut. Andaikata polisi melakukan dua hal tersebut, saya yakin masyarakat akan memberikan penghargaan terhadap polisi. Meskipun pandangan negatif terhadap polisi pasti tidak akan berubah secara drastis, tapi paling tidak sikap seperti yang dianjurkan tadi bisa menolong sedikit untuk membangun citra polisi yang telanjur rusak.
Polisi tidak akan bisa mempertahankan, apalagi membangun citra yang baik di mata masyarakat apabila selalu cenderung membela anggota korpsnya yang melakukan kesalahan. Polisi juga tidak akan bisa memperbaiki citranya yang buruk apabila tidak bersedia membela masyarakat miskin dari golongan bawah yang membutuhkan perlindungan polisi. Bukankah sudah banyak keluhan yang menyatakan bahwa polisi lebih membela yang kaya? Kasus penculikan siswa SD di Bekasi yang berakhir dengan tewasnya anak telah dituding sebagai kelalaian polisi untuk menyelamatkan anak orang biasa, sementara jika yang diculik adalah anak orang kaya, polisi dengan sigap menyelamatkannya. Sudah lama beredar anekdot bahwa jika kita kemalingan jangan lapor ke polisi karena pasti jumlah yang hilang bertambah banyak. Anekdot ini jangan dianggap sepele, itu merupakan wujud sinisme publik terhadap polisi. Jadi bagaimana memperbaiki wajah Kepolisian kita? Bahwa polisi masih dibutuhkan oleh masyarakat sudah tentu jawabannya adalah ya. Tetapi masyarakat membutuhkan polisi yang bisa dipercayainya. Caranya adalah dengan berani melakukan pembenahan internal secara sungguh-sungguh dan terbuka yang bisa diyakini oleh publik bahwa polisi memang sedang berupaya keras untuk memperbaiki diri. Bukan hanya menindak anggotanya yang menyalahgunakan wewenangnya melainkan juga memperbaiki sikapnya di lapangan saat menghadapi publik. Kita tidak ingin lagi mendengar istilah Priiit Jigo, atau kesan menangkap tersalah jika sedang butuh uang kopi, melanggar rambu-rambu LL mentang-mentang polisi dan seterusnya. Kita semua menginginkan polisi yang benar-benar mampu melindungi dan melayani masyarakat seperti yang telah ditulis dalam spanduk-spanduk di kantor polisi itu.(Amir Santoso, Gurubesar FISIP UI; Rektor Universitas Jayabaya)

 
Baca Komentar Beri Komentar
Kirimkan Artikel Cetak Artikel
 
 
Hitam Putih Orde Baru
Masih Relevankah Ideologi Partai?
Syair Kalau Hanya Sekedar
Bersahabat dengan Tuhan
Haus Kekuasaa