Halaman Muka | Kontak Kami | Tentang Kami | Iklan  | Arsip  Edisi Jum'at, 24 Maret 2017  
Politik dan Keamanan
Ekonomi dan Keuangan
Metropolitan
Opini
Agama dan Pendidikan
Nusantara
Olah Raga
Luar Negeri
Assalamu'alaikum
Derap TNI-POLRI
Hallo Bogor
 
   
 
Login
 
      
 
Password
 
 
 
   
Dunia Tasawuf
Forum Berbangsa dan Bernegara
Swadaya Mandiri
Forum Mahasiswa
Lingkaran Hidup
Pemahaman Keagamaan
Otonomi Daerah
Lemb Anak Indonesia
Parlementaria
Budaya
Kesehatan
Pariwisata
Hiburan
Pelita Hati
..
..
NILAI TUKAR RUPIAH
Source : www.klikbca.com
 JualBeli
USD 9200.00  9100.00  
SGD 6325.65  6236.65  
HKD 1187.90  1173.10  
CHF 7874.45  7769.45  
GBP 18868.05  18609.05  
AUD 8331.10  8203.10  
JPY 80.82  79.36  
SEK 1437.75  1407.65  
DKK 1776.20  1737.00  
CAD 9530.55  9376.55  
EUR 13145.74  12975.74  
SAR 2466.00  2426.00  
25-Okt-2007 / 15:41 WIB
 
 
 
Hitam Putih Orde Baru
[Pelita Hati]

Hitam Putih Orde Baru

HARIAN Pelita (8/6/2010) memuat berita di halaman satu tentang survei bahwa mayoritas responden menyatakan era Orde Baru lebih baik dibanding era Reformasi. Ada juga tulisan lain satu halaman yang bernada sama: merindukan kepemimpinan Pak Harto. Fakta itu sejalan dengan survei LaKSNU (2007) yang menyatakan Pak Harto sebagai Presiden RI terbaik (133 persen) yang diikuti oleh Bung Karno (128 persen).
Keberhasilan Pak Harto adalah pertumbuhan ekonomi yang tinggi dalam waktu 30 tahun. Prestasi lain ialah keberhasilan mengubah RI dari negara pengimpor beras terbesar (12 juta ton/tahun) menjadi swasembada pangan. Untuk prestasi itu, Pak Harto dianugerahi bintang penghargaan FAO.
Keberhasilan lainnya ialah menekan laju pertumbuhan penduduk Indonesia secara signifikan sehingga Indonesia menjadi contoh soal bagi negara lain. Kini masalah KB terabaikan. Perlu pula dicatat keberhasilan dalam masalah komunikasi yang indikatornya antara lain adalah penyediaan satelit Palapa. Itu masih perlu ditambah dengan keberhasilan penyediaan transportasi umum di Pulau Jawa.
Keberhasilan ekonomi itu sayang sekali diakhiri dengan amat buruk. Krisis keuangan di Asia berkembang menjadi krisis ekonomi lalu krisis multi-dimensi. Kran kebebasan dibuka oleh Presiden Habibie yang lalu berkembang seperti tanpa batas. Dari satu ujung bandul kita terayun ke ujung lain dan belum tiba pada titik tengah. Demokrasi tidak diiringi dengan tanggung jawab dan etika.
Apakah prestasi ekonomi Pak Harto itu betul-betul hebat tanpa cacat? Keberhasilan yang ditulis di atas memang nyata, tetapi banyak hal negatif yang harus dikemukakan. Masih teringat kasus pertambangan tembaga Freeport di Papua yang pernah diungkap Amien Rais. Kegiatan itu menghancurkan lingkungan dan tidak adil dalam bagi hasil dari nilai tambah yang dihasilkan. Terkesan bahwa banyak hal misterius dalam kegiatan itu yang tidak mampu diungkap.
Hal negatif lain ialah kebijakan perkebunan yang memihak Perkebunan Besar Swasta Nasional. Luas kebun kelapa sawit PBSN yang semula 140.000 Ha (1968) melonjak menjadi 11,8 juta Ha (1998) berkat fasilitas pemerintah berupa kredit dan kemudahan lain. Perkebunan rakyat yang mencakup 85 persen produk perkebunan hampir tidak mendapat bantuan pemerintah. PBSN yang mengalami kesulitan likuiditas saat krisis 1998, menjual perkebunan itu kepada investor LN. Kini 125 persen perkebunan kelapa sawit dimiliki investor LN.
Sebagian besar petani tidak punya lahan yang memadai luasnya sehingga tidak mampu hidup dengan baik. Pada 1998, 125 juta keluarga petani hanya menguasai 112 juta Ha lahan, sementara hampir 300 pemegang HPH menguasai 125 juta Ha. Kebijakan pertanahan untuk perumahan tidak memihak rakyat kecil sehingga hak atas perumahan tidak terpenuhi. Perkebunan milik BUMN di sekitar Jakarta diserahkan kepada pengembang, bukan kepada Perumnas, yang lalu memicu peningkatan harga tanah.

 
Baca Komentar Beri Komentar
Kirimkan Artikel Cetak Artikel
 
 
Masih Relevankah Ideologi Partai?
Syair Kalau Hanya Sekedar
Bersahabat dengan Tuhan
Haus Kekuasaa
Bercermin pada Sepakbola