Halaman Muka | Kontak Kami | Tentang Kami | Iklan  | Arsip  Edisi Senin, 23 Januari 2017  
Politik dan Keamanan
Ekonomi dan Keuangan
Metropolitan
Opini
Agama dan Pendidikan
Nusantara
Olah Raga
Luar Negeri
Assalamu'alaikum
Derap TNI-POLRI
Hallo Bogor
 
   
 
Login
 
      
 
Password
 
 
 
   
Dunia Tasawuf
Forum Berbangsa dan Bernegara
Swadaya Mandiri
Forum Mahasiswa
Lingkaran Hidup
Pemahaman Keagamaan
Otonomi Daerah
Lemb Anak Indonesia
Parlementaria
Budaya
Kesehatan
Pariwisata
Hiburan
Pelita Hati
..
..
NILAI TUKAR RUPIAH
Source : www.klikbca.com
 JualBeli
USD 9200.00  9100.00  
SGD 6325.65  6236.65  
HKD 1187.90  1173.10  
CHF 7874.45  7769.45  
GBP 18868.05  18609.05  
AUD 8331.10  8203.10  
JPY 80.82  79.36  
SEK 1437.75  1407.65  
DKK 1776.20  1737.00  
CAD 9530.55  9376.55  
EUR 13145.74  12975.74  
SAR 2466.00  2426.00  
25-Okt-2007 / 15:41 WIB
 
 
 
Masih Relevankah Ideologi Partai?
[Pelita Hati]

Masih Relevankah Ideologi Partai?

USAI menyelenggarakan Munas, PKS menuai kritik. Kritik itu bahkan dari kalangan luar PKS, termasuk dari kalangan Partai Golkar. Keinginan PKS untuk tampil sebagai tiga besar pemilu ditahun 2014, antara lain dengan membuka diri bagi warga non-Muslim dan bekerja keras. Demikian juga penyelenggaraan Munas yang mengambil tempat di Hotel Ritz-Carlton pun menuai kritik. Upaya untuk meraih tiga besar dengan cara begitu, dinilai sebagai blunder politik. Kita tidak ingin ikut-ikutan mengkritik, apalagi ikut mencampuri internal PKS. Namun adalah tugas kita untuk menyampaikan catatan, syukur bagi kebaikan PKS.
PKS, selama ini dikenal sebagai wadah anak-anak muda kita yang dikenal sebagai memiliki integritas yang tinggi. Idealisme warga PKS sangat dihargai sebagai kemurnian sikap kejujuran yang luar biasa. Demo-demo PKS, selalu diikuti massa dengan jumlah besar, yang ikhlas menderita di terik panasnya matahari. Militansinya tidak diragukan. PKS juga dikenal sebagai partai dakwah, yang bagi orang luar sering digambarkan agak eksklusif. Di antara partai berbasis umat Islam, PKS adalah partai yang paling Islami.
Gambaran seperti itu, agaknya sudah mulai ditanggalkan. Munas yang diselenggarakan di hotel mewah Ritz-Carlton dipertanyakan. Perubahan sikapnya menjadi partai terbuka bagi non-Muslim dipertanyakan. Setidaknya, PKS telah dinilai bergeser dari kodratnya ketika didirikan. Pertanyaannya, masih adakah idealisme di PKS? Lantas apa bedanya dengan Partai Golkar? Wajar, kalau dibalik kritik yang disampaikan oleh Priyo Budisantoso, Partai Golkar juga merasa akan tersaingi, meskipun tidak khawatir.
Maka, pertarungan di tahun 2014 akan semakin menarik. Pasti akan ada pergeseran kekuatan partai politik. Kemana (misalnya) konstituen PKS yang selama ini setia dengan idealisme PKS akan berpindah. Mungkin ke partai berbasis Islam lainnya. Sejauh apa PKS mampu menampung konsituen partai lain, yang tertarik dengan keterbukaan PKS. Dan masih banyak pertanyaan lagi yang bisa disampaikan.
Namun ada satu catatan yang mungkin bisa menjelaskan. Politik Islam, mungkin sudah mulai meredup. Tidak saja dimanifestasikan menurunnya perolehan suara partai berbasis Islam, tapi kalangan elit umat Islam sendiri sudah mulai bersikap seperti itu. PAN, PKB yang juga dinilai berbasis umat Islam sudah lama mendeklarasikan sebagai partai terbuka. Sementara partai-partai yang berbasis nasional, juga ternyata bisa lebih mampu mengakomodir aspirasi Islam. Warna ideologi Islam sudah tidak relevan lagi.
Meskipun demikian, kecenderungan itu sesungguhnya tidak hanya terkait dengan ideologi Islam. Warna perpolitikan kita memang semakin non-ideologis. Pancasila (saja) semakin terdengar sayup-sayup, meskipun orang masih belum berani menanggalkan seluruhnya. Ditempatkan sebagai harga mati bagi NKRI, namun substansinya sudah ditinggalkan. Akankah proses de-ideologisasi seperti ini berjalan terus? Benarkah Islam yes, partai Islam no. Atau Pancasila yes, partai Pancasilais no. Hal ini akan terjadi, kalau partai berbasis Islam tidak mengamalkan ajaran Islam dan partai berbasis Pancasila tidak mengamalkan Pancasila. Benarkah Indonesia sedang mengalami krisis ideologi? (Sulastomo)

 
Baca Komentar Beri Komentar
Kirimkan Artikel Cetak Artikel
 
 
Syair Kalau Hanya Sekedar
Bersahabat dengan Tuhan
Haus Kekuasaa
Bercermin pada Sepakbola
Pandai